1. JUDUL : ANALISIS MODAL KERJA PADA PT. ASTRA INTERNASIONAL TBK DAN ANAK PERUSAHAAN
  2. B. LATAR BELAKANG MASALAH

Pembangunan di bidang ekonomi adalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan pembangunan nasional yang mempunyai peranan yang sangat penting yaitu sektor ekonomi menjadi tiang utama dalam pembangunan nasional.

Terdapat beberapa sektor yang  mendukung pelaksanaan pembangunan di bidang ekonomi di antaranya : sektor pemerintah, sektor koperasi dan sektor swasta. Di antara ketiga sektor tersebut, sektor swasta tidak kalah pentingnya di antara yang lainnya. Sektor swasta berperan secara langsung sebagai sektor mikro pemerintahan dalam memberikan kontribusi pada pelaksanaan peningkatan pembangunan. Untuk itu perlu adanya peningkatan baik kualitas maupun kuantitas produksi yang dihasilkan oleh perusahaan.

Setiap perusahaan selalu membutuhkan modal kerja untuk membelanjai operasinya sehari-hari, seperti untuk memberikan persekot pembelian bahan mentah, membayar upah buruh, gaji pegawai dan lain sebagainya, di mana uang atau dana yang telah dikeluarkan itu diharapkan akan kembali lagi masuk dalam perusahaan dalam waktu yang tidak terlalu lama melalui hasil penjualan produksinya. Dana yang masuk yang berasal dari penjualan produk tersebut akan segera dikeluarkan lagi untuk membiayai operasi sebelumnya. Dengan demikian maka dana tersebut akan terus menerus berputar setiap periodenya selama hidupnya perusahaan.

Murti Sumarni (1999 : 317) mengemukakan bahwa modal kerja bagi perusahaan yaitu modal yang dapat dan segera dijadikan uang kas dan digunakan untuk membelanjai keperluan sehari-hari.

Modal kerja secara umum dapat dipakai untuk mengukur apakah perusahaan mampu membayar kewajiban-kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi. Dengan pengaturan kerja yang maksimal, perusahaan akan mampu memenuhi kewajiban-kewajiban tersebut. Pengelolaan modal kerja dapat membantu pimpinan untuk pengembangan dan kemajuan perusahaan di waktu-waktu yang akan datang dengan lebih bonafit.

Dalam dunia usaha, banyak usaha yang kurang mampu mengatur atau mengelola modal kerja. Hal ini merupakan salah satu masalah yang rumit dihadapi oleh pimpinan atau pemilik usaha.

Demikian juga dengan PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk sebagai salah satu perusahaan terbesar di Indonesia yang merupakan bagian dari sektor swasta.

PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk didirikan pada tahun 1957 dan sampai saat ini memiliki banyak anak perusahaan yang bergerak dalam berbagai jenis bidang, yaitu dalam bidang distributor mobil Daihatsu, Isuzu, Toyota, BMW, Peugeot dan Nisan Disel. Selain itu juga sebagai distributor motor, khususnya motor Honda. PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk juga bergerak dalam bidang usaha rental kendaraan bermotor, seperti : Mobil dan Motor, juga bergerak dalam bidang agrobisnis, perbankan, asuransi, dan distributor peralatan berat.

Walaupun PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk sudah lama didirikan dan merupakan perusahaan besar dengan banyak anak perusahaan, perusahaan ini juga tidak luput dengan masalah-masalah yang dihadapi. Salah satu masalah yang dihadapi adalah banyaknya pesaing. Pasti setiap usaha apapun akan ada pesaing, di mana dengan berkompetitif diharapkan adanya perkembangan usaha.

Namun yang menjadi masalah di sini adalah dengan banyaknya pesaing selera konsumen berubah, sehingga harus menerapkan berbagai strategi dalam penjualan produk.

Masalah lain yang dihadapi oleh PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk adalah belum maksimalnya kualitas SDM pada anak perusahaan. Di mana sistem pengawasan manajemen akan karyawan kurang optimal. Dan dalam penjualan produk, karyawan ada yang belum memahami betul cara penghitungan penjualan kredit.

Piutang PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk juga mengalami peningkatan dan hal ini juga merupakan suatu masalah yang harus diperhatikan. Tahun 2004 jumlah piutang Rp. 3.605.920.000.000 namun pada tahun 2005 naik menjadi Rp. 5.379.750.000.000.

Selain mengalami peningkatan piutang, PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk juga mengalami kenaikan aktiva lancar yang tidak dibarengi dengan peningkatan kas. Pada tahun 2004 jumlah aktiva lancar Rp. 13.761.766.000.000 dan kas Rp. 5.326.131.000.000 dan pada tahun 2004 dan kas Rp. 3.938.633.000.000. Jika dilihat hal ini juga merupakan suatu masalah yang dihadapi perusahaan.

Pada pos investasi jangka pendek PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk mengalami penurunan, yaitu untuk tahun 2004 berjumlah Rp. 640. 652.000.000 dan tahun 2005 menurun menjadi Rp. 491.683.000.000 PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk juga mengalami peningkatan utang lancar. Tahun 2004 utang lancar Rp. 12.978.507.000.000 dan pada tahun 2005 mengalami peningkatan utang lancar menjadi RP. 14.603.140.000.000.

Masalah lain yang berpengaruh pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk adalah adanya peningkatan biaya usaha tanpa dibarengi dengan peningkatan laba usaha, dengan kata lain biaya usaha namun laba usaha turun. Untuk tahun 2004 biaya usaha berjumlah Rp. 5.337.965.000.000 dan laba usaha Rp. 4.975.438.000.000 dan pada tahun 2005 biaya usaha naik menjadi Rp. 7.305.902.000.000 dan laba usaha turun menjadi Rp. 6.413.974.000.000.

Untuk dana dalam membiayai kegiatan operasi perusahaan sehari-hari PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk juga mengalami peningkatan yaitu untuk tahun 2004 berjumlah Rp. 783.259.000.000 dan naik pada tahun 2005 menjadi Rp. 1.568.001.000.000. Hal ini merupakan suatu masalah dalam perusahaan, di mana dengan adanya peningkatan modal kerja perusahaan harus benar-benar dapat memanfaatkan modal kerja. Namun peningkatan modal kerja di sini diakibatkan adanya peningkatan piutang.

Dengan uraian masalah di atas dapat dilihat hampir semua masalah atau sebagian besar masalah berhubungan dengan modal kerja perusahaan, sehingga pimpinan PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk harus selalu aktif meneliti sumber dan pemanfaatan kerja agar modal kerja selalu berputar. Di mana modal kerja dalam perusahaan sangat penting. Dengan adanya pengelolaan modal kerja yang baik maka perusahaan dapat berlanjut dan likuid.

Untuk itu analisis modal kerja sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk bahkan setiap perusahaan.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul : “Analisis Modal Kerja Pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dan Anak Perusahaan”

 

  1. C. IDENTIFIKASI MASALAH
    1. Banyaknya pesaing
    2. Belum maksimalnya kualitas sumber daya manusia
    3. Terjadinya peningkatan piutang dari tahun 2004
    4. Terjadinya peningkatan aktiva lancar yang tidak dibarengi peningkatan kas.
    5. Adanya penurunan investasi jangka pendek dari tahun 2004.
    6. Terjadinya peningkatan biaya usaha tanpa dibarengi dengan peningkatan laba usaha.
    7. Terjadinya peningkatan dana dalam membiayai kegiatan  operasi perusahaan sehari-hari dari tahun 2004.

 

  1. D. PEMBATASAN MASALAH

Dari beberapa permasalahan di atas, penelitian ini hanya dibatasi pada: “Pemanfaatan modal kerja pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dan anak perusahaan”

 

  1. E. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan pada pembatasan masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimana pemanfaatan modal kerja pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dan anak perusahaan”

 

  1. F. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan utama penulis mengadakan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana tingkat efektif dan efisiensi pemanfaatan modal kerja pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dan anak perusahaan.

  1. G. MANFAAT PENELITIAN
    1. 1. Manfaat dari Segi Teoritis
      1. Mengembangkan pengetahuan penulis dalam memahami pemanfaatan modal kerja secara efektif dan efisien guna kelangsungan usaha.
      2. Sebagai bahan masukan pengetahuan di bidang keuangan terlebih khusus dalam menganalisis modal kerja.
      3. 2. Manfaat dari Segi Praktis
        1. Sebagai bahan masukan yang berharga bagi PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dalam memanfaatkan modal kerja secara efektif dan efisien.
        2. Diharapkan masukan dapat dijadikan bahan acuan untuk mengembangkan usahanya di masa yang akan datang.
        3. Merupakan sumbangan pemikiran yang dapat digunakan oleh PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dalam rangka pengambilan keputusan khususnya dalam bidang keuangan.
    2. H. LANDASAN TEORI
      1. 1. Pengertian Modal

Perusahaan atau badan usaha adalah suatu unit ekonomi yang memanfaatkan faktor-faktor produksi berupa bahan baku, bahan penolong, teknologi, modal dan sebagainya untuk diproses menjadi produk lain yang mempunyai daya guna dan nilai guna yang lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Jadi perusahaan memerlukan berbagai faktor produksi yang diperlukan.

Modal adalah salah satu faktor produksi yang penting di antara berbagai faktor produksi yang diperlukan. Bahkan modal merupakan faktor produksi penting untuk pengadaan faktor produksi seperti tanah, bahan baku dan mesin. Tanpa modal tidak mungkin dapat membeli tanah bahan baku dan teknologi lain.

J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland mengemukakan modal adalah suatu aktiva dengan umur lebih dari satu tahun yang tidak diperdagangkan dalam kegiatan bisnis sehari-hari. (Suyadi Prawirosentono 2002 : 365)

Modal bersumber dari investasi oleh para pemilik dan keuntungan-keuntungan salam perusahaan masih beroperasi. (Khusnadi 2002 : 365).

Menurut Schwiedland modal adalah meliputi modal dalam bentuk uang (geldkapital) maupun  dalam bentuk barang (sachkapital), misalnya mesin, barang-barang dagangan dan lain sebagainya. (Bambang Riyanto 2001 : 18).

Melihat konsep modal di atas dengan demikian penulis mengambil kesimpulan bahwa modal merupakan alat-alat lancar yang penting yang sangat diperlukan oleh perusahaan untuk menjalankan aktivitas yang terdiri dari uang kas, mesin, gedung dan barang-barang yang dibutuhkan perusahaan.


  1. 2. Pengertian Modal Kerja

Dalam operasinya perusahaan selalu membutuhkan dana harian misalnya untuk membeli bahan mentah, membayar gaji karyawan, membayar rekening listrik, membayar biaya transportasi, membayar hutang dan sebagainya. Dana yang dialokasikan tersebut diharapkan akan diterima kembali dari hasil penjualan produk yang dihasilkan dalam waktu tidak lama (kurang dari 1 tahun). Uang yang diterima tersebut dipergunakan lagi untuk kegiatan operasi perusahaan selanjutnya, dan seterusnya dana tersebut diputar selama perusahaan masih beroperasi.

Dana yang dipergunakan untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan sehari-hari disebut modal kerja. (Martono 2005 : 72).

Modal kerja (working capital) adalah investasi perusahaan di dalam aktiva jangka pendek seperti kas, sekuritas (surat-surat berharga), piutang dagang dan persediaan (J. Fred Weton dan Eugene F. Brigham 1996 : 157).

Wilford J. Eitemen dan J.H. Holts (2001) mendefinisikan modal kerja sebagai dana yang digunakan selama periode accounting yang dimaksudkan untuk menghasilkan “current income” (sebagai lawan dari future income) yang sesuai dengan maksud utama didirikan perusahaan tersebut.

Modal kerja adalah selisih antara aktiva lancar (current assets) dengan pasiva lancar (current liability). (Suyadi Prawirosentono 2002 : 129)

Modal kerja merupakan suatu unsur aktiva yang sangat penting dalam perusahaan. Karena tanpa modal kerja perusahaan tidak dapat memenuhi kebutuhan dana untuk menjalankan aktivanya. Masa perputaran modal kerja yakni sejak kas ditanamkan pada elemen-elemen modal kerja hingga menjadi kas lagi, adalah kurang dari satu tahun atau berjangka pendek. Masa perputaran modal kerja tersebut. Semakin cepat masa perputaran modal kerja semakin efisien penggunaan modal kerja dan tentunya investasi pada modal kerja semakin kecil.

Sumber dana berjangka pendek ditunjukkan oleh hutang lancar pada neraca. (Sutrisno, 2005 : 43)

Modal kerja adalah modal yang tertanam dalam aktiva lancar (Napa J. Awat, 1999 : 4008)

Bambang Riyanto (2001 : 57) mengemukakan konsep untuk lebih memahami pengertian modal kerja, konsep modal kerja (working capital) tersebut antara lain :

  1. Konsep kuantitatif

Konsep ini mendasarkan pada kuantitas dari dana tertanam dalam unsur-unsur aktiva lancar di mana aktiva ini merupakan aktiva yang sekali berputar kembali dalam bentuk semula atau aktiva di mana dana yang tertanam di dalamnya akan dapat bebas lagi dalam waktu yang pendek.

Dengan demikian modal kerja menurut konsep ini adalah keseluruhan dari jumlah aktiva lancar. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja bruto (gros working capital)

  1. Konsep kualitatif

Apabila konsep kuantitatif modal kerja itu hanya dikaitkan dengan besarnya jumlah aktiva lancar saja, maka pada konsep kualitatif ini pengertian modal kerja juga dikaitkan dengan besarnya jumlah utang lancar atau utang yang harus segera dibayar. Dengan demikian maka sebagian dari aktiva lancar ini harus disediakan untuk memenuhi kewajiban finansial yang segera harus dilakukan, di mana bagian aktiva lancar ini tidak boleh digunakan untuk membiayai operasinya perusahaan untuk menjaga likuiditasnya. Oleh karenanya maka modal kerja menurut konsep ini adalah sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasinya perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya, yaitu yang merupakan kelebihan aktiva tetap lancar di atas utang lancar. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja neto (net working capital).

  1. Konsep Fungsional

Konsep ini mendasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan pendapatan (income) setiap dana yang dikerjakan atau digunakan dalam perusahaan adalah dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan. Ada sebagian dana yang digunakan dalam suatu periode accounting tertentu yang seluruhnya langsung menghasilkan pendapatan bagi periode tersebut (current income) dan ada sebagian dana lain yang juga digunakan selama periode tersebut tidak seluruhnya digunakan untuk menghasilkan current income.

Dari ketiga konsep di atas dapat dilihat pengertian modal kera yang lebih spesifik. Dan dalam penelitian hanya membatasi modal kerja pada salah satu konsep yaitu lebih menitik beratkan modal kerja pada konsep kualitatif.

  1. 3. Jenis-Jenis Modal Kerja

W.B. Taylor menggolongkan modal kerja, sebagai berikut :

  1. Modal kerja permanen (permanen working capital) yaitu modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya, atau dengan kata lain modal kerja yang secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha permanen working capital ini dapat dibedakan dalam :
    1. Modal kerja primer (primary working capital) yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.
    2. Modal kerja normal (variable working capital) yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas  produksi yang normal.
    3. Modal kerja variabel (variable working capital) yaitu modal kerja yang berubah-ubah sesuai dengan persawahan keadaan, dan modal kerja ini dibedakan antara :
      1. Modal kerja musiman (seasonal working capital) yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim.
      2. Modal kerja siklis (cyclical working caopital) yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi konjungtur.
      3. Modal kerja darurat (emergeng working capital) yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya.

(Bambang Riyanto, 2001 : 61)

  1. 4. Kebijaksanaan Modal Kerja

Kebijaksanaan modal kerja merupakan strategi yang diterapkan oleh perusahaan dalam rangka memenuhi kebutuhan modal kerja dengan berbagai alternatif sumber dana. Seperti diketahui bahwa sumber dana untuk mengetahui modal kerja bisa dipilih dari sumber dan berjangka panjang atau sumber dana berjangka pendek masing-masing alternatif mempunyai konsekuensi dan kentungan. Modal kerja pada dasarnya adalah dana yang masa perputarannya berjangka pendek, tapi karena ada dana (modal kerja) yang selalu harus ada dalam perusahaan (modal kerja permanen) artinya dana tersebut harus ada dalam jangka panjang, maka perlu kebijaksanaan untuk mencari sumber pembelanjaan sehingga diperoleh biaya dana yang paling murah.

Kebijaksanaan modal kerja apa yang harus diambil oleh perusahaan ini tergantung dari seberapa besar keberanian mengambil risiko. Kebijaksanaan modal kerja yang bisa diambil adalah :

  1. Kebijaksanaan Konservatif

Rencana pemenuhan dana konservatif merupakan rencana pemenuhan dana modal kerja yang lebih banyak menggunakan sumber dana jangka panjang dibandingkan sumber dana jangka pendek. Dalam kebijakan ini modal kerja permanen dan sebagian modal kerja variabel dipenuhi oleh sumber dana jangka panjang, sedangkan sebagian modal kerja variabel lainnya dipenuhi dengan sumber dana jangka pendek. Kebijaksanaan ini disebut konservatif (hati-hati), karena sumber dana jangka panjang mempunyai jatuh tempo yang lama, sehingga perusahaan memiliki keleluasaan dalam pelunasan kembali artinya perusahaan mempunyai tingkat keamanan atau margin of safety yang besar.

  1. Kebijaksanaan Moderat

Pada kebijakan atau strategi pendanaan ini perusahaan membiayai setiap aktiva dengan dana yang jangka waktunya kurang lebih sama dengan jangka waktu tetap dan aktiva tersebut. Artinya aktiva yang bersifat permanen yakni aktiva tetap dan modal kerja permanen akan didanai dengan sumber dana jangka panjang, dan aktiva yang bersifat variabel atau modal kerja variabel akan didanai dengan sumber dana jangka pendek. Kebijakan ini didasarkan atas prinsip matching prinsiple yang menyatakan bahwa jangka waktu sumber dana sebaiknya disesuaikan dengan lamanya dana tersebut diperlukan. Bila dana yang diperlukan hanya untuk jangka pendek maka sebaliknya didanai dengan sumber dana jangka pendek, demikian pula kalau dana tersebut diperlukan untuk jangka panjang maka sebaiknya didanai dengan sumber dana jangka panjang. Dengan demikian risiko yang dihadapi hanya berupa terjadinya penyimpangan aliran kas yang diharapkan oleh karena itu kesulitan yang dihadapi adalah memperkirakan jangka waktu skedul arus kas bersih dan pembayaran hutang, yang selalu terdapat unsur ketidakpastian. Dan pada kebijakan ini akan muncul trade-oof antar profitabilitas dan risiko. Semakin besar margin of safety yang ditentukan untuk menutup penyimpangan arus kas bersih semakin aman bagi perusahaan, tetapi harus menyediakan dana yang jangka waktunya melebihi kebutuhan dana yang akan digunakan, akibatnya akan terjadi waktunya melebihi kebutuhan dana yang akan digunakan, akibatnya akan terjadi dana menganggur dan hal ini akan menurunkan profitabilitas. Dengan kata lain bila risiko rendah akan mengakibatkan profitabilitas juga rendah.

  1. Kebijakan Agresif

Bila pada kebijakan konservatif perusahaan lebih mementingkan  faktor keamanan sehingga margin of safety-nya sangat besar, tetapi tentunya akan mengakibatkan tingkat profitabilitas menjadi rendah. Sebaliknya dengan kebijakan agresif, maka sebagian kebutuhan dana jangka panjang akan dipenuhi dengan sumber dana jangka pendek. Pada pendekatan ini perusahaan berani menanggung risiko yang cukup besar, sedangkan trade-off yang diharapkan adalah memperoleh profitabilitas yang lebih besar.

(Sutrisno, 2005 : 46)

  1. 5. Sumber Modal Kerja

Sumber modal kerja perusahaan umumnya dari hasil operasi perusahaan. Misalnya, jumlah laba bersih yang tertera laporan perhitungan laba rugi, cadangan depresiasi dan amcitisasi. Jumlah modal kerja dapat pula berasal dari keuntungan yang ditahan (relatained carning). Jadi, adanya laba yang tidak diambil oleh pemegang saham, berarti laba tersebut dapat menambah modal kerja perusahaan.

Biaya operasi perusahaan terdiri dari biaya yang memerlukan pengeluaran uang atau menimbulkan utang yang menggunakan modal kerja. Misalnya, upah, gaji, premi asuransi dan sebagainya. Ada biaya yang tidak memerlukan pengeluaran uang pada saat itu dalam bentuk utang yang akhirnya harus dibayar dengan menggunakan modal kerja. Misalnya cadangan depresiasi, amortisasi dari diskonto obligasi dan sebagainya.

(Suyadi Prawirosentono, 2002 : 134).

  1. 6. Perputaran Modal Kerja

Modal kerja selalu dalam keadaan operasi atau berputar dalam perusahaan selama perusahaan yang bersangkutan dalam keadaan usaha. Periode perputaran modal kerja (woring capital turnover period) dimulai dari saat di mana kas diinvestasikan dalam komponen-komponen modal kerja sampai saat di mana kembali lagi menjadi kas.

Makin pendek periode tersebut berarti makin cepat perputarannya atau makin tinggi tingkat perputarannya (turnover rate-nya). Berapa lama periode perputaran modal kerja adalah tergantung kepada berapa lama periode perputaran dari masing-masing komponen dari modal kerja tersebut. (Bambang Riyanto 2001 : 62).

  1. 7. Jumlah Kebutuhan Akan Modal Kerja

Besarnya modal kerja baik yang bersifat permanen maupun variabel perlu ditentukan dengan baik agar efektif dan efisien. Penggunaan modal kerja yang tidak direncanakan dengan baik mengakibatkan modal kerja yang ada tidak digunakan sesuai dengan kebijakan yang ada. Pada umumnya modal kerja itu ditentukan oleh beberapa faktor, seperti :

  1. Cara penjualan kredit atau tunai.
  2. b. Kebijakan mengenai persediaan (inventor) termasuk EOQ dan reorder point.
  3. Kebijakan mengenai saldo kas. Atau dengan kata lain jumlah modal kerja itu tergantung dari tingkat operasi perusahaan.

Kebijakan penjualan secara kredit memang mempengaruhi jumlah kebutuhan akan modal kerja, karena apabila perusahaan menjual dengan tunai berarti pada saat transaksi dilakukan, perusahaan langsung menerima uang tunai yang dapat secara langsung pula digunakan untuk membiayai operasi berikutnya.

Jadi bagi perusahaan yang selalu menjual dengan tunai tidak memerlukan modal kerja yang besar dibandingkan dengan perusahaan yang menjual produknya dengan kredit yang berarti pada saat transaksi dilakukan harga barang itu belum diterima, sedangkan proses produksi tetap berjalan.

Demikian pula dengan perusahaan yang EOQ-nya dengan jumlah yang besar, akan memerlukan modal kerja yang besar pula dibandingkan dengan perusahaan yang EOQ-nya kecil. Perusahaan yang memerlukan safety stock yang besar akan memerlukan modal kerja yang besar pula dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki safety stock kecil. Pengaruh saldo kas sama dengan pengaruh EOQ.

Untuk menentukan besarnya jumlah kebutuhan akan modal kerja dapat digunakan beberapa metode, yaitu :

  1. Metode keterikatan dana dan pengeluaran kas

Dengan metode ini harus terlebih dahulu menentukan berapa jumlah pengeluaran kas setiap hari dan berapa lama itu terikat. Pengeluaran kas per hari itu biasanya untuk pembayaran upah tenaga kerja, dan untuk membayar harga bahan baku. Sedangkan lama dana itu terikat adalah jumlah waktu yang diperlukan saat pelepasan dana untuk pembelian bahan baku dan pembayaran upah tenaga kerja sehingga proses produksi, penjualan produk dan penerimaan kembali piutang dalam bentuk kas.

  1. Metode perputaran modal kerja

Dengan metode ini, kebutuhan modal kerja dapat ditentukan dengan cara membagi taksiran penjualan dengan perputaran modal kerja tahun lalu. Perputaran modal kerja tahun lalu itu diperoleh dengan cara membagi penjualan tahun lalu dengan rata-rata modal kerjanya.

Perputaran modal kerja dapat pula dicari dengan cara membagi 360 hari dengan jumlah keterikatan dana. Jumlah keterikatan dana dalam model kerja ini dapat diperoleh dengan cara jumlah keterikatan dana dalam kas, piutang, dan                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              dalam persediaan.

  1. Metode Cash Flow

Metode ini mendasarkan diri pada aliran kas masuk atau cash inflow (CIF) dan aliran kas keluar atau out flow (COF).

Kelebihan CIF di atas COF disebut aliran kas masuk bersih atau net cash inflow (NCIF). Perhitungan NCIF ini dilakukan setiap bulan. Jadi apabila NCIF ternyata negatifnya NCIF itu. Sedangkan apabila NCIF positif maka modal kerja tidak diperlukan. Metode ini tidak lain adalah metode penentuan modal kerja dengan menggunakan budget kas.

(Napa J. Awat, 1999 : 412).

  1. 8. Manajemen Modal Kerja

Manajemen modal kerja (working capital management) merupakan manajemen dari elemen-elemen aktiva lancar dan elemen-elemen hutang lancar (Martono 2005 : 72). Manajemen modal kerja (working capital management) mengacu pada semua aspek penata laksanaan aktiva lancar dan hutang lancar. (J. Fred Weton dan Eugene F. Brighan, 1996 : 157).

Kebijakan modal kerja (working capital policy) menunjukkan keputusan-keputusan mendasar mengenai target masing-masing elemen (unsur) aktiva lancar dan bagaimana aktiva lancar dibelanjai. Tujuan manajemen modal kerja adalah mengelola aktiva lancar dan hutang lancar sehingga diperoleh modal kerja neto yang layak dan menjamin tingkat likuiditas perusahaan.

Manajemen modal kerja yang sehat membutuhkan pengertian tentang interelasi aktiva lancar dengan hutang lancar serta antar modal kerja dan modal/investasi jangka panjang. Walaupun telaah manajemen modal kerja belum sedalam penelitian keputusan di bidang permodalan dan investasi jangka panjang, tetapi manajemen modal kerja yang tepat merupakan syarat keberhasilan suatu perusahaan. Sebagaimana kita lihat kebanyakan kepailitan timbul karena lemahnya kebijakan dan keputusan di bidang modal kerja. Manajemen modal kerja menentukan posisi likuiditas perusahaan. Manajemen modal kerja meliputi :

  1. Manajemen Kas

Setiap perusahaan dalam menjalankan usahanya selalu membutuh kas. Kas diperlukan baik untuk membiayai operasi perusahaan sehari-hari maupun untuk mengadakan investasi baru dalam aktiva tetap. Pengeluaran kas suatu perusahaan dapat bersifat terus menerus atau kontinu, yaitu : pembayaran bunga, dividen, pajak penghasilan, pembayaran angsuran utang, pembelian kembali saham perusahaan, pembelian aktiva tetap, dan lain sebagainya.

Kas adalah salah satu unsur modal kerja yang paling tinggi tingkat likuiditasnya. Makin besar jumlah kas yang ada dalam perusahaan maka tinggi tingkat likuiditasnya. Tapi makin besarnya kas yang ada dalam perusahaan makin banyaknya uang yang menganggur sehingga akan memperkecil profitabilitas perusahaan.

Dengan demikian perlu dilakukan usaha pengelolaan (manajemen) kas yang efektif dan efisien sehingga pemanfaatan kas tersebut dapat optimal. Dengan kata lain tujuan manajemen kas adalah untuk menentukan kas minimum yang selalu harus tersedia agar selalu dapat memenuhi kewajiban pembayaran yang sudah jatuh tempo.

  1. Manajemen piutang

Dalam rangka usaha untuk memperbesar volume penjualannya kebanyakan perusahaan menjual produknya dengan kredit. Penjualan kredit tidak segera menghasilkan penerimaan kas, tetapi menimbulkan piutang langganan dan barulah kemudian pada hari jatuh tempo t5erjadi aliran kas masuk yang berasal dari pengumpulan piutang tersebut.

Dengan demikian maka piutang (receivables) merupakan elemen modal kerja yang juga selalu dalam keadaan berputar secara terus menerus dalam ratai perputaran modal kerja.

Dalam keadaan yang normal dan di mana penjualan pada umumnya dilakukan dengan kredit, piutang mempunyai tingkat likuiditas yang lebih tinggi dari pada inventor, karena perputaran dari piutang ke kas membutuhkan satu langkah saja.

Manajemen piutang merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan yang menjual produknya dengan kredit. Manajemen piutang terutama menyangkut masalah pengendalian jumlah piutang, pengendalian pemberian dan pengumpulan piutang dan evaluasi terhadap politik kredit yang dijalankan perusahaan.

Tujuan pengelolaan piutang ini adalah untuk meningkatkan volume penjualan kredit dan memperkecil kemungkinan timbulnya risiko rugi dari penjualan kredit itu.

  1. Manajemen Persediaan

Inventor atau persediaan barang sebagai elemen utama dari modal kerja merupakan aktiva yang selalu dalam keadaan berputar, di mana secara terus menerus mengalami perubahan.

Dari segi negara persediaan adalah barang-barang atau bahan yang masih tersisa pada tanggal neraca atau barang-barang yang akan segera dijual, dipergunakan atau diproses dalam periode normal perusahaan. Dalam perusahaan manufaktur terdapat jenis-jenis persediaan seperti persediaan barang jadi (inventory of finished good), persediaan barang setengah jadi (inventor of work in procces, dan persediaan bahan baku atau mentah (inventor of row material). Persediaan sangat berkaitan dengan kegiatan penjualan produksi dan likuiditas.

  1. 9. Pentingnya Manajemen Modal Kerja

Ada beberapa alasan yang mendasari pentingnya manajemen modal kerja, yaitu :

  1. Aktiva lancar dari perusahaan baik perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa memiliki jumlah yang cukup besar dibanding dengan jumlah aktiva secara keseluruhan.
  2. Untuk perusahaan kecil, hutang jangka pendek merupakan sumber utama bagi pandangan eksternal. Perusahaan ini tidak memiliki akses pada pasar modal untuk pendanaan jangka panjangnya.
  3. Manajer keuangan dari anggotanya perlu memberikan porsi waktu yang sesuai untuk pengelolaan tentang hal-hal yang berkaitan dengan modal kerja.
  4. Keputusan modal kerja berdampak langsung terhadap tingkat risiko, laba, dan harga saham perusahaan.
  5. Adanya hubungan langsung antara pertumbuhan penjualan dengan kebutuhan dana untuk membelanjai aktiva lancar.

(Martono, 2005 : 74).

 

  1. I. KERANGKA BERPIKIR

Modal kerja merupakan suatu hal yang sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh perusahaan. Di mana modal kerja adalah dana yang dipergunakan untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan sehari-hari. Karena itu, adalah sangat bermanfaat bila modal kerja   PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dikaji demi kepentingan pengambilan keputusan yang tepat. Modal kerja PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk adalah tumpuan terlaksananya kegiatan operasi perusahaan itu sehari-hari dengan melihat lebih jauh mengenai pengalokasiannya pada aktiva lancar dan utang lancarnya maka akan didapatkan gambaran yang lebih jelas perilaku modal kerja di           PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk, sehingga akan terlihat apakah modal kerja di PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk telah tepat digunakan dalam hal pembiayaan kegiatan operasi perusahaan sehari-hari atau pengalokasiannya tidak efektif dan efisien.

Aktiva lancar dan utang lancar yang ada pada  PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk adalah menjadi fokus penelitian ini karena dari pengolahannya yang berorientasi pada waktu yang sehari-hari akan memberikan informasi demi termanfaatkannya modal kerja.

 

  1. J. METODOLOGI PENELITIAN
    1. 1. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan atau hubungan dengan variabel lain. (Sugiyono, 2003). Dan dengan metode ini dapat mengetahui dan memaparkan keadaan nyata pemanfaatan modal kerja pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dan anak perusahaan.

  1. 2. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Variabel penelitian yang digunakan adalah variabel modal kerja. Modal kerja adalah dana yang dipergunakan untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan sehari-hari. (Martono, 2005 : 72).

 

Indikator-indikator dari variabel modal kerja adalah :

  1. Aktiva lancar
  • Kas
  • Investasi jangka pendek
  • Piutang usaha
  • Piutang lain-lain
  • Persediaan
  • Pajak dibayar di muka
  • Pembayaran di muka lainnya
  1. Utang lancar
  • Pinjaman jangka pendek
  • Hutang usaha
  • Hutang lain-lain
  • Uang jaminan pembelian dari pelanggan dan uang muka penjualan
  • Hutang pajak
  • Beban yang masih harus dibayar
  • Pendapatan ditangguhkan
  • Kewajiban destinasi
  • Bagian jangka pendek dan hutang jangka panjang :

–       Pinjaman bank dan pinjaman lain-lain

–       Hutang obligasi

–       Hutang sewa guna usaha

  1. 3. Teknik Pengambilan Sampel

Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari populasi, yaitu data laporan keuangan PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk selama 3 tahun terakhir dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2006.

  1. 4. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang akurat maka peneliti menggunakan teknik dokumenter sebagai teknik pengumpulan data yaitu mengambil data tentang laporan keuangan selama 3 tahun terakhir pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dan anak perusahaan melalui media internet.

  1. 5. Teknik Analisis Data

 

Untuk menganalisis data menggunakan analisis non statistik dengan menggunakan analisis keuangan yaitu analisis likuiditas. Di mana analisis likuiditas sama dengan analisis modal kerja, dengan rumus yang digunakan :

  1. Current Ratio, untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar.

Current Ratio :

  1. Cash Ratio, untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan.

Cash Ratio :

  1. Quick (acid test) ratio, untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar utang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar yang lebih likuid.

Quick ratio :

  1. Working capital to total assets ratio, untuk mengukur tingkat likuiditas dari total aktiva dan modal kerja (neto).

Working capital to total assets ratio

Aktiva lancar-utang lancar

Jumlah aktiva

(Bambang Riyanto, 2001 : 322)

  1. 6. Tempat dan Waktu Penelitian
    1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk pusat dan media internet.

  1. Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini dilakukan sejak proposal disetujui atau izin survey dikeluarkan, yaitu selama ± 3 bulan.

DAFTAR PUSTAKA

Awat J. Napa, Manajemen Keuangan Pendekatan Matematis, PT. Gramedia Pustaka, Jakarta, 1999.

 

Manaronsong Johny, Metodologi Penelitian Ekonomi, Jurusan Ekonomi Fakultas Ilmu Sosial UNIMA, Tondano, 2005.

 

Martono Harjto Agus, Manajemen Keuangan, Ekonisia Kampus Fakultas Ekonomi UII, Yogyakarta, 2005.

 

Prawirosentono Suyadi, Pengantar Bisnis Modern (Studi Kasus Indonesia dan Analisis Kualitatif), Bumi Aksara, Jakarta, 2002.

 

Riyanto Bambang, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi 5, BPFE, Yogyakarta, 2001.

 

Sutrisno, Manajemen Keuangan (Teori, Konsep dan Aplikasi), Ekonisia, 2005.

 

Weton Fred J. Brigham F. Eugene, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Edisi Ketujuh Jilid 1, Erlangga, Jakarta, 1996.

www.astra.co.id

 

 

 

 

 

Proposal Penelitian

ANALISIS MODAL KERJA

PADA PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

 


 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

FAKULTAS ILMU SOSIAL

JURUSAN EKONOMI

2006