BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. LATAR BELAKANG MASALAH

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal sebagai tempat siswa belajar dan di mana guru melaksanakan tugas mengajar. Dalam proses pembelajaran kimia di SMA pada umumnya, konsep Kimia merupakan pelajaran yang sulit untuk dipahami sehingga hasil belajar Kimia belum mencapai hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan, dalam hal ini yaitu kompetensi dasar Kimia, yang disebabkan kurangnya motivasi dan minat siswa untuk mempelajari Kimia sehingga siswa tidak aktif, kreatif dan produktif. Terdapat anggapan dari beberapa siswa bahwa keterkaitan antara pembelajaran Kimia dengan dunia nyata yakni kehidupan sehari-hari siswa sangat kurang. Pada umumnya siswa tidak dapat menghubungkan antara materi yang dipelajari dengan manfaat dari pelajaran tersebut.

Banyak perubahan yang dilakukan pemerintah maupun para ahli pendidikan untuk mencapai hasil belajar Kimia yang lebih baik. Seiring dengan perubahan paradigma pendidikan terhadap hakikat mengajar kimia, sudah sewajarnyalah apabila masalah hakikat mengajar ini memperoleh perhatian penuh dari pemerintah maupun para ahli pendidikan dengan menguji cobakan berbagai strategi pembelajaran kimia yang dominan diterapkanoleh guru kimia saat ini adalah diwarnai oleh prinsip-prinsip kontruktivistik.

Beberapa pendekatan dan teknik pembelajaran tersebut telah direkomendasikan oleh pakar pendidikan sains/kimia berdasarkan hasil-hasil riset penelitian sains/kimia. Yang merupakan salah satu strategi pembelajaran tersebut yaitu siklus belajar ( learning cycle) oleh Bybee, 1997. Suatu konsep pembelajaran yang memungkinkan perlu adanya menemukan sendiri konsep yang dipelajari. Untuk mencegah terjadinya kesalahan konsep dan memberikan peluang kepada siswa untuk menerapkan konsep yang telah dipelajari pada situasi baru yaitu siklus belajar.

Dari perkembangan siklus belajar saat ini maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian penerapan siklus belajar “model 7e” guna meningkatkan kualitas pembelajaran kimia di SMA.

  1. B. IDENTIFIKASI MASALAH
    1. Apakah dengan penerapan siklus belajar “model 7e” dapat meningkatkan motivasi dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran?
    2. Apakah pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa secara langsung mengalami proses pemerolehan konsep?.
    3. Apakah dengan motivasi yang tinggi dari siswa dapat  terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran?

C.  PEMBATASAN MASALAH

Dari identifikasi masalah maka masalah dapat dibatasi yaitu “Apakah dengan penerapan siklus belajar “model 7e” dapat meningkatkan motivasi dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran”.


  1. C. RUMUSAN MASALAH

Rendahnya nilai hasil belajar siswa pada mata pelajaran Kimia di SMA disebabkan karena siswa beranggapan bahwa pelajaran Kimia sulit untuk dipelajari.

Dari rendahnya nilai hasil belajar siswa tersebut sehingga guru harus mampu untuk memilih dan menerapkan metode mengajar yang sesuai untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk mengatasi masalah ini dapat dirumuskan “Apakah dengan penerapan siklus belajar “model 7e” dalam pembelajaran sel elektrolisis dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII IPA di SMA Kr. YPKM Manado?”

  1. F. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan siklus belajar “model 7e” di kelas XII IPA di SMA Kr.YPKM Manado.

  1. G. MANFAAT PENELITIAN

Dari penerapan siklus belajar “model 7e” diharapkan bahwa penelitian ini :

  1. Dapat meningkatkan motivasi siswa karena memberi kesempatan kepada siswa tersebut secara aktif dalam proses pembelajaran.
  2. Siswa dapat mengalami proses pengembangan sikap ilmiah konsep dan memahami aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Mendorong guru untuk lebih kreatif dalam merencanakan kegiatan belajar mengajar kimia.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A. KAJIAN TEORI
    1. 1. Siklus Belajar “Model 7e”

a)      Kaitan konstruktivisme dengan siklus belajar “model 7e”

Pada dasarnya salah satu sasaran pembelajaran adalah membangun gagasan saintifik setelah peserta didik berinteraksi dengan lingkungan, peristiwa, dan informasi dari sekitarnya. Pandangan konstruktivisme   sebagai filosofi pendidikan mutakhir menganggap semua peserta didik mulai dari usia TK sampai dengan Perguruan Tinggi memiliki gagasan atau pengetahuan sendiri tentang lingkungan dan peristiwa atau gejala alam. sekitarnya, meskipun gagasan ini kadang-kadang salah. Mereka senantiasa mempertahankan gagasan atau pengetahuan secara kokoh sebagai suatu kebenaran. Hal ini berlangsung karena gagasan atau pengetahuan yang dimiliki peserta didik ini terkait dengan pengetahuan awal yang sudah terbangun dalam, wujud “schemata” (struktur kognitif) dalam benak siswa. Brooks dan Leinhardt dalam Iskandar (2001) menyatakan bahwa esensi dari teori konstruktivisme   adalah siswa harus secara individual menemukan dan mentransfer informasi-informasi kompleks apabila mereka harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri. Belajar menurut teori ini adalah membangun pengetahuan dari kegiatan, refleksi, dan interpretasi serut pemahaman oleh seseorang sesuai dengan skemata yang dimilikinya.

Para ahli pendidikan berpendapat bahwa inti kegiatan pendidikan adalah memulai pelajaran dari apa yang diketahui siswa. Guru tidak dapat mendoktrinasi gagasan saintifik supaya peserta didik mampu mengganti dan memodifikasi gagasannya yang non saintifik menjadi gagasan atau pengetahuan saintifik. Dengan demikian, arsitek perubah gagasan peserta didik adalah peserta didik itu sendiri. Guru hanya berperan sebagi fasilitator penyedia “kondisi” supaya proses belajar untuk memperoleh konsep yang benar dapat berlangsung dengan benar.

Menurut Mulyati (2003), belajar berdasarkan paham konstruktivisme   adalah :

  1. Suatu proses dimana pengetahuan diperoleh dengan jalan mengaitkan informasi baru kepada pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge) secara individual.
  2. Pengetahuan baru yang beragam tergantung pada bagaimana pengetahuan itu diperoleh.
  3. Internalisasi dari suatu pengetahuan terjadi bila seseorang menangkap informasi baru, dikaitkan dengan pengetahuan yang lama tidak cocok, terjadi miskonsepsi, suatu kondisi disequilibrium.
  4. Belajar merupakan konteks, sosial yang menstimulasi untuk mendapatkan kejelasan.
  5. Berbahasa memberi dorongan orang untuk berpikir.

Dalam penerapan pembelajaran yang berorientasi pada teori konstruktivisme   guru banyak bertanya dan memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan atau mendemonstrasikan perbendaharaan pengetahuannya. Pertanyaan-pertanyaan yang disusun oleh guru hendaknya sesedikit mungkin menuntut para siswa untuk menghafal. Carr, Yonasen, Litzinger, dan Marra (Iskandar, 2001) menyatakan pendekatan konstruktivisme   dalam pembelajaran lebih menjanjikan sebab:

1)      Lebih memotivasi siswa dalam belajar sebab terfokus kepada siswa.

2)      Mendorong siswa berpikir kritis.

3)      Memungkinkan penggunaan gaya belajar yang berbeda-beda sebagai akibat dari fokus perhatian kepada siswa secara individual.

4)      Mendorong siswa mencari informasi secara alami dan mandiri.

Pandangan konstruktivisme   tidak merekombenasikan model pembelajaran yang khusus. Akan tetapi, strategi pembelajaran yang muncul mencerminkan pandangan ini selalu menekankan peran guru sebagai fasilitator belajar dan siswa, sebagai pebelajar yang aktif (student-centered).

Sebagaimana juga Rahayu (2002) mengatakan, dalam pembelajaran konstriktivistik ada lima unsur dasar yang melandasinya, yaitu . a) mengaktifkan pengetahuan awal; b) memperoleh pengetahuan; c) memahami pengetahuan ; d) menggunakan pengetahuan; e) merefleksikan pengetahuan.

b)      Pengertian dan perkembangan siklus belajar “model 7e”

Siklus belajar merupakan  model pembelajaran kontruktivisme yang di kembangkan oleh  Robert Karplus dan Curikulum Improvenment Study (SCIS) dari Universitas California, Berkeley tahun 1970-an (Rahayu,2001 : 277). Pada awalnya model ini memilih tiga fase  yaitu Exploitation (mengidentifikasi), Invention (menemukan) dan Discovery (penemuanm kembali), yang kemudian istilahnya diganti dengan Exploration (mejelajahi), Concept Introduction (pengenalan konsep) Concept Aplikation  (mengaplikasi konsep). Walaupun istilah ini digunakan untuk ketiga fase ini berbeda akan tetapi tujuan dan pedagoginya masih tetap sama. Model tersebut selanjutnya dikembangkan dan dirinci lagi menjadi lima fase yang dikenal denga sebutan model 5e yaitu Engage (invitasi), Exploration (menjelajahi/menyelidiki), Explanation (penjelasan), Elaboration (pengembangan) dan Evaluation (evaluasi). Setiap fase memiliki fungsi khusus yang dimaksudkan untuk menyumbang proses belajar dikaitkan dengan asumsi tentang aktivitas mental dan fisik siswa serta strategi yang digunakan guru.

Dewasa ini perkembangan siklus belajar model 5e menjadi “model 7e” yang menekankan transfer pembelajaran dari pengetahuan awal.  Kadang-kadang model pembelajaran harus dapat diubah untuk mempertahankan nilai setelah informasi baru, wawasan baru dan pengetahuan yang baru disusun. Dengan kesuksesan siklus belajar model 5e dan instruksional (Bybee, 1997) yang meneliti tentang bagaimana orang belajar dari penelitian mendengar dan mengembangkan kurikulum yang menuntut bahwa model 5e dapat dipeluas lagi menjadi “model 7e”. Dari siklus belajar model 5e ini dimana fase angage berkembang menjadi dua yaitu angage dan elicit. Demikian juga halnya pada fase elaborate dan evaluate berkembang menjadi tiga yaitu elaborate, extend dan evaluate. Sehingga pada ‘‘model 7e”  ini didapatkan angage, elicit, explore, explain, elaborate, extend dan evaluate. Perubahan ini tidak untuk mempersulit tetapi untuk memastikan bahwa guru tidak mengabaikan fase penting dalam  pembelajaran.

Dalam ilmu pengetahuan kognitif menunjukkan bahwa  menemukan merupakan fase penting dari proses pembelajaran di tunjukkan bahwa siswa yang pintar adalah ahli dalam mentransfer pelajaran daripada siswa yang baru belajar (Bransfort, Brown and Cocking, 2000). Fase angage pada model 5e dimaksudkan untuk menarik perhatian siswa dengan mengajukan pertanyaan dan menemukan pola pikir siswa serta mengakses pengetahuan awal. Pada “model 7e” fase ini guru mengakses pengetahuan siswa dan membangkitkan antusias siswa. Guru membangkitkan gairah belajar siswa untuk tertarik dan siap untuk belajar. Setelah mengetahui pengetahuan awal siswa maka guru mengajukan pertanyaan mengenai konsep yang akan dipelajari, kemudian guru untuk menemukan pengetahuan yang sebenarnya mengenai konsep yang akan dipelajari. Pada fase elicit ini siswa menemukan pengetahuan untuk memastikan apakah siswa sudah mengetahui pelajaran yang akan dipelajari. Perluasan model 5e ini angage menjadi engage dan elicit bukanlah untuk mengubah fase engage menjadi elicit melainkan fase elicit bertujuan untuk melanjutkan, merangsang dan membuat siswa tertarik pada pelajaran yang akan dipelajari. Fase elicit haruslah berdiri sendiri karena fase ini penting pada siklus belajar. Fase explore (menjelajahi) pada siklus belajar memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengobservasi, mengisolasi variabel, merencanakan penyelidikan menginterpretasikan hasil dan mengembangkan hipotesa dan mengorganisir kesimpulan. Guru dapat mengarahkan dan memberikan pengaruh umpan balik dan menilai pemahaman yang mereka temukan benar, separuh benar atau salah. Fase explain dimana siswa menjelaskan dan meringkas hasil yang diperoleh dan membedakan konsep yang mereka ketahui dengan hasil eksplorasi yang ditemukan. Pada fase elaborate siswa diberikan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan yang baru mereka temukan. Alam hal ini siswa dapat membangkitkan pertanyaan baru untuk mengetahui penyelidikan selanjutnya. Pada fase elaborate terdapat transfer pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya penambahan fase ini yaitu fase extend  dimana siswa mengembangkan hasil elaborate dan menyampaikannya kembali untuk melatih siswa bagaimana mentransfer pelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Pada fase evaluate merupakan siklus lanjutan untuk mengevaluasi pengetahuan siswa. Dalam hal ini siswa juga diminta untuk menyimpulkan hasil eksperimen yang telah dilakukan sebagai bagian penilaian mereka (Colburn and Clough,1997). Kemudian kembali ke fase elicit yang merupakan suatu evaluasi formatif  dimana guru menilai kegiatan selama eksplorasi dan explanasi.

Dengan “model 7e” ini guru dapat memperoleh pemahaman baru dengan memberikan kesempatan siswa mentransfer pelajaran. Yang merupakan tujuan dari siklus belajar “model 7e” yaitu untuk menekankan pentingnya peningkatan pengetahuan dan pengembangan konsep yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Dan pada fase elicit guru menemukan bahwa pengetahuan siswa berbeda dengan pengembangan konsep yang dimaksudkan.

Tahap VII

Mengevaluasi pengetahuan yang ditemukan siswa

Tahap VI: Untuk

Meyampaikan  pengembangan konsep yang ditemukan

Tahap I: Untuk

Mengidentifikasi pengetahuan awal siswa

Tahap V: Untuk

Menerapkan pemahaman yang dikembangkan yang dalam konsep berbeda.

Tahap II: Untuk

Menemukan dan mengidentifikasi konsep

Tahap IV: Untuk

Menjelaskan pemahaman konsep yang baru.

Lawson (1988) dalam Dahar mengemukakan tiga macam siklus belajar yaitu menjelaskan keadaan : deskriptif, empiris-induktif, dan hipotesis-deduktif. Dalam siklus belajar deskriptif para siswa menemukan dan memberikan suatu pola empiris dalam suatu konteks khusus (eksplorasi), guru memberi nama pada pola itu (pengenalan konsep), kemudian pola itu di tentukan dalam konteks-konteks lain (aplikasi). Siklus belajar deskriptif menjawab pertanyaan; apa? Tetapi tidak menimbulkan pertanyaan ; mengapa?

Dalam siklus belajar empiris-induktif para siswa juga menemukan dan memberikan suatu pola empiris dalam suatu konteks khusus (eksplorasi), tetapi mereka selanjutnya menemukan sebab-sebab yang mungkin tentang terjadinya pola itu. Bentuk siklus hipotesis-deduktif, dimulai dengan pernyataan berupa suatu pertanyaan sebab. Para siswa diminta untuk merumuskan jawaban-jawaban (hipotesis) yang mungkin terhadap pertanyaan itu. Selanjutnya para. siswa diminta untuk menurunkan konsekuensi-konsekuensi logis dari hipotesis-hipotesis ini (eksplorasi). Konsep-konsep yang relevan dan pola-pola penalaran yang terlibat dan didiskusikan (pengenalan konsep), dapat diterapkan pada situasi-situasi lain di kemudian hari (aplikasi konsep).

Dari ketiga bentuk siklus belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa bentuk siklus belajar hipotesis-deduktiflah yang sesuai siklus belajar “model7e”.


  1. 2. Hasil Belajar

Belajar merupakan kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar. Apa yang terjadi dalam diri seseorang yang sedang belajar, tidak dapat diketahui secara langsung hanya dengan mengamati orang itu. Bahkan hasil belajar orang itu tidak langsung kelihatan, tanpa orang itu melakukan sesuatu yang menampakkan kemampuan yang telah diperoleh melalui belajar.

Belajar terjadi dalam interaksi dengan lingkungan, namun tidak sembarang berada di tengah-tengah lingkungan, menjamin adanya proses belajar. Orang tersebut harus aktif sendiri, melibatkan diri dengan segala pemikiran, kemauan dan perasaannya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa “belajar” pada manusia boleh dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai-sikap.

Dari uraian belajar yang telah dijelaskan di atas maka untuk mengetahui apakah proses belajar berhasil atau tidaknya sehingga akan diketahui bagaimana hasil belajar.

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya dan pembelajaran. Horward Kingsley membagi tiga hasil belajar, yakni (a).keterampilan dan kebiasaan, (b).pengetahuan dan pengertian, (c).sikap dan cita-cita masing-masing jenis-jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum.

Hasil belajar teraktualisasi pada perubahan sikap dan kepribadian siswa dan menjadi lebih berprestasi dalam berbagai aktivitas belajar di sekolah hasil belajar siswa merupakan salah satu indikasi pencapaian tujuan pendidikan yang sudah menjadi komitmen nasional antara lain terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas. Karena itu guru dalam peranannya sebagai pengajar, pendidik dan pembimbing harus mampu menciptakan suasana yang kondusif dalam proses pembelajaran dan dimuati dengan kemampuan menerapkan berbagai pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa berhasil dalam belajarnya.

Conny R. Serniawan (1993 : 18) mengatakan bahwa :

Hasil belajar harus bermakna bagi siswa itu sendiri dalam menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, artinya tidak terbatas pada perolehan nilai dari suatu bidang studi, tetapi mampu membentuk sikap yang diperoleh dari belajar yang diikutinya dan untuk selanjutnya menjadi bekal dasar pengalaman belajar berikutnya dan menjadi bekal bagi siswa sebagai individu dan anggota masyarakat.

Ini terjadi bila dalam pembelajaran, ada perwujudan ekspresi khas seseorang dalam keterlibatannya berbagai dimensi kepribadiannya untuk menjadikan manusia kreatif, dan bertanggung jawab. Karena itu, untuk membantu siswa memahami konsep kimia yang diajarkan di sekolah dengan tujuan agar siswa berhasil.

  1. B. KERANGKA BERPIKIR

Pembelajaran kimia dengan menggunakan siklus belajar “model 7e” merupakan siklus yang memungkinkan belajar menemukan sendiri konsep yang dipelajari dan berinteraksi satu sama lain. Oleh pembelajaran siklus belajar ini dapat menciptakan suasana belajar yang aktif, kreativitas dan  memotivasi siswa satu dengan siswa yang lainnya. Proses pembelajaran ini juga dapat membangkitkan kerja sama dengan orang lain, berpikir kritis, serta berwawasan luas.

Berhasil tidaknya suatu tujuan belajar tidak hanya merupakan tanggung jawab guru semata tetapi juga merupakan tanggung jawab orang tua dan siswa itu dan siswa itu sendiri selaku subjek pendidikan. Dengan  penggunaan siklus belajar “model 7e” pada pembelajaran Sel Elektrolisis dapat meningkatkan kualitas pemahaman siswa. Peningkatan kualitas pembelajaran tercermin dari dapat dilatihkannya berbagai keterampilan proses.

  1. C. HIPOTESIS TINDAKAN

Dengan penerapan siklus belajar sangat membantu guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk itu, hipotesis tindakan dalam penulisan ini dapat di rumuskan sebagai berikut: “Pembelajaran kimia dengan penerapan siklus belajar “model 7e” dapat meningkatkan hasil belajar Sel Elektrolisis pada siswa kelas XII IPA SMA Kr.YPKManado”.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

  1. A. DEFINISI OPERASIONAL
    1. Variabel bebas (X) adalah siklus belajar ‘‘model 7e’’

Indikator variabel X : Elicit, Engage, Explore, Explain, Elaborate, Extend dan Evaluate.

Variabel tak bebas (Y) adalah hasil belajar siswa pada konsep Sel Elektrolisis.

Indikator variabel Y  : hasil belajar siswa yaitu skor yang diperoleh dari tes    setelah penggunaan siklus belajar “model 7e”.

  1. B. SUBYEK DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di kelas XII-IPA SMA  Kr.YPK Manado dan  subyek penelitiannya adalah seluruh siswa kelas XII-IPA SMA Kr.YPKM Manado semester V tahun ajaran 2005-2006.

  1. C. RANCANGAN PENELITIAN

Penelitian ini merupakan Penelitian  Tindakan Kelas (PTK). Menurut kemmis, 1993 (Ryanto, 2001) penelitian tindakan kelas menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan upaya menguji cobakan ide-ide kedalam praktek untuk memperbaiki atau merubah sesuatu agar memperoleh dampak nyata dari situasi. Sedangkan menurut Eliot, 1991 (Ryanto, 2001) penelitian tindakan merupakan kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas kegiatan yang ada didalamnya. Didalam prosesnya yaitu telaah,  diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan dampaknya. Berdasarkan definisi penelitian tindakan dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan menekankan pada tindakan (kegiatan) dengan menguji cobakan sesuatu ide kedalam situasi nyata yang diharapkan kegiatan tersebut mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas, Proses Belajar Mengajar. Rancangan penelitian ini dibuat dalam tiga siklus. Proses pembelajaran dalam masing-masing siklus sesuai dengan siklus belajar “Model 7e”. Rencana pelajaran dan Lembar Kerja Siswa (LKS) dibuat sendiri oleh peneliti.

Masalah dalam Kelas/Sekolah

Rancangan Penelitian Tindakan Kelas

  1. D. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Teknik pengumpulan data peningkatan kualitas pembelajaran dilakukan observasi terhadap kegiatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Data observasi sebagai bahan evaluasi dan refleksi dicatat dalam catatan bebas.

  1. E. ANALISIS DATA

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan menghitung presentase ketuntasan hasil belajar siswa berdasarkan hasil tes ulangan harian, yaitu :

Tingkat penguasaan materi =

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. A. HASIL PENELITIAN

SIKLUS I

Pertemuan pertama untuk materi kesetimbangan dinamis dengan kesetimbangan homogen dan heterogen tahapan yang berlangsung dari tahap Elicit, Engange dan Explore dimana siswa menemukan sendiri dengan membaca dan menganalisis materi serta tanya jawab mengenai materi tersebut. Pada pertemuan kedua dilanjutkan dengan tahapan Explain, Elaborate, Extend dan Evaluate dimana dilakukan penjelasan materi kemudian diuraikan hasil analisis penjelasan selanjutnya. Siswa berdiskusi di dalam kelas. Hasil dari kesimpulan penguraian tersebut diperluas lagi dan dihubungkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada tahap Explain guru memberikan contoh melalui demonstrasi menganalogi kesetimbangan dinamis guru juga memberikan contoh mengenai kesetimbangan heterogen berupa air dan minyak yang terdiri dari dua fase dan kesetimbangan homogen seperti air dan gula yang terdiri dari satu fase. Kemudian pada tahap Elaborate dan Extend menguraikan kembali serta memperluas hasil pengamatan yang dilakukan pada tahap akhir yang merupakan evaluasi daya serap siswa terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Banyak soal yang diberikan terdiri dari 4 soal.

.Hasil tes evaluasi untuk mengetahui daya serap siswa pada siklus I sebagai berikut :

Jumlah soal yang benar Skor evaluasi Banyak siswa Persentase
4

3

2

1

0

85 – 100

70 – 80

60 – 45

40 – 55

0 – 35

9 orang

16 orang

8 orang

100%

75%

50%

25%

0%

Dari daya serap siswa pada siklus I tersebut dapat terlihat bahwa sebagian siswa sudah mencapai hasil belajar yang baik. Berdasarkan hasil pengamatan melalui angket/wawancara pembelajaran pada siklus I banyak hal yang perlu diperbaiki. Hasil refleksi melalui angket/wawancara dapat dilihat pada lampiran hasil skor siklus I sebagai refleksi untuk memperbaiki ke siklus selanjutnya. Dalam hal ini juga dapat diamati bahwa beberapa siswa hanya diam saja dan ada siswa yang terlambat sehingga mengganggu kegiatan proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

SIKLUS II

Dari hasil refleksi  siklus I yang telah dilakukan perbaikan-perbaikan untuk meningkatkan hasil daya serap siswa dapat dilihat pada lampiran siklus II ini. Proses pembelajaran yang telah berlangsung lebih baik dari siklus I walaupun menurut siswa materinya agak lebih sulit dari meteri sebelumnya.

Pada siklus II ini yang dimulai dari pertemuan ketiga dengan tahap Elicit, Engage. Pada pertemuan ini guru juga memberikan penjelasan secara singkat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan dan kondisi optimum untuk memperoleh bahan-bahan kimia di industri dengan  menggunakan metode ceramah  setelah siswa membaca dan menganalisis materi tersebut.

Pada pertemuan keempat yang dimulai pada tahap Explore yang dilakukan percobaan melalui praktikum yang dibagi dengan lima kelompok kecil.hasil percobaan dibahas pada tahap Explain, yang selanjutnya di uraikan kembali  pada tahap Elaborate yang dilakukan dengan diskusi kelompok untuk membuat kesimpulan hasil percobaan. Tahap Extend masing-masing siswa diberikan kesempatan untuk memperluas hasil kesimpulan dari percobaan yang telah di diskusikan.  Dalam percobaan yang dilakukan mengetahui faktor konsentrasi yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan. Tahap akhir dari siklus ini yaitu tahap Evaluate dimana guru memberikan evaluasi soal untuk mengetahui daya serap siswa pada materi tersebut. Hasil daya serap dari evaluasi yang diberikan dengan 5 soal dapat dilihat sebagai berikut:

Jumlah soal yang benar Skor evaluasi Banyak siswa Persentase
5

4

3

2

1

0

100

80

60

40

20

0

5 orang

18 orang

10 orang

100%

80%

60%

40%

20%

0%

Dari daya serap pada siklus II dapat terlihat meningkatnya hasil daya serap dari siklus I. Berdasarkan perbaikan refleksi dari siklus I  ke siklus II juga lebih baik lagi daripada  siklus I dan siswa lebih aktif lagi. Diskusi juga berjalan dengan baik pula. Pada siklus II Ini juga diberikan angket/wawancara untuk perbaikan  refleksi ke siklus selanjutnya. Untuk mengetahui refleksi ke siklus III ini dapat dilihat pada lampiran hasil skor siklus II.

SIKLUS III

Walaupun pada siklus I dan siklus II telah terlihat meningkatnya hasil daya serap siswa, namun melalui perbaikan refleksi tersebut dapat diterapkan pada siklus III. Pada siklus III ini dilakukan pada pertemuan kelima dengan materi  yang menghitung tetapan kesetimbangan hubungan Kc dan Kp. Pada pertemuan ini diawali dengan tahap Elicit, Engage, dan Explore dengan tujuan untuk memahami tetapan kesetimbangan melalui contoh-contoh soal menghitung harga Kc dan Kp.

Tahapan selanjutnya dilakukan pada pertemuan ke enam yang dimulai dari tahap Explain yang memahami kesetimbangan Kc dan Kp melalui diskusi. Selanjutnya pada tahap Elaborate dan Extend dimana siswa mengerjakan serta memperluas hasil contoh-contoh soal. tersebut. Pada tahap akhir yaitu Evaluate  dimana siswa diberikan soal-soal untuk mengetahui daya serap siswa terhadap materi tersebut pada siklus III.

Hasil daya serap dapat dilihat sebagai berikut:

Jumlah soal yang benar Skor evaluasi Banyak siswa Persentase
4

3

2

1

0

100

75

60

30

0

14 orang

14 orang

6 orang

100%

75%

50%

25%

0%

Untuk mengetahui apakah daya serap siswa dari siklus I, II, dan III diberikan evaluasi akhir  dengan soal-soal dari keseluruhannya. Hasil evaluasi tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

Jumlah soal yang benar Skor evaluasi Banyak siswa Persentase
5

4

3

2

1

0

100

80

60

40

20

0

5 orang

18 orang

10 orang

100%

80%

60%

40%

20%

0%


  1. B. PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil daya serap siswa dari penelitian dengan menggunakan siklus belajar “model 7e” pada materi kesetimbangan kimia, diperoleh hasil daya serap siklus I,II, dan III dapat dilihat pada lampiran hasil skor daya serap siklus I,II dan III. Pada data tersebut juga dapat dilihat refleksi yang harus diperbaiki pada siklus-siklus selanjutnya. Retensi  skor siklus I antara 45 – 80 dengan perinciannya 9 orang dengan skor 70 – 80, 18 orang dengan skor 60 – 65 dan 8 orang dengan skor 40 – 55. Retensi skor siklus II antara 60 – 100 dengan perinciannya 5 orang dengan skor 100, 18 orang dengan skor 80 dan 10 orang dengan skor 60. Retensi skor siklus III antara 50 – 100 dengan perinciannya 14 orang dengan skor 100, 14 orang skor 75 dan 5 orang dengan skor 50. Dari skor evaluasi dapat dilihat peningkatannya. Dari ketiga siklus di atas dilakukan evaluasi akhir dengan retensi skornya 60 -100 dengan perincian 15 orang dengan skor 100, 20 orang dengan skor 80 dan 3 orang dengan skor 60. Pada hipotesis yang menggunakan siklus belajar “Model 7e” pada kesetimbangan kimia kelas XI IPA1 SMA Kr. YPKM Manado dapat meningkatkan penguasaan materi dan diklasifikasikan dengan baik.

Guru sebagai fasilitator dalam penggunaan siklus belajar “Model 7e” dapat memberikan masukan kepada guru untuk menggunakan berbagai metode mengajar sehingga siswa tidak bosan untuk belajar di kelas. Yang menjadi kekurangan siklus belajar ini guru merasa kesulitan untuk mengatasi siswa yang terlalu aktif dan ribut.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A. KESIMPULAN

Penggunaan siklus belajar “Model 7e” dalam pembelajaran kimia tentunya dapat meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya pada kesetimbangan kimia. Meningkatnya kualitas pembelajaran tersebut dapat  dilatihkannya berbagai metode dan keterampilan proses dalam mengajar. Peningkatan kualitas belajar dapat tercermin dari hasil daya serap belajar siswa mulai siklus I, II dan III dan juga dapat dilihat dari evaluasi akhir dengan rata-rata siswa yang berhasil terendah 60% dan tertinggi 100% yang rata-rata siswa 80%. Melalui perbaikan refleksi dari siklus-siklus selanjutnya dalam proses pembelajaran juga dapat meningkatkan kualitas hasil belajar daya serap siswa. Siklus ini dapat diterapkan pada materi yang memiliki jam pelajaran yang panjang agar dapat terlihat tingkat kualitas hasil belajarnya.

  1. B. SARAN

Dari uraian di atas dapat dilihat besarnya daya serap siswa yang menguasai pelajaran kesetimbangan kimia, sehingga siklus belajar “Model 7e” dapat dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar kimia yang lebih baik, yang sesuai dengan kompetensi dasar. Yang menjadi kekurangan dalam penerapan siklus belajar “Model 7e” ini hanya dapat diterapkan pada materi yang memiliki jam pelajaran yang panjang karena menggunakan keterampilan proses dan berbagi metode mengajar yang mengikuti tahapan-tahapan siklus belajar “Model 7e” tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto S, 1998, Prosedur Penelitian; Edisi IV, Rineka Cipta, Jakarta.

http://carborCudenver.edu/mryder/itc-data/contruktivism.html.

http://myschoolnet.ppk.kpm.my/pNp/pm/konstruktivisme.htm

http://www.ttg-about.com/htmis/ap/eisenterafttst.pdf.words:learning.cycle.7E.

Mulyati Arifin; dkk, 2003, Strategi Belajar Mengajar Kimia: IMSTEP JICA, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.

Nana Sudjana., 1991, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar; Remaja Rosdakarya. Bandung.

Ryanto Yatim;  2001, Metodologi Penelitian Pendidikan; Penerbit SIC Surabaya

Soebagio; dkk, 2001, Media Komunikasi Kimia; Jurnal Ilmu Kimia dan Pembelajaran; IMSTEP JICA, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang.

Sri Rahayu, 2002, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam: Jurnal FMIPA dan pengajarannya; IMSTEP JICA, Jurusan Kimia Universitas Negeri Malang.

Srini Iskandar, 2001, Media Komunikasi Kimia; Jurnal Ilmu Kimia dan pembelajarannya; IMSTEP JICA, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang.

Winkel., 1987, Psikologi Pengajaran; Gramedia Jakarta.