Analisis Deskripstif

Analsis deskriptif yaitu metode yang bertujuan untuk melihat sejauhmana variabel yang diteliti telah sesuai dengan tolak ukur yang telah ditetapkan. Analsis ini digunakan untuk mendeskripsikan hasil penelitian data dari variabel yang diteliti.

Analisis Altman Z-Score

Metode Altman Z-Score dengan formulasi sebagai berikut :

Z-Score : 0,717 WC/TA + 0,847 RE/TA + 3,107 EBIT/TA + 0,420 MVE/BVD + 0,998 S/TA

Keterangan

  1. WC/TA : Working Capital to Total Assets : perbandingan antara modal kerja (bersih) dan total aktiva.
  2. RE/TA : Retained Earning to Total Assets : perbandingan antara saldo laba dan total aktiva
  3. EBIT/TA : Earning Before Interest and Tax to Total Assets : perbandingan antara laba sebelum biaya bunga dan pajak dengan total aktiva.
  4. MVE/BVD: Market Value Equity to Book Value of Debt : perbandingan antara nilai pasar ekuitas dan nilai buku utang.
  5. S/TA : Sales to Total Assets : perbandingan antara penjualan dan total aktiva.

Dari model Altman Z-Score tersebut, maka kondisi perusahaan perbankan di bagi menjadi tiga kategori, yaitu :

  1. Apabila nilai Z-Score di atas 2,90 (Z-Score > 2,90) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang sehat.
  2. Apabila nilai Z-Score antara 1,20 sampai 2,90 (1,20 < Z-Score < 2,90) diklasifikasikan sebagai perusahaan berada dalam daerah kelabu (grey area). Pada kondisi ini, perusahaan mengalami masalah keuangan yang harus ditangani dengan penanganan manajemen yang tepat. Kalau terlambat dan tidak cepat penanganannya, maka perusahaan dapat mengalami kebangkrutan.
  3. Apabila nilai Z-Score di bawah 1,20 (Z-Score < 1,20) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang berpotensi bangkrut.

3.5.3 Analisis

Analisis Z-Score

Analisis Kebangkrutan Z-Score, adalah suatu alat yang digunakan untuk meramalkan tingkat kebangkrutan suatu perusahaan dengan menghitung nilai dari beberapa rasio lalu kemudian dimasukan dalam suatu persamaan diskriminan, maka berdasarkan analisis ini apabila nilai Z dari perusahaan yang diteliti lebih kecil dari 1,80 berisiko tinggi terhadap kebangkrutan, bila nilai Z berada diantara 1,81 sampai dengan 2,99 dikatakan masih memiliki resiko kebangkrutan, bila di atas nilai 2,99 atau Z > 2,99 aman dari kebangkrutan. Untuk menghitung nilai Z, terlebih dahulu kita harus menghitung lima jenis rasio keuangan, yaitu :

  1. Modal Kerja terhadap Total Aktiva (XI).
  2. Laba Ditahan terhadap Total Aktiva (X2).
  3. Laba Sebelum Bunga dan Pajak terhadap Total Aktiva (X3).
  4. Nilai Pasar Modal Sendiri terhadap Total Hutang (X4).
  5. Penjualan terhadap Total aktiva (X5).

Modal Kerja terhadap Total Aktiva

Rasio ini digunakan untuk mengukur likuiditas dengan membandingkan aktiva likuid bersih dengan total aktiva. Aktiva likuid bersih atau modal kerja didefinisikan sebagai total aktiva lancar dikurangi total kewajiban lancar. Umumnya, bila perusahaan mengalami kesulitan keuangan, modal kerja turun lebih cepat daripada total aktiva dan menyebabkan rasio ini menurun.

Laba Ditahan terhadap Total Aktiva

Rasio ini merupakan ukuran dari profitabilitas kumulatif perusahaan. Usia perusahaan dinyatakan secara implicit dalam rasio ini. Bila perusahaan mulai merugi, tentu saja nilai dari total laba ditahan dan rasio X2 akan menjadi negatif.

Laba Sebelum Bunga dan Pajak terhadap Total Aktiva

Rasio ini mengukur kemampulabaan tingkat pengembalian dari aktiva, yang dihitung dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak dengan total aktiva.

Nilai Pasar Modal Sendiri terhadap Total Hutang

Nilai modal sendiri atau nilai pasar modal sendiri yaitu jumlah saham beredar dikalikan harga pasar perlembar saham pada periode yang bersangkutan.

Penjualan terhadap Total Aktiva

Rasio ini mengukur kemampuan manajemen dalam menghadapi kondisi persaingan dan sebagai ukuran kinerja manajemen serta menunjukkan efektifitas penggunaan seluruh harta perusahaan dalam rangka menghasilkan penjualan bersih yang dapat dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam bentuk harta perusahaan.

Implikasi

Secara metodelogi penggunaan metode Altman Z-Score dapat mengidentifikasi keadaan suatu perusahaan, namun secara faktual terkadang tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi karena metode Altman itu sendiri mempunyai kelemahan tidak adanya rentang waktu yang pasti kapan kebangkrutan akan terjadi setelah hasil Z-Score diketahui lebih rendah dari standar yang ditetapkan.

  1. 1. Analisis Utilisasi Aktiva

Analisis utilisasi aktiva menghubungkan antara laba dengan aktiva. Selain itu, analisis ini juga mengukur hubungan antara input perusahaan (aktiva) dengan output perusahaan (laba). Return on Investment (ROI) digunakan untuk mengukur utilisasi aktiva (Bergevin 2002).

Ada dua level dalam menghitung besaran ROI:

  • Mengukur sampai sejauh mana dana yang digunakan perusahaan yang diwujudkan dalam bentuk aktiva mampu menghasilkan laba bersih. secara matematis menghitung ROI adalah laba bersih dibagi investasi bersih atas aktiva dibagi investasi bersih atas aktiva – dikali 100%.
  • Mengukur profit mrgin dan mengukur perputaran aktiva. profit margin digunakan untuk mengukur berapa komposisi laba dari setiap penjualan yang dilakukan (profitability). profit margin dinyatakan secara sistematis adalah laba bersih dibagi penjualan bersih (assets utilization). perputaran aktiva adalah mengukur sampai sejauh mana efektivitas penggunaan aktiva dalam mendukung penjualan. perputaran aktiva dinyatakan secara matematis adalah penjualan bersih dibagi investasi bersih atas aktiva.

Dengan menggunakan level dua dalam mengukur ROI, maka manajemen dapat melakukan improvisasi untuk dapat meningkatkan ROI. Gambar berikut ini adalah aksi manajemen dalam meningkatkan ROI (Wright 1996).

Tabel

ROI Improvement

Manajemen action                                                          Peningkatan ROI dengan cara:

(Sumber: Wright 1996)

Walaupun ROI banyak digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dan unit dalam perusahaan. tetapi untuk menghitung ROI digunakan angka-angka yang tercantum dalam laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan. oleh karena itu diperlukan pengolahan atas angka-angka dalam laporan. pengolahan pertama yang dilakukan adalah menghitung laba bersih. Laba bersih yang dimaksud disini adalah laba operasi bersih setelah dikurangi pajak tetapi sebelum dikurangi beban bunga atau disebut NOPAT (Net Operating Profit After Tax). Yang termasuk NOPAT adalah laba usaha, penghasilan bunga, beban pajak penghasilan, perlindungan pajak atas beban bunga, bagian laba atau rugi perusahaan asosiasi, laba/rugi kurs, dan laba/rugi lain yang terkait dengan operasional perusahaan. Perhitungan NOPAT tidak mengikutsertakan faktor non operasional, seperti laba/rugi atas penjualan aktiva tetap, Penghentian usaha dan penjualan investasi. Beberapa perkiraan dalam laba/rugi lain-lain sama sekali tidak berhubungan dengan kegiatan operasional rutin perusahaan dan tidak ada keterangan jelas dalam catatan laporan keuangan, tidak didikutsertakan dalam perhitungan  NOPAT ( Asep dan Tim Mark Plus: 2002). Angka aktiva yang didapat dari neraca standar juga direvisi.

Aktiva dalam bahasa keuangan adalah wujud investasi dari dana yang diperoleh perusahaan. Angka aktiva seyogyanya direvisi dengan angka dimana aktiva tersebut benar-benar dibiayai oleh dana yang memiliki kandungan biaya penggunaan dana. Artinya, apabila piutang atau persediaan yang ada pada sisi aktiva yang didanai oleh hutang dagang atau hutang karena accrual basis dan hutang tersebut tidak membutuhkan biaya penggunaan dana maka angka piutang maupun persediaan harus dikurangi dengan hutang yang tidak mengandung biaya penggunaan dana. Dengan demikian semua angka yang tercantum dalam aktiva dibiayai oleh sumber dana yang mengandung konsekuensi biaya penggunaan dana. Selisih antara aktiva lancar selalin kas dikurangi dengan hutang lancar yang tidak mengandung biaya penggunaan dana disebut kebutuhan modal kerja bersih. Besaran investasi yang tercantum dalam aktiva dan pembiayaan yang mengandung biaya penggunaan disajikan dalam neraca manajerial pada Gambar berikut :

Neraca Manajerial
Aktiva atau wujud investasi Dana yang dipakai
Kas Pembiayaan jangka pendek
Kebutuhan modal kerja bersih Pembiayaan jangka panjang
Aktiva tetap bersih Modal

(Sumber: Hawawini and Viallete 2000)

Berdasarkan neraca manajerial kita dapat menghitung tingkat pengembalian atas investasi dana yang dipakai yang disebut Return On Invested Capital (ROIC). Return On Invested Capital mengukur real cash pada cash return. Sebenarnya ROIC adalah Return On Equity (ROE) yang dikembangkan. ROE menggunakan net assets sebagai pembilang dalam perhitungannya. masalahnnya, sesuai dengan GAAP (Generally Accepted Accounting Principles) kewajiban tertentu mengurangi sumberdaya yang dicantumkan dalam perhitungan ROE sehingga kewajiban tersebut tidak boleh dihitung sebagai pengurang pada capital working untuk keuntungan pemegang saham. Tetapi sebagai tambahan modal yang digunakan oleh pemegang saham (Wettlaufer 2003).