Kaitan Antara Tingkat Inflasi, Tingkat Suku Bunga Dengan Nilai Tukar Jika Dihubungkan Dengan Aspek Country Risk

Jika dalam suatu Negara tengah mengalami tingkat inflasi yang tinggi dimana jumlah uang beredar relatif lebih banyak dibandingkan dengan jumlah barang, pemerintah akan berusaha mengatasi hal tersebut dengan meningkatkan tingkat suku bunga. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat lebih memilih untuk menyimpan uang mereka di bank dari pada mengkonsumsinya. Sehingga tigkat permintaan atau konsumsi barang atau jasa dapat menurun . Hal ini dapat berdampak pada keseimbangan jumlah barang dan jumlah uang beredar sehingga dapat kembali pada keadaan equilibrium atau keseimbangan semula.

Negara yang inflasinya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Negara lain maka mata uangnya akan cenderung melemah (relative inflation rate). Hal ini terkait dengan aspek purchasing power parity. Dimana ketika inflasi meningkat maka purchasing power parity akan menurun. Teori Paritas Daya Beli (Purchasing Power Parity Theory = PPPT) digunakan untuk menganalisa pengaruh inflasi antara dua negara terhadap kurs valas. Variabel-variabel yang digunakan dalam PPPT adalah perubahan kurs spot dalam persentase dan perbedaan laju inflasi antar dua -negara. Menurut PPPT, kurs spot suatu valas akan berubah sebagai reaksi terhadap inflasi. Ketika harga produk dalam negeri mengalami peningkatan maka masyarakat akan cenderung untuk mencari alternatif tawaran dari Negara lain yang lebih murah. Akibatnya kurs mata uang dalam negeri akan melemah seiring dengan penurunan permintaan akan mata uang dalam negeri. Permintaan mata uang asing akan meningkat seiring dengan peningkatan produk dari Negara lain. Itulah sebabnya mengapa Negara yang inflasinya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Negara lain maka nilai mata uangnya akan cenderung melemah.

Sedangkan hubungan antara tingkat suku bunga dan nilai tukar adalah sebagai berikut. Negara dengan tingkat suku bunga yang relatif lebih tinggi maka nilai mata uangnya akan cenderung menguat. Hal ini terkait dengan penyimpanan uang. Jika suatu Negara memiliki interest rate yang lebih tinggi maka masyarakat akan cenderung lebih tertarik untuk menyimpan uangnya di Negara tersebut. Terdapat dua pendekatan dalam meganalisis relative interest rate terhadap nilai tukar mata uang, yakni International rate parity dan International Fisher Effect

Dengan menggunakan teori paritas suku bunga dapat diketahui hubungan antara bursa valas dan pasar uang internasional Interest Rate Pariety Theory (IRPT) paling banyak digunakan dalam literatur keuangan internasional yang menyatakan bahwa perbedaan tingkat suku bunga pada pasar keuangan internasional mempunyai kecenderungan yang sama dengan forward rate premium atau forward rate discount. IRPT menekankan pada perbedaan antara kurs forward dan kurs spot yang tercermin dari perbedaan tingkat suku bunga antara dua negara. Kurs forward mata uang suatu negara yang mengandung premi ditentukan oleh perbedaan tingkat suku bunga antar negara. Akibatnya arbitrase suku bunga yang ditutup akan lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan suku bunga domestik. Variabel yang digunakan pada IRPT adalah premi forward dan perbedaan suku bunga antar dua Negara.

IRPT memfokuskan pembahasannya pada penyebab terjadinya perbedaan antara kurs forward dengan kurs spot yang dapat mencerminkan perbedaan antara tingkat suku bunga antara dua negara dalam suatu periode tertentu. Sedangkan pada PPPT dan International Fisher Effect Theory (IFET) memfokuskan pembahasannya pada bagian kurs spot berubah sepanjang waktu. International Fisher Effect Theory memprediksikan bahwa kurs spot bergerak mengikuti perbedaan suku bunga antar negara. Dengan demikian terdapat hubungan antara International Fisher Effect Theory dengan PPPT, karena perbedaan tingkat suku bunga antar dua negara dipengaruhi oleh perbedaan tingkat inflasi antar negara

Dampak dari aspek country risk terhadap keputusan investasi ditinjau dari sisi foreign direct investment.

Country risk menunjukkan seberapa baik dan kondusif kah kondisi dan situasi suatu Negara untuk melakukan kegiatan ekonomi. Contry risk dapat ditinjau dari aspek :

a. Fiscal irresponsibility

b. Controlled exchange rate system

c. Wasteful government spending

d. Resource base

e. Country Risk and Adjustment to External Shocks

Foreign direct investment (FDI) merupakan penanaman modal asing yang direpresentasikan dalam produk riil seperti tanah, bangunan, peralatan dan teknologi. Dengan adanya FDI banyak manfaat yang diperoleh oleh Negara bersangkutan seperti pendapatan dari pajak, peningkatan ekspor, penyediaan lapangan pekerjaan, alih teknologi dan ilmu serta pendayagunaan lahan. Masuknya FDI ini biasanya dimulai dari pendirian subsidiary, atau pembelian saham mayoritas yang biasanya bergerak di bidang manufaktur, ekstraksi sumber daya alam, dan jasa. Saat ini FDI merupakan salah satu sumber pembiayaan yang penting di Indonesia. Kebutuhan mendesak untuk menarik penanaman modal asing baru, terutama penanaman modal asing yang berorientasi ekspor untuk membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tujuan setiap FDI tidaklah sama, perusahaan investor tergerak oleh berbagai ragam alasan untuk berinvestasi di luar negeri. Mereka memiliki proses pengambilan keputusan dan prioritas yang berbeda – beda saat memilih sebuah lokasi investasi. Terdapat empat jenis utama FDI yaitu pencari sumber daya, pencari pasar, pencari efesiensi dan pencari asset strategi.

Country risk memberikan dampak pada keputusan investasi, termasuk foreign direct investment. Semakin kecil atau rendah tingkat contry risk di suatu Negara maka menunjukkan kondisi yang semakin baik dan kondusif dari Negara tersebut untuk melakukan aktivitas ekonomi dan keputusan investasi. Jika country risk suatu Negara tinggi maka investor asing akan cenderung mencari Negara lain yang memiliki kondisi dan situasi yang lebih kondusif untuk melakukan investasi. Oleh karena itu sangatlah penting untuk menciptakan iklim ekonomi yang baik dan kondusif sehingga investor asing tertarik untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Purchasing Power Parity

Mungkin kita sering bertanya: kenapa harga suatu mata uang naik atau turun harganya dibandingkan dengan mata uang lainnya? Kenapa tidak dibuat sama saja? Pertanyaan diatas sering muncul umumnya bagi masyarakat awam mengenai ekonomi secara teori. Ada sebuah teori yang sangat menarik yang bernama teori purchasing power parity atau terjemahan bebasnya teori kesimbangan daya beli, selanjutnya akan disingkat PPP. Teori ini mengatakan bahwa nilai mata uang sebuah negara mencerminkan produktivitas penduduk/rakyat negara tersebut. Kita ambil contoh sederhana, misalkan untuk memproduksi sebuah gelas rakyat Indonesia membutuhkan waktu 1 bulan per orangnya. Sementara itu rakyat Amerika membutuhkan wantu 15 hari untuk memproduksi satu buah gelas. Artinya penduduk Amerika produktivitasnya adalah 2x lebih produktif dibandingkan dengan rakyat Indonesia. Pada akhirnya apabila di implentasikan pada nilai mata uang maka nilai mata uangnya adalah Rp 2 = US$ 1.
Contoh lainnya yang biasa dipakai dalam membuktikan teori ini adalah Mac Donald. Burger yang diproduksi oleh Mc Donald rasanya akan sama di seluruh dunia. Dengan besar yang sama, bumbu yang sama, berat yang sama, dan standar pada lay out penjualannya. Apabila harga sebuah burger Mc D di Amerika adalah 1 USD dan harga burger Mc D yang sama di Indonesia adalah Rp 8000 maka perbadingan harga mata uang rupiah dibandingan dolar Amerika adalah 1 USD = Rp 8000. Kalau perhitungan lebih rumit biasayan yang diambil adalah data dari SITC Yaitu index dari barang – barang yg diperdagangkan secara internasional.
Menurut teori ini harga jasa termasuk didalamnya, nah ini menjadi menarik karena harga jasa di Indonesia jauh lebih murah dibandingkan dengan harga jasa di Amerika. Jasa ini didalamnya termasuk biaya tenaga kerja, transportasi dan lain-lain. Berlakukah teori ini di Indonesia? Seandainya anda ingin tahu silahkan mencari skripsi saya di Fakultas ekonomi univ. andalas tahun 1998.
Any comment?