ANALISIS LIKUIDITAS

  1. A. LATAR BELAKANG MASALAH

Di era dunia usaha dewasa ini sudah banyak diwarnai dengan persaingan, oleh sebab itu peranan seorang manager sangat diperlukan bagi perkembangan suatu perusahaan. Saat sekarang ini diperlukan manager yang mempunyai kemampuan berkompetisi antar perusahaan, dapat melihat ketidakpastian situasi ekonomi dunia, dapat mengelola serta bisa mencari peluang bisnis yang baik yang bisa berpengaruh besar pada dan kesuksesan suatu perusahaan. Selain itu, kondisi keuangan suatu perusahaan sangatlah berpengaruh bagi kelangsungan perusahaan.

Kondisi keuangan suatu perusahaan akan diketahui melalui laporan keuangan perusahaan itu sendiri. Laporan keuangan (financial statement) memberikan penjelasan tentang keadaan finansial suatu perusahaan, dimana neraca (balance sheet) mencerminkan nilai aktiva, utang, modal sendiri sendiri pada suatu saat tertentu dan laporan laba rugi (income statement) mencerminkan hasil-hasil yang dicapai selama suatu periode tertentu.

(Bambang riyanto 2001:327)

Laporan keuangan dimaksudkan untuk memberikan informasi keuangan perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Pemilik perusahaan sangat berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaannya.

Dengan mengetahui posisi keuangan perusahaannya, manager perusahaan akan dapat menyusun rencana yang lebih baik, memperbaiki sistem pengawasannya dan menentukan kebijakan-kebijakan yang lebih tepat dan baik bagi perusahaan. Namun yang lebih penting bagi manager adalah laporan tersebut merupakan alat pertanggungjawaban di perusahaan.

Kreditor, sebelum mengambil keputusan untuk memberi atau menolak permintaan kredit dari suatu perusahaan, perlu mengetahui terlebih dahulu posisi keuangan dari perusahaan yang bersangkutan. Keadaan keuangan perusahaan peminta kredit akan dapat diketahui melalui pengananlisaan laporan keuangan perusahaan tersebut. Investor sangat memerlukan laporan keuangan dimana mereka menanamkan modalnya. Investor berkepentingan terhadap prospek keuntungan dan perkembangan perusahaan tersebut. Selanjutnya untuk mengetahui jaminan investasi dan mengetahui kondisi kerja atau kondisi keuangan jangka pendek perusahaan tersebut.

Pemerintah dimana prusahaan tersebut berdomisili, sangatlah berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaan, disamping untuk menentukan besarnya pajak yang harus ditanggung oleh suatu perusahaan juga diperlukan oleh biro pusat statistik, dinas perindustrian, perdagangan dan tenaga kerja untuk dasar perncanaaan pemerintah.

Untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan, harus selalu memeriksa kesehatan keuangan dari suatu perusahaan, salah satu alat yang biasanya digunakan dalam pemeriksaan keuangan adalah analisis rasio.

Analisis rasio keuangan merupakan teknik mengetahui secara cepat kinerja keuangan perusahaan. Tujuannya mengevaluasi situasi yang terjadi dewasa ini dan untuk memprediksi kondisi keuangan masa yang akan datang.

PT.Apreni Pratama Ocean Line Tbk didirikan tanggal 4 oktober 1975. Kantor pusat perusahaan berkedudukan di Wisma BSG lantai 7, Jalan Abdul Muis no 40, Jakarta pusat. Perusahaan ini merupakan perusahaan publik bergerak dalam bidang trasportasi. Perusahaan memulai produk bisnis dari kayu menyediakan jasa transportasi dengan cara log-tunggal, untuk menyediakan layanan yang efisien dan fleksibel pengiriman untuk barang curah kering, barang umum dan barang cair, serta menyediakan jasa keagenan, bongkar muat barang, penyewaan-keluar dari kapal dan jasa pengelolaan kapal.

Dalam Kegiatan PT Apreni Pratama Ocean Line. Tbk, tidak lepas dari permasalahan yaitu investasi jangka pendek yang terus meningkat dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008. Ditahun 2005 jumlah aktiva Rp. 179.057.669, tahun 2006 Rp.213.023.286.278, tahun 2007 Rp. 257.777.323.328 dan tahun 2008 Rp. 360.537.382. Namun pada tahun 2009 terjadi penurunan secara drastis, bahkan lebih kecil dari tahun 2005 yaitu Rp. 152.659.287.446.

Keadaan serupa juga terjadi pada kas dan setara kas, mengalami peningkatan ditahun 2005 sampai 2008 dan terjadi penurunan ditahun 2009. Tahun 2005 Rp. 170.375.420.369, tahun 2006 Rp 266.335.665.627, tahun 2007 Rp 438.521.472.586 dan tahun 2008 Rp 590.370.335.103 . Terjadi penurunan ditahun 2009 yaitu Rp 123.164.287.446.

Masalah lain yaitu utang usaha terjadi fluktuasi dimana tahun 2005 hutang usaha Rp. 144.551.636.331, tahun 2006 naik Rp. 311.776.438.425, ditahun berikutnya turun menjadi Rp. 81.364.483.941, 2008 naik Rp. 235.370.929.688 dan turun ditahun 2009 menjadi Rp. 173.156.680.320. hutang usaha pembelian berasal dari pihak ketiga dan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa.

Selain itu masalah lain yang juga dialami perusahaan adalah hutang jangka panjang yang jatuh tempo tidak stabil ditahun 2005 Rp. 232.909.300.610 terjadi penurunan ditahun berikutnya yaitu tahun 2006 Rp. 68.671.835.751. ditahun-tahun selanjunya terjadi peningkatan yaitu tahun 2007 Rp. 201.165.215.155,tahun 2008 Rp. 335.209.494.111 dan tahun 2009 Rp. 574.976.197.847.

Namun masalah-masalah tersebut masih perlu diteliti terutama dengan menggunakan analisis rasio likuiditas karena dengan analisis rasio likuiditas dapat mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban perusahaan dalam jangka waktu pendek atau yang segera harus dibayar dengan membandingkan rasio likuiditas dari satu periode ke periode selanjutnya selama lima tahun, dari tahun 2005 sampai tahun 2009. Ini dimaksudkan untuk dapat menyediakan informasi tentang posisi keuangan dan kinerja keuangan, meramalkan posisi dan kinerja keuangan dimasa yang akan datang apakah perusahaan dapat melunasi kewajiban-kewajibannya dalam waktu yang telah ditentukan.

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis merumuskan judul penelitian yaitu  “ Analisis Kemampuan Perusahaan Dalam Memenuhi Kewajiban Finansial pada                   PT. APRENI PRATAMA OCEAN LINE.Tbk. ”

  1. B. IDENTIFIKASI MASALAH, PEMBATASAN MASALAH DAN PERUMUSAN MASALAH
  2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar masalah yang telah dikemukakan, maka diidentifikasi masalah yaitu:

  1. Investasi jangka pendek yang terus meningkatdari tahun 2005 sampai 2008 dan terjadi penurunan drastis ditahun 2009.
  2. Keadaan kas dan setara kas pada tahun 2005 relatif lebih kecil dibandingkan tahun 2005, 2007 dan 2008.
  3. Hutang usaha yang berfluktuasi diperiode 2005 sampai tahun 2009.
    1. Hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun yang terjadi di tahun 2005 terjadi penurunan diperiode 2006 dan naik lagi ditahun 2007.
    2. Pembatasan Masalah

Mengingat masalah penelitian cukup luas sehingga penulis membatasi  pada masalah         ‘’ analisis kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansial periode lima tahun yakni periode 2005 sampai 2009 pada PT. Apreni Pratama Ocean Line. Tbk.

  1. Perumusan Masalah

Untuk lebih terarahnya penelitian ini maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut   “ Bagaimana tingkat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansial pada PT. Apreni Pratama Ocean Line Tbk.

  1. C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ialah menganalisis tingkat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansial PT. Apreni Pratama Ocean Line, Tbk.

  1. D. MANFAAT PENELITIAN

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagi penulis, diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman yang pastinya berguna diwaktu yang akan datang.
  2. Bagi perusahaan yang bersangkutan, diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi atau masukan untuk kebijakan kebijakan perusahaan pada periode-periode selanjutnya.
  1. c.    Bagi pihak-pihak lain, diharapkan hasil penelitian dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan serta menjadi referensi atau bahan masukan dalam penelitian serupa pada penelitian yang akan datang.
  1. E. TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Laporan Keuangan

Laporan keuangan pada dasarnya merupakan hasil refleksi dari sekian banyak transaksi yang terjadi dalam suatu perusahaan. Transaksi dan peristiwa yang bersifat finansial dicatat, digolongkan, dan diringkaskan dengan cara setepat-tepatnya dalam satuan uang, dan kemudian diadakan penafsiran untuk berbagai tujuan. Berbagai tindakan tersebut tidak lain adalah proses akuntansi yang pada hakikatnya merupakan seni pencatatan, pengolongan, peringkasan transaksi dan peristwa, yang setidak-tidaknya bersifat finansial, dalam cara yang tepat dan dalam bentuk rupiah dan penafsiran akan hasil-hasilnya.

Jumingan (2005:4) mengemukakan bahwa laporan keuangan hasil tindakan pembuatan ringkasan data keuangan perusahaan. Laporan keuangan ini disusun dan ditafsirkan untuk kepentingan manajemen dan pihak lain yang menaruh perhatian atau mempunyai kepentingan dengan data keuangan perusahaan.

Menurut bambang riyanto (2001:327) laporan finansial (financial statement) memberikan ikhtisar mengenai keadaan finansial suatu perusahaan, dimana neraca (balance sheet) mencerminkan nilai aktiva, utang dan modal sendiri pada suatu saat tertentu dan laporan rugi dan laba (income statement) mencerminkan hasil-hasil yang dicapai selama satu periode tertentu biasanya meliputi periode satu tahun.

j.fred Weston dan Thomas. E Copeland (1999:17) laporan keuangan atau financial statement biasanya dalam bentuk neraca dan perhitungan rugi-laba berisi informasi tentang prestasi perusahaan dimasa lampau dan dapat memberikan petunjuk untuk kebijakan.

Martono dan Agus Harjito (2005:51). Laporan keuangan (financial statement) merupakan ikhtisar mengenai keadaan keuangan suatu perusahaan  pada suatu saat tertentu. Analisis laporan keuangan merupakan analisis mengenai kondisi keuangan suatu perusahaan yang melibatkan neraca dan laba rugi.

Menurut H. Sutrisno (2005:9) laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi yang meliputi dua laporan utama yakni:  (1) neraca dan (2) laporan rugi laba. Laporan keuangan disusun dengan maksud untuk menyediakan informasi keuangan suatu perusahaan kepada    pihak – pihak yang berkepentingan sebagai bahan pertimbangan di dalam mengambil keputusan. Pihak – pihak yang berkepentingan tersebut antara lain manajemen, pemilik, kreditor, investor dan pemerintah.

Napa. J. Awat (1999:385) analisis keuangan merupakan suatu penilaian terhadap kinerja perusahaan pada waktu yang lalu dan prospek pada masa yang akan datang. Melalui analisis keuangan diharapkan kita dapat menemukan kekuatan dan kelemahan perusahaan dengan menggunakan informasi yang dikandung suatu laporan keuangan. Sebagaimana diketahui laporan keuangan adalah media informasi yang merangkum semua aktivitas perusahaan. Jika informasi ini disajikan dengan benar, informasi tersebut sangat berguna bagi siapa saja untuk mengambil keputusan tentang perusahaan yang dilaporkan tersebut. Laporan keuangan merupakan media yang paling penting untuk menilai prestasi dan kondisi ekonomis suatu perusahaan.

Konsep Analisis Rasio

Sebuah laporan keuangan yang menyajikan tentang keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan serta kemajuan-kemajuan yang telah dicapai memerlukan analisa lebih lanjut. Mengadakan analisa hubungan dari berbagai pos dalam suatu laporan keuangan adalah merupakan dasar untuk dapat menginterpretasikan kondisi keuangan dan hasil operasi suatu perusahaan. Dengan menggunakan laporan yang diperbandingkan, diperlukan berbagai rasio yang akan membantu dalam menganalisa dan menginterpretasikan posisi laporan keuangan suatu perusahaan.

Freddy Rangkuti (2005:69), analisa rasio keuangan merupakan teknik untuk mengetahui secara cepat kinerja keuangan perusahaan. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi situasi yang terjadi saat ini dan untuk memprediksi kondisi keuangan masa yang akan datang.

Bambang Riyanto (2001:330) mengelompokkan rasio finansial menjadi tiga golongan, yaitu:

  1. Rasio-rasio neraca (balance sheet ratios), ialah rasio-rasio yang disusun dari data yang berasal dari neraca, misalnya current ratio, acid-test ratio, current assets to total assets ratio dan lain sebagainya.
  2. Rasio-rasio laporan rugi laba (income statement ratios), ialah rasio-rasio yang disusun dari data yang berasal dari income statement, misalnya gross profit margin, operating ratio dan lain sebagainya.
  3. Rasio-rasio antar laporan (inter statement ratios) ialah rasio-rasio yang disusun dari data yang berasal dari neraca dan data lainnya berasal dari income statement misalnya assets turn over, inventory turn over, receivables turn over dan lain sebagainya.

Ada yang mengelompokkan rasio-rasio sebagai berikut:

  1. Rasio likuiditas adalah rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur likuiditas perusahaan.
  2. Rasio laverage adalah rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur sampai berapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan utang.
  3. Rasio-rasio aktivitas yaitu rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur sampai berapa besar efektifitas perusahaan dalam mengerjakan sumber-sumber dananya.
  4. Rasio-rasio profabilitas, yaitu rasio-rasio yang menunjukan hasil akhir dari sejumlah kebijkasanaan dan keputusan-keputusan.

H. sutrisno (2005:230), rasio keuangan diperoleh dari cara-cara menghubungkan   elemen-elemen laporan keuangan. Ada dua pengelompokkan jenis-jenis laporan keuangan, pertama rasio menurut sumber dari mana rasio dibuat dan dapat dikelompokan menjadi:

  1. Rasio-rasio neraca (balance sheet ratio)

Merupakan rasio yang menghubungkan elemen-elemen yang ada pada neraca saja.

  1. Rasio-rasio laporan rugi laba (income statement ratio)

Yaitu rasio yang menghubungkan elemen-elemen yang ada pada laporan rugi laba saja.

  1. Rasio –rasio antar laporan (inter statement ratios)

Rasio  yang menghubungkan elemen-elemen yang ada pada dua laporan, neraca dan laporan rugi laba.

Sedangkan yang kedua, jenis rasio yang menurut tujuan penggunaan rasio yang bersangkutan. Rasio-rasio ini dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Rasio likuiditas atau liquidity ratios

Rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar hutang –hutang jangka pendeknya.

  1. Rasio laverage atau laverage ratios

Rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan evektivitas perusahaan dalam memanfaatkan sumber dananya.

  1. Rasio aktivitas atau activity ratios

Yaitu rasio-rasio untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan sumber dananya.

  1. Rasio keuntungan atau profitability ratios

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam mendapatkan keuntungan.

  1. Rasio penilaian atau valuation ratios

Rasio-rasio untuk mengukur kemampuan manajemen untuk menciptakan nilai pasar agar melebihi biaya modalnya.

Lukas Setia Atmaja (1999:415). Rasio keuangan di desain untuk memperhatikan hubungan-hubungan antara item-item pada laporan keuangan (neraca dan laporan keuangan). Ada lima jenis laporan keuangan:

  1. Laverage ratios, memperhatikan berapa hutang yang digunakan perusahaan.
  2. Liquidity ratios, mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo.
  3. Efficiency atau turn over atau assets management ratios, mengukur seberapa efektif perusahaan mengelola aktivanya.
  4. Profitability value ratios, memperhatikan bagaimana perusahaan dinilai oleh investor     di pasar modal.
  5. Market value ratios, memperhatikan bagaimana perusahaan dinilai oleh investor si pasar modal.

Napa J. Awat (1999:385) dalam analisis rasio terdapat lima kelompok rasio keuangan:

  1. Rasio likuiditas

Menunjukkan kemampuan suatu perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban keuangannya dalam jangka waktu pendek atau yang segera harus dibayar.

  1. Rasio aktivitas

Menunjukan seberapa cepatnya unsur-unsur aktiva dikonversikan menjadi penjualan ataupun kas.

  1. Rasio laverage

Berusaha mengukur penjaminan hutang, baik dengan menggunakan total aktiva maupun modal sendiri.

  1. Berusaha mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba, baik dengan menggunakan seluruh aktiva yang ada maupun dengan menggunakan modal sendiri.
  2. Nilai pasar

Nilai pasar dimaksudkan adalah nilai pasar saham biasa yang ada dalam perusahaan.

Munawir (2000:64) rasio menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan (mathematical relations) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberikan gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang          di gunakan sebagai standar.

Lukman Syamsuddin (2004:39). Pada intinya ada dua cara yang dapat dilakukan didalam membandingkan rasio finansial perusahaan yaitu:

  1. Cross sectional approach adalah suatu cara mengevaluasi dengan jalan membandingkan rasio-rasio antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya yang sejenis pada saat yang bersamaan.
  2. Time series analysis, dilakukan dengan jalan membandingkan rasio-rasio finansial perusahaan dari satu periode ke periode lainnya. Pembandingan antara rasio yang dicapai saat ini dengan rasio pada masa lalu akan memperhatikan apakah perusahaan mengalami kemajuan atau kemunduran.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan didalam penggunaan rasio-rasio antara lain:

  1. Sebuah rasio saja tidak dapat digunakan untuk menilai keseluruhan operasi yang telah dilaksanakan. Untuk menilai keadaan perusahaan secara bersama-sama. Kalau sekiranya hanya satu aspek saja yang ingin dinilai, maka satu atau dua rasio saja sudah cukup digunakan.
  2. Pembandingan yang digunakan haruslah dari perusahaan sejenis pada saat yang sama.
  3. Sebaiknya perhitungan rasio finansial didasarkan pada data laporan keuangan yang sudah diaudit (diperiksa). Laporan keuangan yang beku diaudit masih diragukan kebenaranya, sehingga ratio-ratio yang telah dihitung juga kurang akurat.
  4. Adalah sangat penting untuk diperhatikan bahwa pelaporan atau akuntansi yang digunakan haruslah sama.

Konsep Ratio Likuiditas

Modal kerja dari suatu perusahaan merupakan jumlah dari aktiva lancar yang dimiliki perusahaan yang melebihi jumlah tuntutan dari pada kreditur jangka pendek, dan oleh karena itu maka perusahaan dapat bebas bekerja dengan jumlah kelebihan itu. Dengan demikian semakin besar jumlah dari modal kerja atau jumlah aktiva-aktiva lancar maka jumlah modal kerja itu merupakan suatu ukuran dari likuiditas.

Likuiditas menurut H. Sutirsno (2005:231) adalah kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajiban yang segera harus dipenuhi. Kewajiban yang segera harus dipenuhi adalah hutang janga pendek, oleh karena itu rasio ini bisa digunakan untuk mengukur apakah operasi perusahaan tidak akan terganggu bila kewajiban jangka pendek ini segera ditagih. Ukuran rasio likuiditas terdiri dari tiga alat ukur:

1) Current ratio

Current ratio adalah rasio yang membandingkan antara aktiva lancar yang dimiliki perusahaan dengan hutang jangka pendek. Aktiva lancar disini meliputi kas, piutang dagang, efek, persediaan dan aktiva lancar lainnya. Sedangkan hutang jangka pendek meliputi hutang dagang, hutang wesel, hutang bank, hutang gaji dan hutang lainnya yang segera harus dibayar.

Rumus current ratio:

Current ratio =

2)      Quick ratio atau acid test ratio

Quick ratio merupakan rasio antara aktiva lancar sesudah dikurangi persediaan dengan hutang lancar. Rasio ini menunjukan besarnya alat likuid yang paling capat yang bisa diguakan untuk melunasi hutang lancar. Persediaan dianggap aktiva lancar yang paling tidak lancar, sebab untuk menjadi uang tunai (kas) memerlukan dua langkah yakni menjadi piutang terlebih dahulu sebelum menjadi kas.

Rumus untuk menghitung Quick Ratio:

Quick ratio =

3) Cash ratio

Cash ratio adalah rasio yang membandingkan antara kas dan aktiva lancar yang bias segera menjadi uang kas dengan hutang lancar. Aktiva lancar yang bias segera menjadi uang kas adalah efek atau surat berharga.

Rumus untuk menghitung Cash Ratio adalah:

Cash ratio =

Munawir (2000:72) mengemukakan bahwa untuk menilai posisi keuangan jangka pendek (likuiditas) terdapat beberapa rasio yang dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisa dan menginterpretasikan data tersebut:

1) Current ratio

Current ratio yaitu perbandingan antara jumlah aktiva lancar dengan hutang lancar. Current ratio menunjukan tingkat keamanan (margin of safety) kreditor jangka pendek, atau kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutang tersebut.

2) Acid test ratio

Rasio ini juga sering disebut sebagai quick ratio yaitu perbandingan antara (aktiva-persediaan) dengan hutang lancar. Rasio ini merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban dengan tidak memperhitungkan pesediaan, karena persediaan memerlukan waktu yang relatif lama untuk direalisir menjadi uang kas, walaupun kenyataan mungkin persediaan lebih likuid dari pada piutang.

3)      Perputaran piutang

Makin tinggi rasio (turn over) menunjukan modal kerja yang ditanamkan dalam piutang rendah, sebaliknya kalau rasio semakin rendah berarti ada over investment dalam piutang sehingga memerlukan analisa lebih lanjut.

4)      Perputaran persediaan

Turn over persediaan adalah merupakan rasio antara jumlah harga pokok barang yang dijual dengan nilai rata-rata persediaan yang dimilliki oleh perusahaan.

5)      Perputaran Modal Kerja

Untuk menganalisa posisi modal kerja dapat digunakan beberapa rasio lainnya, misalnya rasio antar aktiva lancar dengan total aktiva, rasio antara tiap-tiap pos dalam aktiva lancar dan lain-lain.

Menurut Lukman Syamsudin (2004:41). Likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia, likuiditas tidak hanya berkenan dengan keseluruhan tetapi juga berkaitan dengan kemampuan untuk mengubah aktiva lancar tertentu menjadi uang kas.

Menurut James C. Van horne, Jhon M Wachowich (1997:135). Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Rasio ini membandingkan kewajiban jangka pendek dengan sumber  jangka pendek untuk memenuhi kewajiban tersebut. Rasio yang paling sering digunakan adalah rasio lancar. Semakin tinggi rasio lancar, seharusnya semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar tagihannya.

Menurut Erich A. Helfert (1996:95), likuiditas yaitu suatu cara untuk menguji proteksi yang diperoleh pemberi pinjaman berpusat pada krerdit jangka pendek yang memberikan kepada perusahaan yaitu aktiva lancar yang dapat segera dikonversikan menjadi kas, dengan asumsi-asumsi ini dapat menjadi pelindung dalam menghadapi kegagalan.

Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Pengertian lain adalah kemampuan seseorang atau perusahaan untuk memenuhi kewajiban atau utang yang harus segera dibayar dengan harta lancar.

(www.wikipedia.org)

Likuiditas (likuid) adalah kemampuan perusahaan untuk menyediakan kas (atau setara kas). Jika perhatikan pada neraca, setelah kas adalah pos-pos aktiva yang dsusun berdasarkan kemampuan aset-aset tesebut dikonversi kedalam bentuk kas. Misalnya, piutang akan diletakkan sebelum persediaan karena relatif lebih mudah menjadikan kas. Tingkat likuiditas perusahaan biasanya diukur dengan beberapa rasio, seperti rasio lancar (current ratio) dan acid test ratio. Makin tinggi rasio-rasio ini, menunjukan kemampuan perusahaan untuk menyediakan kas (terutama untuk melunasi kewajiban lancarnya) makin baik.

Likuiditas mengukur kemampuan mengubah suatu aset menjadi uang tunai dengan segera tanpa kehilangan nilai awalnya. Dengan pengertian ini maka uang tunai adalah merupakan aset yang paling likuid. Sebaliknya, property adalah termasuk dalam kategori aset yang paling tidak likuid. Sementara bentuk investasi seperti reksa dana, saham, deposito, tabungan adalah bentuk yang cukup likuid yang walaupun ketika ditukarkan segera menjadi uang tunai bisa terjadi pengurangan nilai.

(www.sinarharapan.co.id)

Sofyan Syafri Harahap (2004:301) likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. Rasio ini dapat dihitung melalui sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar atau utang lancar. Rasio lancar (current ratio) menunjukan sejauh mana aktiva lancar menutupi kewajiban-kewajiban lancarnya. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan utang lancar semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya. Rasio lancar yang lebih aman jika berada diatas 1 atau diatas 100%

Menurut Bambang Riyanto (2005:231) masalah likuiditas adalah berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi. Ukuran rasio likuiditas terdiri dari empat alat ukur:

1) Current ratio

Kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar. Aktiva lancar disini meliputi kas, piutang dagang, efek, persediaan dan aktiva lancar lainnya. Sedangkan hutang jangka pendek meliputi hutang dagang, hutang wesel, hutang bank, hutang gaji dan hutang lainnya.

Current ratio =

2) Cash ratio

Kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan.

Cash ratio =

3) Quick ratio

Kemampuan untuk membayar utang lancar yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar yang lebih likuid.

4) Working Capital To Total Assets Ratio

Likuiditas dari total aktiva dan posisi modal kerja (neto)

Working Capital To Total Assets Ratio =

  1. F. KERANGKA BERPIKIR

Suatu analisis rasio likuiditas perlu diterapkan dalam menganalisis laporan keuangan suatu perusahaan, karena laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi, sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan. Data keuangan tersebut akan lebih berarti lagi bagi pihak-pihak yang berkepentingan apabila data tersebut dibandingkan dua periode atau lebih dan analisis lebih lanjut sehingga dapat diperoleh data yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil.

Kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban financial jangka pendeknya pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia menentukan likuid tidaknya perusahaan tersebut.

Dengan menggunakan rasio likuiditas selama periode lima tahun yaitu mulai tahun 2005 sampai tahun 2009, akan memperlihatkan apakah PT. APRENI PRATAMA OCEAN LINE Tbk mengalami kemajuan atau kemunduran dalam hal kewajiban finansial jangka pendeknya, sehingga akan terlihat kinerja dari perusahaan tersebut.

  1. G. METODOLOGI PENELITIAN
    1. Metodologi penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Maksudnya penelitian yang berusaha untuk menentukan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data yang menyajikan, menganalisa dan menintepretasikannya, yang bertujuan untuk pemecahan masalah secara sistematis dan faktual. (cholid marbuko 2001)

  1. H. VARIABEL PENELITIAN

Untuk memecahkan permasalahan yang telah dikemukakan tadi maka variable-variabel yang diukur adalah:

Current ratio: –   aktiva lancar

–          Utang lancar

Cash Ratio:   –     kas

–          Efek

–          Utang lancar

Quick Ratio:  –     kas

–     efek

–     piutang

–     utang lancar

Working Capital to total assets ratio: – Aktiva lancar

– Utang lancar

– jumlah aktiva

  1. I. POPULASI DAN SAMPEL

POPULASI

Populasi adalah keseluruhan karakteristik yang diteliti yang berhubungan dengan Likuidtas. Unit populasinya adalah laporan keuangan PT. Apreni Pratama Ocean Line Tbk.

SAMPEL

Teknik pengambilan sempelnya adalah purposive sampling,yaitu laporan keuangan PT. Apreni Pratama Ocean Line Tbk pada pembukuan selama lima periode, Yakni tahun 2005, 2006, 2007, 2008, 2009.

  1. J. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Untuk memperoleh data, penulisan menggunakan teknik dokumenter, yaitu untuk mengamati keadan PT. Apreni Pratama Ocean Line Tbk khususnya berhubungan dengan variabel yang diteliti.

  1. K. TEKNIK ANALISIS DATA

Dalam teknik analisis data yang ada, maka penulisan menggunakan analisis rasio pembukuan selama empat tahun periode. Rasio yang digunakan adalah rasio likuiditas, dengan metode perhitungan sebagai berikut:

a)      Current Ratio

b)      Cash Ratio

c)      Quick Ratio

d)     Working Capital To Total Assets Ratio

( bambang riyanto 2001:332)

  1. L. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

a)      Tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan pada PT. Apreni Pratama Ocean Line Tbk

b)      Waktu penelitian

Waktu penelitian selama tiga bulan.

DAFTAR PUSTAKA

Admaja, Lukas. Manajemen Keuangan. ANDI. Yokyakarta. 1999

Harahap, Sofyan. Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2004

Munawir, s. Analisa Laporan Keuangan. Liberty. Yogyakarta. 2000.

Awat. J.Napa. Manajemen keuangan: Pendekatan Matematis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1999.

Samuel. Likuiditas, Ask A Question. http://www.e-samuel.com. Diaskes bulan febuari 2007.

Wikipedia. Pelaporan Keuangan. http://wikipedia.org. Diaskes bulan febuari 2007.

Wetson J. Brigham Eugene. Teknik Analisis Keuangan. Erlangga Jakarta. 1996