Bab I

Pendahuluan

Dewasa ini permasalahan lingkungan atau umumnya pencemaran semakin meningkat khususnya pencemaran air. Pencemaran terjadi bila dalam lingkungan terdapat bahan yang menyebabkan timbulnya perubahan yang tidak diharapkan, baik yang bersifat fisik, kimiawi maupun biologis sehingga mengganggu kesehatan eksistensi manusia, dan aktivitas manusia serta organism lainnya. Pada hakikatnya antara aktivitas manusia dan timbulnya pencemaran terdapat hubungan melingkar berbentuk siklus. Agar dapat hidup dengan baik manusia beradaptasi dengan lingkungannya dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia mengembangkan teknologi. Akibat sampingan dari pengembangan teknologi adalah bahan pencemar yang menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan ini merupakan stimulus agar manusia menyesuaikan diri terhadap ligkungannya.

Pencemaran lingkungan terjadi bila daur materi dalam lingkungan hidup mengalami perubahan, sehingga keseimbangan dalam hal struktur maupun fungsinya terganggu. Ketidak seimbangan struktur dan fungsi daur materi terjadi karena proses alam atau juga karena perbuatan manusia. Dalam abad modern ini banyak kegiatan atau perbuatan manusia untuk memenuhi kebutuhan biologis dan kebutuhan teknologi sehingga banyak menimbulkan pencemaran lingkungan. Manusia adalah merupakan satu¬satunya komponen Lingkungan Hidup  biotik yang mempunyai kemampuan untuk dengan sengaja merubah keadaan lingkungan hidup. Dalam usaha merubah lingkungan hidupnya ini dengan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya dapat menimbulkan masalah yang disebut pencemaran. Manusia juga dapat merubah keadaan lingkungan yang tercemar akibat berbuatannya ini menjadi keadaan lingkungan yang lebih baik, menjadi keadaan seimbang, dapat mengurangi terjadinya pencemaran lingkungan, bahkan diharapkan untuk dapat mecegah terjadinya pencemaran.

Penyebab terjadinya pencemaran lingkungan sebagian besar disebabkan oleh tangan manusia. Pencemaran air dan tanah adalah pencemaran yang terjadi di perairan seperti sungai, kali, danau, laut, air tanah, dan sebagainya. Sedangkan pencemaran tanah adalah pencemaran yang terjadi di darat baik di kota maupun di desa.

Pencemaran lingkungan merupakan masalah kita bersama, yang semakin penting untuk diselesaikan, karena menyangkut keselamatan, kesehatan, dan kehidupan kita. Siapapun bisa berperan serta dalam menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, termasuk kita. Dimulai dari lingkungan yang terkecil, diri kita sendiri, sampai ke lingkungan yang lebih luas.

Permasalahan pencemaran lingkungan yang harus segera kita atasi bersama diantaranya pencemaran air tanah dan sungai, pencemaran udara perkotaan, kontaminasi tanah oleh sampah, hujan asam, perubahan iklim global, penipisan lapisan ozon, kontaminasi zat radioaktif, dan sebagainya.

Untuk menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, tentunya kita harus mengetahui sumber pencemar, bagaimana proses pencemaran itu terjadi, dan bagaimana langkah penyelesaian pencemaran lingkungan itu sendiri.

Bab II

Pembahasan

  1. A. Pencemaran

Pencemaran, menurut SK Menteri Kependudukan Lingkungan Hidup No 02/MENKLH/1988 :

“Pencemaran adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam air/udara, dan/atau berubahnya tatanan (komposisi) air/udara oleh kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air/udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya”.

Menurut Daryanto (2004 :73) Pencemaran merupakan sebuah siklus yang selalu berputar dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya.

Menurut WHO, ditetapkan empat tahapan pencemaran :

1)      Pencemaran tingkat pertama

Pencemaran yang tidak menimbulkan kerugian pada manusia, baik dilihat dari kadar zat pencemarannya maupun waktu kontaknya dengan lingkungan

2)      Pencemaran tingkat kedua

Pencemaran yang mulai menimbulkan iritasi ringan pada pancaindera dan alat vegetatif lainnya serta menimbulkan gangguan pada komponen ekosistem lainnya

3)      Pencemaran tingkat ketiga

Pencemaran yang sudah mengakibatkan reaksi pada faal tubuh dan menyebabkan sakit yang kronis

4)      Pencemaran tingkat keempat

Pencemaran yang telah menimbulkan dan mengakibatkan kematian dalam lingkungan karena kadar zat pencemar terlalu tinggi Untuk mencegah terjadinya pencemaran terhadap lingkungan oleh berbagai aktivitas industri dan aktivitas manusia, maka diperlukan pengendalian terhadap pencemaran lingkungan dengan menetapkan baku mutu lingkungan. Baku mutu lingkungan adalah batas kadar yang diperkenankan bagi zat atau bahan pencemar terdapat di lingkungan dengan tidak menimbulkan gangguan terhadap makhluk hidup, tumbuhan atau benda lainnya.

  1. B. Pengertian lingkungan

Lingkungan  adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik. Jika kalian berada di sekolah, lingkungan biotiknya berupa teman-teman sekolah, bapak ibu guru serta karyawan, dan semua orang yang ada di sekolah, juga berbagai jenis tumbuhan yang ada di kebun sekolah serta hewan-hewan yang ada di sekitarnya. Adapun lingkungan abiotik berupa udara, meja kursi, papan tulis, gedung sekolah, dan berbagai macam benda mati yang ada di sekitar.

Berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  1. Unsur Hayati (Biotik)

Unsur hayati (biotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Jika kalian berada di kebun sekolah, maka lingkungan hayatinya didominasi oleh tumbuhan. Tetapi jika berada di dalam kelas, maka lingkungan hayati yang dominan adalah teman-teman atau sesama manusia.

  1. Unsur Sosial Budaya

Unsur sosial budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.

  1. Unsur Fisik (Abiotik)

Unsur fisik (abiotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti tanah, air, udara, iklim, dan lain-lain. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi. Bayangkan, apa yang terjadi jika air tak ada lagi di muka bumi atau udara yang dipenuhi asap? Tentu saja kehidupan di muka bumi tidak akan berlangsung secara wajar. Akan terjadi bencana kekeringan, banyak hewan dan tumbuhan mati, perubahan musim yang tidak teratur, munculnya berbagai penyakit, dan lain-lain.

  1. C. Kerusakan Lingkungan Hidup

Berdasarkan faktor penyebabnya, bentuk kerusakan lingkungan hidup dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

a)      Bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Peristiwa Alam

Berbagai bentuk bencana alam yang akhir-akhir ini banyak melanda Indonesia telah menimbulkan dampak rusaknya lingkungan hidup. Dahsyatnya gelombang tsunami yang memporak-porandakan bumi Serambi Mekah dan Nias, serta gempa 5 skala Ritcher yang meratakan kawasan DIY dan sekitarnya, merupakan contoh fenomena alam yang dalam sekejap mampu merubah bentuk muka bumi.

Peristiwa alam lainnya yang berdampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:

  • Letusan gunung berapi

Letusan gunung berapi terjadi karena aktivitas magma di perut bumi yang menimbulkan tekanan kuat keluar melalui puncak gunung berapi.

Bahaya yang ditimbulkan oleh letusan gunung berapi antara lain berupa:  Hujan abu vulkanik, menyebabkan gangguan pernafasan. Lava panas, merusak, dan mematikan apa pun yang dilalui. Awan panas, dapat mematikan makhluk hidup yang dilalui. Gas yang mengandung racun. Material padat (batuan, kerikil, pasir), dapat menimpa perumahan, dan lain-lain.

  • Gempa bumi

Gempa bumi adalah getaran kulit bumi yang bisa disebabkan karena beberapa hal, di antaranya kegiatan magma (aktivitas gunung berapi), terjadinya tanah turun, maupun karena gerakan lempeng di dasar samudra. Manusia dapat mengukur berapa intensitas gempa, namun manusia sama sekali tidak dapat memprediksikan kapan terjadinya gempa. Oleh karena itu, bahaya yang ditimbulkan oleh gempa lebih dahsyat dibandingkan dengan letusan gunung berapi. Pada saat gempa berlangsung terjadi beberapa peristiwa sebagai akibat langsung maupun tidak langsung, di antaranya: Berbagai bangunan roboh, Tanah di permukaan bumi merekah, jalan menjadi putus, Tanah longsor akibat guncangan, Terjadi banjir, akibat rusaknya tanggul, Gempa yang terjadi di dasar laut dapat menyebabkan tsunami (gelombang pasang).

  • Angin topan

Angin topan terjadi akibat aliran udara dari kawasan yang bertekanan tinggi menuju ke kawasan bertekanan rendah. Perbedaan tekanan udara ini terjadi karena perbedaan suhu udara yang mencolok. Serangan angin topan bagi negara-negara di kawasan Samudra Pasifik dan Atlantik merupakan hal yang biasa terjadi. Bagi wilayah-wilayah di kawasan California, Texas, sampai di kawasan Asia seperti Korea dan Taiwan, bahaya angin topan merupakan bencana musiman. Tetapi bagi Indonesia baru dirasakan di pertengahan tahun 2007. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan iklim di Indonesia yang tak lain disebabkan oleh adanya gejala pemanasan global. Bahaya angin topan bisa diprediksi melalui foto satelit yang menggambarkan keadaan atmosfer bumi, termasuk gambar terbentuknya angin topan, arah, dan kecepatannya. Serangan angin topan (puting beliung) dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup dalam bentuk: Merobohkan bangunan, Rusaknya areal pertanian dan perkebunan, Membahayakan penerbangan,  Menimbulkan ombak besar yang dapat menenggelamkan kapal.

b)      Kerusakan Lingkungan Hidup karena Faktor Manusia

Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan sederhana sampai ke bentuk kehidupan modern seperti sekarang ini. Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Banyak kemajuan yang diraih oleh manusia membawa dampak buruk terhadap kelangsungan lingkungan hidup.

Beberapa bentuk kerusakan lingkungan hidup karena faktor manusia, antara lain:

  • Terjadinya pencemaran (pencemaran udara, air, tanah, dan suara) sebagai dampak adanya kawasan industri.
  • Terjadinya banjir, sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan air dan kesalahan dalam menjaga daerah aliran sungai dan dampak pengrusakan hutan.
  • Terjadinya tanah longsor, sebagai dampak langsung dari rusaknya hutan.

Beberapa ulah manusia yang baik secara langsung maupun tidak langsung membawa dampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain: Penebangan hutan secara liar (penggundulan hutan),  Perburuan liar,  Merusak hutan bakau, Penimbunan rawa-rawa untuk pemukiman, Pembuangan sampah di sembarang tempat, Bangunan liar di daerah aliran sungai (DAS), Pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan di luar batas.

  1. D. Pencemaran Lingkungan

Pada saat ini pencemaran terhadap lingkungan berlangsung di mana-mana dengan laju yang sangat cepat. Sekarang ini beban pencemaran dalam lingkungan sudah semakin berat dengan masuknya limbah industri dari berbagai bahan kimia termasuk logam berat.

Pencemaran lingkungan dapat dikategorikan menjadi:

  1. Pencemaran air
  2. Pencemaran udara
  3. Pencemaran tanah
  • Pencemaran Air

Air merupakan salah satu sumber alam yang mulai terasa pengaruhnya pada usaha memperluas kegiatan pertanian dan industri di berbagai tempat di dunia, secara alamiah sumber-sumber air merupakan kekayaan alam yang dapat diperbaharui dan yang mempunyai daya generasi yaitu selalu dalam sirkulasi. Air sebagai sumberdaya kini lebih disadari merupakan salah satu unsur penentu di dalam ikut mencapai keberhasilan pembangunan, termasuk pula terhadap keberhasilan pembangunan kesehatan lingkungan.

Pada masa sekarang ini nampaknya sulit untuk memperoleh air yang betul-betul murni, aliran air dari gunung yang diperkirakan paling bersih pun akan membawa mineral-mineral, gas-gas berlarut dan zat-zat organik dari tumbuhan atau binatang yang hidup di dalam atau dekat aliran tersebut, selain itu aktivitas manusia merupakan salah satu hal yang menyebabkan timbulnya masalah-masalah pencemaran air di dalam ekosistem air.

Pencemaran air pada umumnya terjadi oleh tingkah laku manusia seperti oleh zat-zat deterjen, asam belerang dan zat-zat kimia sebagai sisa pembuangan pabrik-pabrik kimia/industri. Pembuangan bahan kimia limbah maupun pencemar lain ke dalam air akan mempengaruhi kehidupan dalam air tersebut, suatu pencemar dalam suatu ekosistem mungkin cukup banyak sehingga akan meracuni semua organisme yang terdapat di sana, biasanya

suatu pencemaran cukup banyak untuk membunuh spesies tertentu, tetapi tidak membahayakan spesies lainnya, sebaliknya ada kemungkinan bahwa suatu pencemar justru dapat mendukung perkembangan spesies tertentu. Jadi,

bila air tercemar ada kemungkinan pergeseran-pergeseran dari jumlah spesies yang banyak dengan ukuran yang sedang populasinya, kepada jumlah spesies

yang sedikit tetapi berpopulasi yang tinggi. Penetapan standar air yang bersih tidak mudah, namun ada kesepakatan bahwa air yang bersih tidak ditetapkan pada kemurnian air akan tetapi didasarkan pada keadaan normalnya, sebab air yang ada di bumi ini tidak pernah terdapat dalam keadaaan murni bersih, tetapi selalu ada senyawa atau mineral atau unsur lain yang terlarut di dalamnya.

Pencemaran perairan terbuka berupa danau, situ, rawa, dan sungai oleh limbah industri maupun rumah tangga merupakan masalah yang serius.

Berbagai bentuk pencemar, baik yang bersifat fisik atau endapan lumpur, bahan organik maupun berupa senyawa kimia termasuk yang beracun, seperti logam berat perlu segera diatasi sebelum terjadi akumulasi yang membahayakan pada banyak perairan di tanah air kita . Pencemaran air  berlaku apabila perubahan berlaku dari segi kandungan, keadaan dan warna sehingga tidak sesuai dan memberi kesan apabila digunakan. Pencemaran berlaku sama ada dari segi biologi, kimia dan fisik. Pencemaran air bukan hanya berlaku di sungai tetapi juga di laut. Untuk memantau pencemaran air sungai digunakan kombinasi parameter fisika, kimia dan biologi. Tapi yang sering digunakan hanya parameter fisika seperti temperatur, warna, bau, rasa dan kekeruhan air, ataupun parameter kimia seperti : partikel terlarut, kebutuhan oksigen biokimia ( BOD ), partikel tersuspensi ( SS ), amonia ( NH3 ). Bahan-bahan polutan bagi pencemaran air dalam bentuk pencemar fisika, kimiawi dan biologis dibagi menjadi 8 kelompok yaitu :

  • Agen penyebab penyakit (bakteri, virus, protozoa, parasit).
  • Limbah penghabis oksida (limbah rumah tangga, kotoran hewan dan  manusia, bahan organic dan sebagainya).
  • Bahan kimia yang larut dalam air (asam, garam, logam beracun dan senyawa lain).
  • Pupuk anorganik (garam nitrat dan fosfat yang terlarut).
  • Bahan kimia organik (minyak, bensin, plastik, pestisida). Bahan sedimen atau suspensi (partikel tanah, pasir dan bahan anorganik lain yang melayang dalam air).
  • Bahan-bahan radioaktif
  • Panas
  • Penyebab Pencemaran Air

Penggunaan air oleh manusia akan menghasilkan limbah, apabila dibuang langsung ke lingkungan akan menyebabkan terjadinya pencemaran air sehingga dapat membahayakan kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Polutan biologis berasal dari kotoran manusia yang mengandung bakteri dan virus, protozoa atau parasit lain yang mencemari sungai, sumur dan atau mata air.

Limbah penghabis oksigen berasal dari limbah rumah tangga yang mengandung sisa-sisa makanan, kotoran manusia, ternak, bangkai dan bahan-bahan organik lainnya. Ciri polutan ini adalah mengandung nutrisi yang menyuburkan pertumbuhan perairan. Pada tingkat pencemaran yang parah semua kehidupan air akan mati akibat keracunan. Zat-zat organik akan mengalami pembusukan menghasilkan senyawa-senyawa lain yang beracun, menurunkan kadar oksigen terlarut, meningkatkan suhu dan menurunkan

keasaman (PH), warna air akan berubah menjadi coklat kehitaman dan apabila oksigen benar-benar habis akan mengeluarkan bau busuk yang menyengat.

Polutan dalam bentuk senyawa asam, logam beracun dan senyawa lain berasal dari limbah industri, unsur kimia yang bersifat racun bila terdapat dalam jumlah yang melebihi batas tertentu. Bahan kimia organik (minyak, bensin, plastik, pestisida) bisa berasal dari limbah rumah tangga, pertanian, pasar atau industri. Polutan ini dapat mematikan mikroorganisme dan makroorganisme akuatik, polutan plastik merupakan polutan yang tidak teruraikan ( non degradable ).

Bahan-bahan radioaktif berasal dari reaktor-reaktor nuklir atau percobaan-percobaan bom nuklir. Reaktor-reaktor nuklir karena suatu sebab dapat bocor atau meledak, menyemburkan bahan-bahan radioaktif yang akan mencemari lingkungan. Pencemaran air dapat berasal dari berbagi sumber pencemaran, antara lain berasal dari industri, limbah rumah tangga, limbah pertanian dan sebagainya.

  • Industri :

Pabrik industri mengeluarkan limbah yang dapat mencemari ekosistem air,

pembuangan limbah industri ke sungai- sungai dapat menyebabkan

berubahnya susunan kimia, bakteriologi serta fisik air. Polutan yang

dihasilkan oleh pabrik dapat berupa :

ü  logam berat ; timbal, tembaga, seng dan lain-lain

ü   panas ; air yang tinggi temperaturnya sulit menyerap oksigen yang  pada akhirnya akan mematikan biota air.

Jumlah aliran air limbah yang berasal dari industri sangat bervariasi tergantung dari jenis dan besar kecilnya industri, pengawasan pada proses industri, derajat penggunaan air, derajat pengolahan air limbah yang ada. Puncak tertinggi aliran selalu tidak akan dilewati apabila menggunakan tangkis penahan dan bak pengaman.

  • Limbah rumah tangga:

Sumber utama air limbah rumah tangga dari masyarakat adalah berasal dari perumahan dan daerah perdagangan, sumber lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah daerah perkantoran atau lembaga serta fasilitas rekreasi. Dari rumah tangga dapat dihasilkan berbagai macam zat organik dan anorganik yang dialirkan melalui selokan-selokan dan akhirnya bermuara ke sungai-sungai. Selain dalam bentuk zat organik dan anorganik dari limbah rumah tangga bisa terbawa bibit-bibit penyakit yang dapat menular pada hewan dan manusia sehingga menimbulkan epidemi yang luas di masyarakat. Polusi air yang disebabkan oleh penggunaan deterjen terutama menyangkut masalah bahan pembentuk ( surfaktan ), masalah utama yang timbul bukan karena racunnya, tetapi busanya yang mengganggu lingkungan di sekitarnya. Bahan pembentuk utama di dalam detergen adalah natrium tripolifosfat ( Na P O ), senyawa ini bukan 5 3 10 merupakan masalah dalam dekomposisi di lingkungan sebab ion P O 3 10 -5 akan mengalami reaksi hidrolisis perlahan di dalam lingkungan untuk memproduksi ortofosfat yang tidak beracun.

  • Limbah pertanian:

Penggunaan pupuk di daerah pertanian akan mencemari air yang keluar dari pertanian, air ini mengandung bahan makanan bagi ganggang, sehingga mengalami pertumbuhan dengan cepat, ganggang yang menutupi permukaan air akan berpengaruh buruk terhadap ikan-ikan dan komponen biotik air ekosistem dari air tersebut. Dari daerah pertanian terlarut pula sisa-sisa pestisida yang terbawa ke sungai atau bendungan, pestisida yang bersifat toksit akan mematikan hewan-hewan air, burung dan bahkan manusia.

Benda-benda yang dapat menyebabkan turun atau rusaknya kualitas

air berasal dari benda-benda yang berbentuk gas adalah sebagai berikut :

ü  Gas Oksigen (O ) atau zat asam; diperlukan untk makhluk hidup yang berada di udara, daratan maupun di dalam air.

ü  Gas lain dalam air (CO , CO, H S): Gas CO terbentuk karena proses pembakaran bahan-bahan minyak, batu bara dan lain-lain kurang  sempurna, gas CO yang berada di udara dalam jumlah besar dapat  menyebabkan kematian, air tidak terdapat CO, H S terjadi pada proses pembusukan zat-zat organik, penyebab bau busuk.

  • Indikator Pencemaran Air

Air yang baik adalah air yang tidak tercemar secara berlebihan oleh zat-zat kimia atau mineral terutama oleh zat-zat atau mineral yang berbahaya bagi kesehatan. Adapun beberapa indikator bahwa air sungai telah tercemar adalah sebagai berikut:

ü  Adanya perubahan suhu air. Air yang panas apabila langsung dibuang ke lingkungan akan mengganggu kehidupan hewan air dan mikroorganisme lainnya.

ü  Adanya perubahan pH atau konsentrasi ion Hidrogen. Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai berkisar pH berkisar antara 6,5 – 7,5.

ü  Adanya perubahan warna, bau dan rasa air. Air dalam keadaan normal dan bersih pada umumnya tidak akan berwarna, sehingga tampak bening dan jernih, tetapi hal itu tidak berlaku mutlak, seringkali zat-zat beracun justru terdapat pada bahan buangan industri yang tidak mengakibatkan perubahan warna pada air. Timbulnya bau pada air lingkungan secara mutlak dapat dipakai sebagai salah satu tanda terjadinya pencemaran. Apabila air memiliki rasa berarti telah terjadi penambahan material pada air dan mengubah konsentrasi ion Hidrogen dan pH air.

ü  Timbulnya endapan, koloidal, bahan terlarut. Bahan buangan yang  berbentuk padat, sebelum sampai ke dasar sungai akan melayang di dalam  air besama koloidal, sehingga menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam lapisan air. Padahal sinar matahari sangat diperlukan oleh mikroorganisme untuk melakukan fotosintesis.

ü  Adanya mikroorganisme.Mikroorganisme sangat berperan dalam proses degradasi bahan buangan dari limbah industri ataupun domestik. Bila bahan buangan yang harus didegradasi cukup banyak, maka mikroorganisme akan ikut berkembangbiak. Pada perkembangbiakan mikroorganisme ini tidak tertutup kemungkinan bahwa mikroba patogen ikut berkembangbiak pula.

ü  Meningkatnya radioaktivitas air lingkungan. Zat radioaktif dari berbagai kegiatan dapat menyebabkan berbagai macam kerusakan biologis apabila tidak ditangani dengan benar, baik efek langsung maupun efek tertunda.

  • Dampak Pencemaran Air

Air sering digunakan sebagai medium pendingin dalam berbagai proses industri, air pendingin tersebut setelah digunakan akan mendapatkan panas dari bahan yang didinginkan, kemudian dikembalikan ke tempat asalnya yaitu sungai atau sumber air lainnya. Air buangan tersebut mungkin mempunyai suhu lebih tinggi daripada air asalnya, kenaikan suhu air akan menimbulkan beberapa akibat sebagai berikut :

  • Jumlah oksigen terlarut di dalam air menurun
  • Kecepatan reaksi kimia meningkat
  • Kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu
  • Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati

Kandungan bahan kimia yang terdapat di dalam air limbah dapat merugikan lingkungan melalui berbagai cara. Bahan organik terlarut dapat menghasilkan oksigen dalam limbah serta akan menimbulkan rasa dan bau yang tidak sedap pada penyediaan air bersih, selain itu akan lebih berbahaya apabila bahan tersebut merupakan bahan beracun.

Adapun pencemaran air oleh minyak sangat merugikan karena dapat menimbulkan hal-hal sebagai berikut :

  • Adanya minyak menyebabkan penetrasi sinar ke dalam air berkurang
  • Konsentrasi oksigen terlarut menurun dengan adanya minyak karena lapisan film minyak menghambat pengambilan oksigen oleh air
  • Adanya lapisan minyak pada permukaan air akan mengganggu kehidupan burung air, karena burung-burung yang berenang dan menyelam bulu- bulunya akan ditutupi oleh minyak sehingga menjadi lengket satu sama lain.
  • Penetrasi sinar dan oksigen yang menurun dengan adanya minyak dapat mengganggu kehidupan tanaman-tanaman. Dampak yang ditimbulkan terhadap organisme adalah kematian, atau akan mengalami kelainan genetik, menderita kanker dan sebagainya.
  • Pecemaran udara

Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.

Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia. Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi suara, panas, radiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global.

Sumber Polusi Udara

Pencemar udara dibedakan menjadi dua yaitu, pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara. [Karbon monoksida]adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer karena ia merupakan hasil dari pembakaran. Pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer. Pembentukan [ozon]dalam [smog fotokimia]adalah sebuah contoh dari pencemaran udara sekunder.

Belakangan ini pertumbuhan keprihatinan akan efek dari emisi polusi udara dalam konteks global dan hubungannya dengan [pemanasan global yg mempengaruhi;

  • Kegiatan manusia berupa: Transportasi, Industri, Pembangkit listrik, Pembakaran (perapian, kompor, furnace,[insinerator]dengan berbagai jenis bahan bakar), Gas buang pabrik yang menghasilkan gas berbahaya seperti (CFC)
  • Sumber alami berupa Gunung berapi, Rawa-rawa, Kebakaran hutan,[Nitrifikasi] dan [denitrifikasi]biologi
  • Sumber-sumber lain berupa Transportasi[amonia], Kebocoran tangki][klor], Timbulan gas [metana]dari [lahan uruk]/[tempat pembuangan akhir] [sampah], Uap pelarut organik.
  • Pencemaran tanah

Pencemaran tanah adalah keadaan dimana bahan kimia buatan manusia masuk dan mengubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).

Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya. Paparan kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada konsentrasi tertentu dapat meningkatkan kemungkinan terkena leukemia.

Sumber Pencemaran Lingkungan

Pencemar datang dari berbagai sumber dan memasuki udara, air dan tanah dengan berbagai cara. Pencemar udara terutama datang dari kendaraan bermotor, industi, dan pembakaran sampah. Pencemar udara dapat pula berasal dari aktivitas gunung berapi.

Pencemaran sungai dan air tanah terutama dari kegiatan domestik, industri, dan pertanian. Limbah cair domestik terutama berupa BOD, COD, dan zat organik. Limbah cair industri menghasilkan BOD, COD, zat organik, dan berbagai pencemar beracun. Limbah cair dari kegiatan pertanian terutama berupa nitrat dan fosfat.

Proses Pencemaran Lingkungan

Proses pencemaran dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yaitu bahan pencemar tersebut langsung berdampak meracuni sehingga mengganggu kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan atau mengganggu keseimbangan ekologis baik air, udara maupun tanah. Proses tidak langsung, yaitu beberapa zat kimia bereaksi di udara, air maupun tanah, sehingga menyebabkan pencemaran.

Pencemar ada yang langsung terasa dampaknya, misalnya berupa gangguan kesehatan langsung (penyakit akut), atau akan dirasakan setelah jangka waktu tertentu (penyakit kronis). Sebenarnya alam memiliki kemampuan sendiri untuk mengatasi pencemaran (self recovery), namun alam memiliki keterbatasan. Setelah batas itu terlampaui, maka pencemar akan berada di alam secara tetap atau terakumulasi dan kemudian berdampak pada manusia, material, hewan, tumbuhan dan ekosistem.

Langkah Penyelesaian

Penyelesaian masalah pencemaran terdiri dari langkah pencegahan dan pengendalian. Langkah pencegahan pada prinsipnya mengurangi pencemar dari sumbernya untuk mencegah dampak lingkungan yang lebih berat. Di lingkungan yang terdekat, misalnya dengan mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan, menggunakan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle).

Di bidang industri misalnya dengan mengurangi jumlah air yang dipakai, mengurangi jumlah limbah, dan mengurangi keberadaan zat kimia PBT (Persistent, Bioaccumulative, and Toxic), dan berangsur-angsur menggantinya dengan Green Chemistry. Green chemistry merupakan segala produk dan proses kimia yang mengurangi atau menghilangkan zat berbahaya.

Tindakan pencegahan dapat pula dilakukan dengan mengganti alat-alat rumah tangga, atau bahan bakar kendaraan bermotor dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Pencegahan dapat pula dilakukan dengan kegiatan konservasi, penggunaan energi alternatif, penggunaan alat transportasi alternatif, dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Langkah pengendalian sangat penting untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat. Pengendalian dapat berupa pembuatan standar baku mutu lingkungan, monitoring lingkungan dan penggunaan teknologi untuk mengatasi masalah lingkungan. Untuk permasalahan global seperti perubahan iklim, penipisan lapisan ozon, dan pemanasan global diperlukan kerjasama semua pihak antara satu negara dengan negara lain.

Bab III

Contoh Kasus Pencemaran Lingkungan Yang Di Sebabkan Oleh Limbah crude oil Pertamina Balongan

Pencemaran Lingkungan

(sumber: Suara Pembaharuan, selasa 17 Februari 2009 hal 19)

PT. Pertamina Unit Produksi Balongan dengan kasus tumpahan minyak mentah (crude oil), sehingga mengakibatkan pencemaran berat. Menurut Deputi V Kementerian Lingkungan Hidup bidang penataan lingkungan mengatakan “PT Pertamina harus segera memperbaiki kerusakan peralatan produksi minyak yang mengakibatkan pencemaran lingkungan. Menurut kepala kantor lingkungan hidup Indramayu sejak tahun 2000 hingga 2007, rata-rata kasus kebocoran minyak terjadi sekali setahun. Tumpahan minyak jenis crude oil itu terjadi karena kebocoran saat pengisian dari kapal tanker ke tangki penampung darat melalui single buoy mooring (SBM). Data yang diperoleh dari Kementerian Lingkungan Hidup yang bertindak sebagai fasilisator kesepakatan menyebutkan, kebocoran minyak yang mengakibatkan 7.021 petambak dan 4.436 nelayan merugi. Tumpahan ceceran minyak akibat kebocoran mencapai pesisir pantai yang mengenai 4 Kecamatan dan 13 Desa dengan luas total tambak tercemar 11.457 hektar.

Ratusan Nelayan dan Petambak Demo Pencemaran Crude Oil Pertamina

Author: Indramayu Post | Posted at: Kamis, Januari 21, 2010 | Filed Under: Seputar Lingkungan Indramayu |

Indramayu – Proses rehabilitasi lingkungan akibat pencemaran crude oil Pertamina hingga kini tak kunjung selesai. Karenanya, ratusan massa yang terdiri dari nelayan dan petambak pun berunjuk rasa ke Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kabupaten Indramayu, Rabu (20/1).

Ratusan massa itu berasal dari empat kecamatan di Kabupaten Indramayu, yakni Kecamatan Sindang, Indramayu, Losarang dan Kandanghaur. Mereka tergabung dalam Persatuan Masyarakat Nelayan dan Petambak (PNMP) dan Rempug Wong Dermayu (RWD).

Dalam aksinya, mereka menuntut agar rehabilitasi lingkungan pantai yang terkena dampak pencemaran crude oil segera dilakukan. Sambil membentangkan spanduk dan poster berisi kecaman, massa bergerak dari GOR Singalodra menuju kantor pendopo Kabupaten Indramayu.

Di depan pintu gerbang pendopo, massa dihadang aparat keamanan gabungan dari Polsek dan Polres Indramayu. Di tempat tersebut, massa hanya melakukan orasi.

‘’Nelayan dan petambak sangat dirugikan dengan adanya pencemaran itu,’’ tegas salah seorang korlap, Masdi. Masdi menjelaskan, para nelayan dan petambak kehilangan pencaharian akibat peristiwa itu. Nelayan Indramayu harus melaut dengan jarak yang lebih jauh karena ikan menjadi mati. Tak hanya itu, jaring dan perahu pun rusak terkena ceceran crude oil.

Kerugian juga dialami para pemilik tambak. Budidaya tambak yang sebelumnya ditanam, juga menjadi mati. Menurut Masdi, kasus pencemaran sudah terjadi sejak pertengahan September 2008. Namun hingga kini, tidak ada langkah kongkret untuk merehabilitasi kembali perairan yang tercemar tumpahan crude oil.

Usai berorasi, massa lalu long march menuju KLH Kabupaten Indramayu yang berjarak sekitar satu kilometer. Akibat banyaknya massa, polisi harus menutup sejumlah ruas jalan protokol di Kota Indramayu untuk menghindari penumpukan kendaraan.

Di tempat itu, sejumlah perwakilan massa diterima Kepala KLH, Aep Surahman dan Kahupmas UP VI Pertamina Balongan, Darijanto. Dalam negosiasi antara kedua pihak, dihasilkan keputusan bahwa KLH dan Pertamina Balongan akan membantu para nelayan dan petambak. Caranya, dengan memfasiilitasi massa untuk menyampaikan keluhannya ke Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta, Jumat (22/1) mendatang.

‘’Rehablitasi pantai sedang dalam proses, hanya butuh waktu untuk disetujui oleh pejabat di Jakarta,’’ tegas Aep. Seperti diberitakan, pencemaran crude oil itu bermula dari adanya kebocoran di floathing hose di SBM 150.000 DWT milik Pertmaina UP VI Balongan, Ahad (14/9) sekitar pukul 10.48 WIB. Saat itu tengah erlangsung kegiatan bogkar crude oil dari Kapal Tanker MT Arendal yang akan ditransfer ke tanki darat di kilang Pertamina UP VI. Namun saat proses transfer berlangsung terjadi kebocoran. (Rep)

http://indramayu-post.blogspot.com/2010/01/indramayu-proses-rehabilitasi.html

Nelayan Indramayu Tuntut Ganti Rugi Pencemaran Cruide Oil

Senin, 15 Juni 2009 | 15:41 WIB

TEMPO Interaktif, INDRAMAYU:- Ratusan nelayan dari tiga kecamatan di Kabupaten Indramayu hari ini, Senin (15/6) mengelar long march. Mereka menuntut Pertamina melakukan pembayaran ganti rugi pencemaran cruide oil di perairan meeka.

Datang dengan sejumlah truk, mereka mengeruduk kantor Unit Pemasaran (UPMS) III Pertamina Balongan. Mereka berasal dari Kecamatan Kandanghaur, Losarang dan Juntinyuat. Namun cruide oil yang menyebabkan pencemaran di perairan Indramayu sebenarnya berasal dari Unit Pengolahan (UP) VI Pertamina Balongan.

Rakija, nelayan asal Kandanghaur mengaku tangkapan mereka berkurang drastis setelah cruide oil milik Pertamina mencemari perairan Indramayu. Pun juga Purwanto, nelayan asal Juntinyuat, yang mengaku kini hanya mendapat 1 kilogram, padahal biasanya 5 kg ikan. “Kami menuntut Pertamina mempercepat proses pembayaran ganti rugi dan merehabilitasi lingkungan akibat pencemaran” kata Purwanto.

Tak ditanggapi, ratusan massa mengalihkan demo ke pendopo Kabupaten Indramayu. Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu, Aep Surahman berjanji akan menguruskan. Menurut dia, saat ini, tinggal menunggu proses pembayaran ganti rugi. “Namun untuk pembayaran ganti rugi di Kecamatan Kandanghaur dan Losarang, kami belum bisa memutuskannya karena harus konsultasi dengan Pertamina dan Kementrian Lingkungan Hidup. “ujarnya.

Pencemaran sendiri bermula dari bocornya floathing hose di SBM 150.000 DWT milik Pertamina UP VI Balongan pada 14 September 2008. Saat itu tengah berlangsung kegiatan bongkar cruide oil dari kapal tanker MT Arendal yang akan ditransfer ke tanki darat di Kilang Pertamina UP VI. Namun saat proses transfer dilakukan, terjadilah kebocoran.

Selama ini, proses ganti rugi diprioritaskan untuk nelayan dan petambak di 4 kecamatan yang mengalami dampak langsung dari pencemaran tersebut yaitu Kecamatan Balongan, Indramayu, Pasekan dan Cantigi dengan jumlah penerima ganti rugi sekitar 12 ribu orang.

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/06/15/brk,20090615-181991,id.html

Bab IV

Penutub

Kesimpulan

Pencemaran lingkungan karena kecerobohan manusia yang berakibat merugikan alam atau lingkungan yang ada disekitarnya. Pencemaran lingkungan merupakan masalah kita bersama, yang semakin penting untuk diselesaikan, karena menyangkut keselamatan, kesehatan, dan kehidupan kita. Siapapun bisa berperan serta dalam menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, termasuk kita. Dimulai dari lingkungan yang terkecil, diri kita sendiri, sampai ke lingkungan yang lebih luas.

Permasalahan pencemaran lingkungan yang harus segera kita atasi bersama diantaranya pencemaran air tanah dan sungai, pencemaran udara perkotaan, kontaminasi tanah oleh sampah, hujan asam, perubahan iklim global, penipisan lapisan ozon, kontaminasi zat radioaktif, dan sebagainya.

Untuk menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, tentunya kita harus mengetahui sumber pencemar, bagaimana proses pencemaran itu terjadi, dan bagaimana langkah penyelesaian pencemaran lingkungan itu sendiri.