Archive for September, 2010


ANALISIS LIKUIDITAS

  1. A. LATAR BELAKANG MASALAH

Di era dunia usaha dewasa ini sudah banyak diwarnai dengan persaingan, oleh sebab itu peranan seorang manager sangat diperlukan bagi perkembangan suatu perusahaan. Saat sekarang ini diperlukan manager yang mempunyai kemampuan berkompetisi antar perusahaan, dapat melihat ketidakpastian situasi ekonomi dunia, dapat mengelola serta bisa mencari peluang bisnis yang baik yang bisa berpengaruh besar pada dan kesuksesan suatu perusahaan. Selain itu, kondisi keuangan suatu perusahaan sangatlah berpengaruh bagi kelangsungan perusahaan.

Kondisi keuangan suatu perusahaan akan diketahui melalui laporan keuangan perusahaan itu sendiri. Laporan keuangan (financial statement) memberikan penjelasan tentang keadaan finansial suatu perusahaan, dimana neraca (balance sheet) mencerminkan nilai aktiva, utang, modal sendiri sendiri pada suatu saat tertentu dan laporan laba rugi (income statement) mencerminkan hasil-hasil yang dicapai selama suatu periode tertentu.

(Bambang riyanto 2001:327)

Laporan keuangan dimaksudkan untuk memberikan informasi keuangan perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Pemilik perusahaan sangat berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaannya.

Dengan mengetahui posisi keuangan perusahaannya, manager perusahaan akan dapat menyusun rencana yang lebih baik, memperbaiki sistem pengawasannya dan menentukan kebijakan-kebijakan yang lebih tepat dan baik bagi perusahaan. Namun yang lebih penting bagi manager adalah laporan tersebut merupakan alat pertanggungjawaban di perusahaan.

Kreditor, sebelum mengambil keputusan untuk memberi atau menolak permintaan kredit dari suatu perusahaan, perlu mengetahui terlebih dahulu posisi keuangan dari perusahaan yang bersangkutan. Keadaan keuangan perusahaan peminta kredit akan dapat diketahui melalui pengananlisaan laporan keuangan perusahaan tersebut. Investor sangat memerlukan laporan keuangan dimana mereka menanamkan modalnya. Investor berkepentingan terhadap prospek keuntungan dan perkembangan perusahaan tersebut. Selanjutnya untuk mengetahui jaminan investasi dan mengetahui kondisi kerja atau kondisi keuangan jangka pendek perusahaan tersebut.

Pemerintah dimana prusahaan tersebut berdomisili, sangatlah berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaan, disamping untuk menentukan besarnya pajak yang harus ditanggung oleh suatu perusahaan juga diperlukan oleh biro pusat statistik, dinas perindustrian, perdagangan dan tenaga kerja untuk dasar perncanaaan pemerintah.

Untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan, harus selalu memeriksa kesehatan keuangan dari suatu perusahaan, salah satu alat yang biasanya digunakan dalam pemeriksaan keuangan adalah analisis rasio.

Analisis rasio keuangan merupakan teknik mengetahui secara cepat kinerja keuangan perusahaan. Tujuannya mengevaluasi situasi yang terjadi dewasa ini dan untuk memprediksi kondisi keuangan masa yang akan datang.

PT.Apreni Pratama Ocean Line Tbk didirikan tanggal 4 oktober 1975. Kantor pusat perusahaan berkedudukan di Wisma BSG lantai 7, Jalan Abdul Muis no 40, Jakarta pusat. Perusahaan ini merupakan perusahaan publik bergerak dalam bidang trasportasi. Perusahaan memulai produk bisnis dari kayu menyediakan jasa transportasi dengan cara log-tunggal, untuk menyediakan layanan yang efisien dan fleksibel pengiriman untuk barang curah kering, barang umum dan barang cair, serta menyediakan jasa keagenan, bongkar muat barang, penyewaan-keluar dari kapal dan jasa pengelolaan kapal.

Dalam Kegiatan PT Apreni Pratama Ocean Line. Tbk, tidak lepas dari permasalahan yaitu investasi jangka pendek yang terus meningkat dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008. Ditahun 2005 jumlah aktiva Rp. 179.057.669, tahun 2006 Rp.213.023.286.278, tahun 2007 Rp. 257.777.323.328 dan tahun 2008 Rp. 360.537.382. Namun pada tahun 2009 terjadi penurunan secara drastis, bahkan lebih kecil dari tahun 2005 yaitu Rp. 152.659.287.446.

Keadaan serupa juga terjadi pada kas dan setara kas, mengalami peningkatan ditahun 2005 sampai 2008 dan terjadi penurunan ditahun 2009. Tahun 2005 Rp. 170.375.420.369, tahun 2006 Rp 266.335.665.627, tahun 2007 Rp 438.521.472.586 dan tahun 2008 Rp 590.370.335.103 . Terjadi penurunan ditahun 2009 yaitu Rp 123.164.287.446.

Masalah lain yaitu utang usaha terjadi fluktuasi dimana tahun 2005 hutang usaha Rp. 144.551.636.331, tahun 2006 naik Rp. 311.776.438.425, ditahun berikutnya turun menjadi Rp. 81.364.483.941, 2008 naik Rp. 235.370.929.688 dan turun ditahun 2009 menjadi Rp. 173.156.680.320. hutang usaha pembelian berasal dari pihak ketiga dan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa.

Selain itu masalah lain yang juga dialami perusahaan adalah hutang jangka panjang yang jatuh tempo tidak stabil ditahun 2005 Rp. 232.909.300.610 terjadi penurunan ditahun berikutnya yaitu tahun 2006 Rp. 68.671.835.751. ditahun-tahun selanjunya terjadi peningkatan yaitu tahun 2007 Rp. 201.165.215.155,tahun 2008 Rp. 335.209.494.111 dan tahun 2009 Rp. 574.976.197.847.

Namun masalah-masalah tersebut masih perlu diteliti terutama dengan menggunakan analisis rasio likuiditas karena dengan analisis rasio likuiditas dapat mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajiban perusahaan dalam jangka waktu pendek atau yang segera harus dibayar dengan membandingkan rasio likuiditas dari satu periode ke periode selanjutnya selama lima tahun, dari tahun 2005 sampai tahun 2009. Ini dimaksudkan untuk dapat menyediakan informasi tentang posisi keuangan dan kinerja keuangan, meramalkan posisi dan kinerja keuangan dimasa yang akan datang apakah perusahaan dapat melunasi kewajiban-kewajibannya dalam waktu yang telah ditentukan.

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis merumuskan judul penelitian yaitu  “ Analisis Kemampuan Perusahaan Dalam Memenuhi Kewajiban Finansial pada                   PT. APRENI PRATAMA OCEAN LINE.Tbk. ”

  1. B. IDENTIFIKASI MASALAH, PEMBATASAN MASALAH DAN PERUMUSAN MASALAH
  2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar masalah yang telah dikemukakan, maka diidentifikasi masalah yaitu:

  1. Investasi jangka pendek yang terus meningkatdari tahun 2005 sampai 2008 dan terjadi penurunan drastis ditahun 2009.
  2. Keadaan kas dan setara kas pada tahun 2005 relatif lebih kecil dibandingkan tahun 2005, 2007 dan 2008.
  3. Hutang usaha yang berfluktuasi diperiode 2005 sampai tahun 2009.
    1. Hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun yang terjadi di tahun 2005 terjadi penurunan diperiode 2006 dan naik lagi ditahun 2007.
    2. Pembatasan Masalah

Mengingat masalah penelitian cukup luas sehingga penulis membatasi  pada masalah         ‘’ analisis kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansial periode lima tahun yakni periode 2005 sampai 2009 pada PT. Apreni Pratama Ocean Line. Tbk.

  1. Perumusan Masalah

Untuk lebih terarahnya penelitian ini maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut   “ Bagaimana tingkat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansial pada PT. Apreni Pratama Ocean Line Tbk.

  1. C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ialah menganalisis tingkat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansial PT. Apreni Pratama Ocean Line, Tbk.

  1. D. MANFAAT PENELITIAN

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagi penulis, diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman yang pastinya berguna diwaktu yang akan datang.
  2. Bagi perusahaan yang bersangkutan, diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi atau masukan untuk kebijakan kebijakan perusahaan pada periode-periode selanjutnya.
  1. c.    Bagi pihak-pihak lain, diharapkan hasil penelitian dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan serta menjadi referensi atau bahan masukan dalam penelitian serupa pada penelitian yang akan datang.
  1. E. TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Laporan Keuangan

Laporan keuangan pada dasarnya merupakan hasil refleksi dari sekian banyak transaksi yang terjadi dalam suatu perusahaan. Transaksi dan peristiwa yang bersifat finansial dicatat, digolongkan, dan diringkaskan dengan cara setepat-tepatnya dalam satuan uang, dan kemudian diadakan penafsiran untuk berbagai tujuan. Berbagai tindakan tersebut tidak lain adalah proses akuntansi yang pada hakikatnya merupakan seni pencatatan, pengolongan, peringkasan transaksi dan peristwa, yang setidak-tidaknya bersifat finansial, dalam cara yang tepat dan dalam bentuk rupiah dan penafsiran akan hasil-hasilnya.

Jumingan (2005:4) mengemukakan bahwa laporan keuangan hasil tindakan pembuatan ringkasan data keuangan perusahaan. Laporan keuangan ini disusun dan ditafsirkan untuk kepentingan manajemen dan pihak lain yang menaruh perhatian atau mempunyai kepentingan dengan data keuangan perusahaan.

Menurut bambang riyanto (2001:327) laporan finansial (financial statement) memberikan ikhtisar mengenai keadaan finansial suatu perusahaan, dimana neraca (balance sheet) mencerminkan nilai aktiva, utang dan modal sendiri pada suatu saat tertentu dan laporan rugi dan laba (income statement) mencerminkan hasil-hasil yang dicapai selama satu periode tertentu biasanya meliputi periode satu tahun.

j.fred Weston dan Thomas. E Copeland (1999:17) laporan keuangan atau financial statement biasanya dalam bentuk neraca dan perhitungan rugi-laba berisi informasi tentang prestasi perusahaan dimasa lampau dan dapat memberikan petunjuk untuk kebijakan.

Martono dan Agus Harjito (2005:51). Laporan keuangan (financial statement) merupakan ikhtisar mengenai keadaan keuangan suatu perusahaan  pada suatu saat tertentu. Analisis laporan keuangan merupakan analisis mengenai kondisi keuangan suatu perusahaan yang melibatkan neraca dan laba rugi.

Menurut H. Sutrisno (2005:9) laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi yang meliputi dua laporan utama yakni:  (1) neraca dan (2) laporan rugi laba. Laporan keuangan disusun dengan maksud untuk menyediakan informasi keuangan suatu perusahaan kepada    pihak – pihak yang berkepentingan sebagai bahan pertimbangan di dalam mengambil keputusan. Pihak – pihak yang berkepentingan tersebut antara lain manajemen, pemilik, kreditor, investor dan pemerintah.

Napa. J. Awat (1999:385) analisis keuangan merupakan suatu penilaian terhadap kinerja perusahaan pada waktu yang lalu dan prospek pada masa yang akan datang. Melalui analisis keuangan diharapkan kita dapat menemukan kekuatan dan kelemahan perusahaan dengan menggunakan informasi yang dikandung suatu laporan keuangan. Sebagaimana diketahui laporan keuangan adalah media informasi yang merangkum semua aktivitas perusahaan. Jika informasi ini disajikan dengan benar, informasi tersebut sangat berguna bagi siapa saja untuk mengambil keputusan tentang perusahaan yang dilaporkan tersebut. Laporan keuangan merupakan media yang paling penting untuk menilai prestasi dan kondisi ekonomis suatu perusahaan.

Konsep Analisis Rasio

Sebuah laporan keuangan yang menyajikan tentang keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan serta kemajuan-kemajuan yang telah dicapai memerlukan analisa lebih lanjut. Mengadakan analisa hubungan dari berbagai pos dalam suatu laporan keuangan adalah merupakan dasar untuk dapat menginterpretasikan kondisi keuangan dan hasil operasi suatu perusahaan. Dengan menggunakan laporan yang diperbandingkan, diperlukan berbagai rasio yang akan membantu dalam menganalisa dan menginterpretasikan posisi laporan keuangan suatu perusahaan.

Freddy Rangkuti (2005:69), analisa rasio keuangan merupakan teknik untuk mengetahui secara cepat kinerja keuangan perusahaan. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi situasi yang terjadi saat ini dan untuk memprediksi kondisi keuangan masa yang akan datang.

Bambang Riyanto (2001:330) mengelompokkan rasio finansial menjadi tiga golongan, yaitu:

  1. Rasio-rasio neraca (balance sheet ratios), ialah rasio-rasio yang disusun dari data yang berasal dari neraca, misalnya current ratio, acid-test ratio, current assets to total assets ratio dan lain sebagainya.
  2. Rasio-rasio laporan rugi laba (income statement ratios), ialah rasio-rasio yang disusun dari data yang berasal dari income statement, misalnya gross profit margin, operating ratio dan lain sebagainya.
  3. Rasio-rasio antar laporan (inter statement ratios) ialah rasio-rasio yang disusun dari data yang berasal dari neraca dan data lainnya berasal dari income statement misalnya assets turn over, inventory turn over, receivables turn over dan lain sebagainya.

Ada yang mengelompokkan rasio-rasio sebagai berikut:

  1. Rasio likuiditas adalah rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur likuiditas perusahaan.
  2. Rasio laverage adalah rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur sampai berapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan utang.
  3. Rasio-rasio aktivitas yaitu rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur sampai berapa besar efektifitas perusahaan dalam mengerjakan sumber-sumber dananya.
  4. Rasio-rasio profabilitas, yaitu rasio-rasio yang menunjukan hasil akhir dari sejumlah kebijkasanaan dan keputusan-keputusan.

H. sutrisno (2005:230), rasio keuangan diperoleh dari cara-cara menghubungkan   elemen-elemen laporan keuangan. Ada dua pengelompokkan jenis-jenis laporan keuangan, pertama rasio menurut sumber dari mana rasio dibuat dan dapat dikelompokan menjadi:

  1. Rasio-rasio neraca (balance sheet ratio)

Merupakan rasio yang menghubungkan elemen-elemen yang ada pada neraca saja.

  1. Rasio-rasio laporan rugi laba (income statement ratio)

Yaitu rasio yang menghubungkan elemen-elemen yang ada pada laporan rugi laba saja.

  1. Rasio –rasio antar laporan (inter statement ratios)

Rasio  yang menghubungkan elemen-elemen yang ada pada dua laporan, neraca dan laporan rugi laba.

Sedangkan yang kedua, jenis rasio yang menurut tujuan penggunaan rasio yang bersangkutan. Rasio-rasio ini dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Rasio likuiditas atau liquidity ratios

Rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar hutang –hutang jangka pendeknya.

  1. Rasio laverage atau laverage ratios

Rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan evektivitas perusahaan dalam memanfaatkan sumber dananya.

  1. Rasio aktivitas atau activity ratios

Yaitu rasio-rasio untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan sumber dananya.

  1. Rasio keuntungan atau profitability ratios

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam mendapatkan keuntungan.

  1. Rasio penilaian atau valuation ratios

Rasio-rasio untuk mengukur kemampuan manajemen untuk menciptakan nilai pasar agar melebihi biaya modalnya.

Lukas Setia Atmaja (1999:415). Rasio keuangan di desain untuk memperhatikan hubungan-hubungan antara item-item pada laporan keuangan (neraca dan laporan keuangan). Ada lima jenis laporan keuangan:

  1. Laverage ratios, memperhatikan berapa hutang yang digunakan perusahaan.
  2. Liquidity ratios, mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo.
  3. Efficiency atau turn over atau assets management ratios, mengukur seberapa efektif perusahaan mengelola aktivanya.
  4. Profitability value ratios, memperhatikan bagaimana perusahaan dinilai oleh investor     di pasar modal.
  5. Market value ratios, memperhatikan bagaimana perusahaan dinilai oleh investor si pasar modal.

Napa J. Awat (1999:385) dalam analisis rasio terdapat lima kelompok rasio keuangan:

  1. Rasio likuiditas

Menunjukkan kemampuan suatu perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban keuangannya dalam jangka waktu pendek atau yang segera harus dibayar.

  1. Rasio aktivitas

Menunjukan seberapa cepatnya unsur-unsur aktiva dikonversikan menjadi penjualan ataupun kas.

  1. Rasio laverage

Berusaha mengukur penjaminan hutang, baik dengan menggunakan total aktiva maupun modal sendiri.

  1. Berusaha mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba, baik dengan menggunakan seluruh aktiva yang ada maupun dengan menggunakan modal sendiri.
  2. Nilai pasar

Nilai pasar dimaksudkan adalah nilai pasar saham biasa yang ada dalam perusahaan.

Munawir (2000:64) rasio menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan (mathematical relations) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberikan gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang          di gunakan sebagai standar.

Lukman Syamsuddin (2004:39). Pada intinya ada dua cara yang dapat dilakukan didalam membandingkan rasio finansial perusahaan yaitu:

  1. Cross sectional approach adalah suatu cara mengevaluasi dengan jalan membandingkan rasio-rasio antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya yang sejenis pada saat yang bersamaan.
  2. Time series analysis, dilakukan dengan jalan membandingkan rasio-rasio finansial perusahaan dari satu periode ke periode lainnya. Pembandingan antara rasio yang dicapai saat ini dengan rasio pada masa lalu akan memperhatikan apakah perusahaan mengalami kemajuan atau kemunduran.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan didalam penggunaan rasio-rasio antara lain:

  1. Sebuah rasio saja tidak dapat digunakan untuk menilai keseluruhan operasi yang telah dilaksanakan. Untuk menilai keadaan perusahaan secara bersama-sama. Kalau sekiranya hanya satu aspek saja yang ingin dinilai, maka satu atau dua rasio saja sudah cukup digunakan.
  2. Pembandingan yang digunakan haruslah dari perusahaan sejenis pada saat yang sama.
  3. Sebaiknya perhitungan rasio finansial didasarkan pada data laporan keuangan yang sudah diaudit (diperiksa). Laporan keuangan yang beku diaudit masih diragukan kebenaranya, sehingga ratio-ratio yang telah dihitung juga kurang akurat.
  4. Adalah sangat penting untuk diperhatikan bahwa pelaporan atau akuntansi yang digunakan haruslah sama.

Konsep Ratio Likuiditas

Modal kerja dari suatu perusahaan merupakan jumlah dari aktiva lancar yang dimiliki perusahaan yang melebihi jumlah tuntutan dari pada kreditur jangka pendek, dan oleh karena itu maka perusahaan dapat bebas bekerja dengan jumlah kelebihan itu. Dengan demikian semakin besar jumlah dari modal kerja atau jumlah aktiva-aktiva lancar maka jumlah modal kerja itu merupakan suatu ukuran dari likuiditas.

Likuiditas menurut H. Sutirsno (2005:231) adalah kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajiban yang segera harus dipenuhi. Kewajiban yang segera harus dipenuhi adalah hutang janga pendek, oleh karena itu rasio ini bisa digunakan untuk mengukur apakah operasi perusahaan tidak akan terganggu bila kewajiban jangka pendek ini segera ditagih. Ukuran rasio likuiditas terdiri dari tiga alat ukur:

1) Current ratio

Current ratio adalah rasio yang membandingkan antara aktiva lancar yang dimiliki perusahaan dengan hutang jangka pendek. Aktiva lancar disini meliputi kas, piutang dagang, efek, persediaan dan aktiva lancar lainnya. Sedangkan hutang jangka pendek meliputi hutang dagang, hutang wesel, hutang bank, hutang gaji dan hutang lainnya yang segera harus dibayar.

Rumus current ratio:

Current ratio =

2)      Quick ratio atau acid test ratio

Quick ratio merupakan rasio antara aktiva lancar sesudah dikurangi persediaan dengan hutang lancar. Rasio ini menunjukan besarnya alat likuid yang paling capat yang bisa diguakan untuk melunasi hutang lancar. Persediaan dianggap aktiva lancar yang paling tidak lancar, sebab untuk menjadi uang tunai (kas) memerlukan dua langkah yakni menjadi piutang terlebih dahulu sebelum menjadi kas.

Rumus untuk menghitung Quick Ratio:

Quick ratio =

3) Cash ratio

Cash ratio adalah rasio yang membandingkan antara kas dan aktiva lancar yang bias segera menjadi uang kas dengan hutang lancar. Aktiva lancar yang bias segera menjadi uang kas adalah efek atau surat berharga.

Rumus untuk menghitung Cash Ratio adalah:

Cash ratio =

Munawir (2000:72) mengemukakan bahwa untuk menilai posisi keuangan jangka pendek (likuiditas) terdapat beberapa rasio yang dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisa dan menginterpretasikan data tersebut:

1) Current ratio

Current ratio yaitu perbandingan antara jumlah aktiva lancar dengan hutang lancar. Current ratio menunjukan tingkat keamanan (margin of safety) kreditor jangka pendek, atau kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutang tersebut.

2) Acid test ratio

Rasio ini juga sering disebut sebagai quick ratio yaitu perbandingan antara (aktiva-persediaan) dengan hutang lancar. Rasio ini merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban dengan tidak memperhitungkan pesediaan, karena persediaan memerlukan waktu yang relatif lama untuk direalisir menjadi uang kas, walaupun kenyataan mungkin persediaan lebih likuid dari pada piutang.

3)      Perputaran piutang

Makin tinggi rasio (turn over) menunjukan modal kerja yang ditanamkan dalam piutang rendah, sebaliknya kalau rasio semakin rendah berarti ada over investment dalam piutang sehingga memerlukan analisa lebih lanjut.

4)      Perputaran persediaan

Turn over persediaan adalah merupakan rasio antara jumlah harga pokok barang yang dijual dengan nilai rata-rata persediaan yang dimilliki oleh perusahaan.

5)      Perputaran Modal Kerja

Untuk menganalisa posisi modal kerja dapat digunakan beberapa rasio lainnya, misalnya rasio antar aktiva lancar dengan total aktiva, rasio antara tiap-tiap pos dalam aktiva lancar dan lain-lain.

Menurut Lukman Syamsudin (2004:41). Likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia, likuiditas tidak hanya berkenan dengan keseluruhan tetapi juga berkaitan dengan kemampuan untuk mengubah aktiva lancar tertentu menjadi uang kas.

Menurut James C. Van horne, Jhon M Wachowich (1997:135). Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Rasio ini membandingkan kewajiban jangka pendek dengan sumber  jangka pendek untuk memenuhi kewajiban tersebut. Rasio yang paling sering digunakan adalah rasio lancar. Semakin tinggi rasio lancar, seharusnya semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar tagihannya.

Menurut Erich A. Helfert (1996:95), likuiditas yaitu suatu cara untuk menguji proteksi yang diperoleh pemberi pinjaman berpusat pada krerdit jangka pendek yang memberikan kepada perusahaan yaitu aktiva lancar yang dapat segera dikonversikan menjadi kas, dengan asumsi-asumsi ini dapat menjadi pelindung dalam menghadapi kegagalan.

Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Pengertian lain adalah kemampuan seseorang atau perusahaan untuk memenuhi kewajiban atau utang yang harus segera dibayar dengan harta lancar.

(www.wikipedia.org)

Likuiditas (likuid) adalah kemampuan perusahaan untuk menyediakan kas (atau setara kas). Jika perhatikan pada neraca, setelah kas adalah pos-pos aktiva yang dsusun berdasarkan kemampuan aset-aset tesebut dikonversi kedalam bentuk kas. Misalnya, piutang akan diletakkan sebelum persediaan karena relatif lebih mudah menjadikan kas. Tingkat likuiditas perusahaan biasanya diukur dengan beberapa rasio, seperti rasio lancar (current ratio) dan acid test ratio. Makin tinggi rasio-rasio ini, menunjukan kemampuan perusahaan untuk menyediakan kas (terutama untuk melunasi kewajiban lancarnya) makin baik.

Likuiditas mengukur kemampuan mengubah suatu aset menjadi uang tunai dengan segera tanpa kehilangan nilai awalnya. Dengan pengertian ini maka uang tunai adalah merupakan aset yang paling likuid. Sebaliknya, property adalah termasuk dalam kategori aset yang paling tidak likuid. Sementara bentuk investasi seperti reksa dana, saham, deposito, tabungan adalah bentuk yang cukup likuid yang walaupun ketika ditukarkan segera menjadi uang tunai bisa terjadi pengurangan nilai.

(www.sinarharapan.co.id)

Sofyan Syafri Harahap (2004:301) likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. Rasio ini dapat dihitung melalui sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar atau utang lancar. Rasio lancar (current ratio) menunjukan sejauh mana aktiva lancar menutupi kewajiban-kewajiban lancarnya. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan utang lancar semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya. Rasio lancar yang lebih aman jika berada diatas 1 atau diatas 100%

Menurut Bambang Riyanto (2005:231) masalah likuiditas adalah berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi. Ukuran rasio likuiditas terdiri dari empat alat ukur:

1) Current ratio

Kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar. Aktiva lancar disini meliputi kas, piutang dagang, efek, persediaan dan aktiva lancar lainnya. Sedangkan hutang jangka pendek meliputi hutang dagang, hutang wesel, hutang bank, hutang gaji dan hutang lainnya.

Current ratio =

2) Cash ratio

Kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan.

Cash ratio =

3) Quick ratio

Kemampuan untuk membayar utang lancar yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar yang lebih likuid.

4) Working Capital To Total Assets Ratio

Likuiditas dari total aktiva dan posisi modal kerja (neto)

Working Capital To Total Assets Ratio =

  1. F. KERANGKA BERPIKIR

Suatu analisis rasio likuiditas perlu diterapkan dalam menganalisis laporan keuangan suatu perusahaan, karena laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi, sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan. Data keuangan tersebut akan lebih berarti lagi bagi pihak-pihak yang berkepentingan apabila data tersebut dibandingkan dua periode atau lebih dan analisis lebih lanjut sehingga dapat diperoleh data yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil.

Kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban financial jangka pendeknya pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia menentukan likuid tidaknya perusahaan tersebut.

Dengan menggunakan rasio likuiditas selama periode lima tahun yaitu mulai tahun 2005 sampai tahun 2009, akan memperlihatkan apakah PT. APRENI PRATAMA OCEAN LINE Tbk mengalami kemajuan atau kemunduran dalam hal kewajiban finansial jangka pendeknya, sehingga akan terlihat kinerja dari perusahaan tersebut.

  1. G. METODOLOGI PENELITIAN
    1. Metodologi penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Maksudnya penelitian yang berusaha untuk menentukan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data yang menyajikan, menganalisa dan menintepretasikannya, yang bertujuan untuk pemecahan masalah secara sistematis dan faktual. (cholid marbuko 2001)

  1. H. VARIABEL PENELITIAN

Untuk memecahkan permasalahan yang telah dikemukakan tadi maka variable-variabel yang diukur adalah:

Current ratio: -   aktiva lancar

-          Utang lancar

Cash Ratio:   -     kas

-          Efek

-          Utang lancar

Quick Ratio:  -     kas

-     efek

-     piutang

-     utang lancar

Working Capital to total assets ratio: – Aktiva lancar

- Utang lancar

- jumlah aktiva

  1. I. POPULASI DAN SAMPEL

POPULASI

Populasi adalah keseluruhan karakteristik yang diteliti yang berhubungan dengan Likuidtas. Unit populasinya adalah laporan keuangan PT. Apreni Pratama Ocean Line Tbk.

SAMPEL

Teknik pengambilan sempelnya adalah purposive sampling,yaitu laporan keuangan PT. Apreni Pratama Ocean Line Tbk pada pembukuan selama lima periode, Yakni tahun 2005, 2006, 2007, 2008, 2009.

  1. J. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Untuk memperoleh data, penulisan menggunakan teknik dokumenter, yaitu untuk mengamati keadan PT. Apreni Pratama Ocean Line Tbk khususnya berhubungan dengan variabel yang diteliti.

  1. K. TEKNIK ANALISIS DATA

Dalam teknik analisis data yang ada, maka penulisan menggunakan analisis rasio pembukuan selama empat tahun periode. Rasio yang digunakan adalah rasio likuiditas, dengan metode perhitungan sebagai berikut:

a)      Current Ratio

b)      Cash Ratio

c)      Quick Ratio

d)     Working Capital To Total Assets Ratio

( bambang riyanto 2001:332)

  1. L. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

a)      Tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan pada PT. Apreni Pratama Ocean Line Tbk

b)      Waktu penelitian

Waktu penelitian selama tiga bulan.

DAFTAR PUSTAKA

Admaja, Lukas. Manajemen Keuangan. ANDI. Yokyakarta. 1999

Harahap, Sofyan. Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2004

Munawir, s. Analisa Laporan Keuangan. Liberty. Yogyakarta. 2000.

Awat. J.Napa. Manajemen keuangan: Pendekatan Matematis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1999.

Samuel. Likuiditas, Ask A Question. http://www.e-samuel.com. Diaskes bulan febuari 2007.

Wikipedia. Pelaporan Keuangan. http://wikipedia.org. Diaskes bulan febuari 2007.

Wetson J. Brigham Eugene. Teknik Analisis Keuangan. Erlangga Jakarta. 1996

INVESTASI DI PROPERTY

Investasi di property masih jadi pilihan utama kebanyakan orang, sebab orang beranggapan bahwa itu adalah salah satu cara terbaik untuk mengembangkan uang. Secara umum investasi property dianggap lebih aman daripada jenis investasi lainnya. Sebabnya Anda menguasai atau mengelola sendiri investasinya, jadi Anda bisa mengendalikan hampir semuanya. Namun hal itu bukanlah satunya keuntungan berinvesatsi di property, karena yang paling menarik sebenarnya dari invesatsi di property ini memungkinkan Anda untuk menggunakan uang orang lain untuk mulai berinvestasi.

Kebanyakan produk investasi lain banyak dipengaruhi oleh faktor luar. Misalnya harga-harga di bursa saham bisa naik turun dengan cepat bahkan signifikan karena isu atau gossip seputar politik, kebijakan pemerintah, keamanan negara, kondisi ekonomi, atau seperti obligasi yang harganya turun saat angka inflasi dan suku bunga naik. Dibandingkan property yang walaupun juga terpengaruh faktor luar, namun perubahannya tidak terlalu cepat, misalnya harga rumah tentunya tidak bisa berubah begitu saja dalam sehari tetapi butuh tahunan.

Keuntungan Investasi di Property
Dengan berinvestasi ke property, Anda mempunyai kesempatan untuk mendapatkan hasil return investasi yang besar. Jika Anda lihat Donald Trump pengusuha property dari Amerika atau Ir. Ciputra dari Indonesia, mereka kaya raya dari bisnis property. Bank juga memiliki property, jika kita perhatikan gedung kantor pusat bertingkat tinggi yang megah, belum lagi puluhan jumlah kantor cabangnya

Banyak cara untuk berinvestasi ke property. Anda bisa memulainya dengan membeli rumah tinggal, ruko, membangun rumah sewaan, bangunan komersial lainnya atau tanah kosong. Dari semua pilihan ini, membeli dan menjual rumah sewaan lebih baik dipilih bagi mereka yang baru akan mulai berinvestasi di property, kemudian sedikit-sedikit menabung dari hasil sewa untuk diinvestasikan kembali..Jika Anda perhatikan banyak orang tertarik untuk membuat rumah sewaan, sebab dengan menjadi induk semang memungkinkan Anda memiliki harta yang bisa Anda kontrol sendiri, kemudian menjualnya nanti. Kabar baiknya Anda tidak memerlukan uang banyak untuk memulai investasi Anda di property.

Penting sekali memahami mengapa property seringkali menjadi pilihan utama orang untuk mengembangkan harta kekayaannya, alasannya bukannya karena property tidak berisiko. Seperti investasi lainnya di property juga mempunyai kendala misalnya para penyewa yang telat membayar sewa rumah, pindah tanpa memberitahu, bangunan yang rusak, kesulitan apapun bisa terjadi. Intinya jika Anda bersedia repot dengan urusan semacam ini, maka investasi di property memang untuk Anda.
Menggunakan Uang Orang lain “ Other People’s Money “
Salah satu hal yang paling menarik dari investasi di property adalah bahwa sistemnya dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan Anda untuk menggunakan uang orang lain untuk membiayai investasi Anda. Ini adalah salah satu konsep terpenting yang membuata rproperty bisa menjadikan Anda bisa lebih kaya dibandingkan investasi lainnya.

Pada jenis investasi lain maka besarnya jumlah investasinya sangat ditentukan dari seberapa banyak Anda bersedia dan mampu membayarnya dengan tunai. Jadi untuk membeli investasi lain Anda barus membayarnya tunai dengan asumsi menggunakan uang Anda sendiri. Kita ambil saja contohnya investasi di pasar modal. Untuk membeli saham maka Anda harus membayar tunai seluruhnya dari kesuluruhan transaksinya, kecuali Anda melakukan margin trading yang sebenarnya sangat berisiko. Begitu juga investasi di obligasi, reksadana, deposito dan tabungan di bank, bahka emas dan barang koleksi yang bernilai seni, semuanya mensyaratkan pembayaran tunai seluruhnya.

Investasi di property tidak demikian, Anda bisa saja membayar sebesar uang muka rumahnya sebesar 10% sampai dengan 30% dari harga rumahnya dalam rangka untuk memiliki barangnya kemudian sisanya bisa dibiayai dari pinjaman ke bank. Jangankan bank, bahkan developernya sendiripun mau memberikan keringanan pembayaran cicilan untuk pembayaran uang muka pembelian barangnya.

Kesempatan untuk menggunakan uang orang lain terwujud dalam bentuk pembiayaan ini disebut dengan istilah leverage, atau kemampuan dalam melipatgandakan sesuatu. Contohnya, dihari pertama Anda berhasil mendapatkan kredit rumah dengan pembayaran uang muka sebesar Rp 30 juta, maka dihari itu pula aset tunai Anda langsung bertambah menjadi Rp 100 juta. Dengan menggunakan pembiayaan maka investasi rumah bisa berlipat ganda dengan dua cara. Pertama, semakin banyak uang yang diinvestasikan maka semakin besar uang orang lain atau pembiayaan yang bisa Anda dapatkan, misalnya dengan uang Rp 30 juta, maka Anda hanya bisa membeli saham sampai sebesar Rp 30 juta. Namun dengan jumlah uang yang sama jika diinvestasikan ke dalam property, maka Anda bisa membeli rumah seharga Rp 100 juta. Dimana Anda membayar uang muka rumah sebasar Rp 30 juta, kemudian bank membiayai sisanya sebesar Rp 70 juta, selanjutnya Anda menjadi pemilik sebuah bangunan seharga Rp 100 juta. Bukankah jumlah tersebut lebih dari 3 kalinya atau 300% berlipat ganda ? Luar biasa.
Mengapa Real Estate Menguntungkan
Menggunakan uang orang lain atau menggunakan pembiayaan merupakan salah satu saja dari kemudahan yang bisa dimanfaatkan dakam berinvestasi ke property. Namun selain itu masih banyak keuntungan investasi di property yang membuatnya sangat menarik di bandingkan investasi lainya.

  1. Arus Kas, “Cash Flow“,
    Arus kas adalah uang yang Anda terima secara rutin atas uang yang Anda tanamkan dalam suatu investasi. misalnya bunga tabungan dan deposito adalah arus kas karena memberikan pendapatan untuk Anda. Dalam property, uang sewa bisa menjadi pemasukan atau arus kas untuk Anda. Semakin banyak bangunan yang bisa Anda sewakan maka semakin besar pula arus kas Anda.
  2. Nilai kepemilikan Anda terhadap rumah tersebut meningkat.
    Nilai kepemilikan atau hak Anda terhadap investasi property yang dibiayai dari konsep menggunakan uang orang lain tadi akan meningkat, jauh melebihi hutang atau kewajiban Anda. Hak kepemilikan seseorang dalam suatu investasi ini dikenal dengan istilah equity. Contohnya jika pembelian investasi property Anda sebesar Rp 100 juta, yang dibiayai oleh bank Rp 70 juta, sisanya yang Rp 30 juta memakai uang Anda sendiri. Maka hak kepemilikan Anda terhadap investasi senilai Rp 100 juta tadi adalah sebesar Rp 30 juta atau 30%nya. Hak kepemilikan akan bertambah nilainya karena adanya pembayaran cicilan hutang yang mengurangi kewajiban. Selain itu hak kepemilikan Anda juga bertambah karena nilai propertinya naik. Nilai property Anda akan naik disebabkan inflasi yang membuat harga barang dan jasa mengalami kenaikan termasuk property. Akibat inflasi ini bukan cuma nilai propertinya yang naik tetapi juga Anda mempunyai kesempatan untuk menaikkan arus kas atau pendapatan rutin Anda dengan cara menaikkan uang sewa rumah sejalan dengan inflasi tadi. Kenaikan nilai property ini bahkan bisa menaikkan kekuatan meminjam Anda. Bank biasanya dengan senang hati memberikan pinjaman tambahan berdasarkan kenaikan harga agunannya atau propertinya. Anda bisa mengunakan uang ini untuk melunasi saldo hutang yang lama, dan sisa uang dari pinjaman tersebut bisa masuk kantong Anda. Kemudian untuk cicilan pinjaman baru sesuaikanlah dengan pemasukan uang sewa.
  3. Kesempatan untuk membangun bangunan yang lebih besar lagi, setelah Anda berhasil melunasi hutangnya, Anda akan mempunyai lebih banyak uang untuk dialokasikan, misalnya untuk membuat property yang sudah ada menjadi lebih besar lagi. Banyak investasi property dimulai dari sebuah bangunan kecil, tetapi karena ada pendapatan dari sewa yang bisa mencover cicilan hutang bulanan, maka membuat propertinya menjadi bangunan lebih besar menjadi sangat mungkin.

Sulitkah Mendapatkan Pinjaman Untuk Investasi Property?
Bagian paling sulit dari semua bisnis adalah mendapatkan uang untuk membiayai bisnis tersebut. Orang bahkan masih sangat sulit untuk meminjam kredit usaha dari bank untuk memulai usaha. Bank biasanya hanya mau memberikan pinjaman hanya kepada bisnis yang sudah berjalan 2 tahun. Hal ini tidak berlaku saat Anda mau meminjam uang ke bank untuk membeli rumah. Tidak peduli apakah Anda baru membeli rumah untuk pertama kalinya atau untuk yang kesekian kalinya, kredit rumah bisa diberikan oleh bank untuk pembelian rumah yang ke berapapun. Selain itu dari sisi bank kredit rumah juga dianggap sebagai jenis kredit yang risikonya paling rendah.

Sebab besarnya cicilan kredit rumah disesuaikan dengan penghasilan Anda, dengan demkian bank berasumsi bahwa debiturnya sudah mempunyai penghasilan yang stabil yang bisa digunakan untuk membayar cicilan bulanan. Kemudian dilihat dari segi jaminanya yaitu bangunan itu sendiri, yang kita ketahui terus mengalami kenaikan harga, maka tidak heran kalau jaminannya umumnya bisa mengcover hutangnya.
Langkah – Langkah Memulai Investasi Di Property
Walaupun ada kesempatan menggunakan pinjaman untuk membiayai investasi property Anda, bukan berarti Anda menjadi lengah. Investasi di property tetap membutuhkan komitmen penggunaan uang dan waktu. Jadi melakukan riset dan menetapkan rencana sebelum berinvestasi di property sangatlah penting. Karena langkah paling awal dan paling penting begitu Anda memutuskan untuk berinvestasi ke property adalah mempelajari segala sesuatunya tentang property sebanyak yang Anda bisa.

  • Terus belajar, ada banyak sumber informasi yang bisa Anda dapat untuk belajar tentang investasi property misalnya dari buku – buku, kursus, seminar, juga internet dan lain-lain. Untuk mengenal bisnis property Anda juga bisa mengambil kerja paruh waktu sebagai broker property. Keuntungannya, selain Anda bisa mempraktekkan apa yang Anda pelajari dari berbagai sumber informasi tadi, Anda juga bisa mendapatkan komisi penjualan dari property yang Anda jual. Belum lagi kesempatan untuk membangun jaringan atau network yang tentunya akan sangat bermanfaat untuk membantu bisnis property Anda nanti. Melakukan riset terlebih dahulu akan membuat Anda “awas” terhadap risiko atau problem-problem yang mungkin timbul berkenaan dengan kepemilikan property misalnya bisa terjadi masalah dengan para penyewa, biaya-biaya perawatan bangunan.
  • Bekerja samalah dengan agen penjual rumah atau broker property, setelah Anda membekali diri Anda dengan informasi yang memadai tentang bisnis property maka selanjutnya carilah seorang agen penjual rumah atau broker property yang bersedia membantu Anda memahami lebih jauh tentang bisnis property. Carilah agen penjual yang sudah berpengalaman minimal 2 tahun, biasanya mereka sudah jauh lebih menguasai bisnis property. Sebaiknya Anda mencari agen penjual rumah yang bekerja fulltime daripada partime, sebab dikhatirkan mereka tidak bisa memenuhi
  • Riset mengenai suku bunga, kenaikan harga property, harga sewa,jika Anda mau menggunakan pembiayaan dari bank maka bandingkanlah suku bunga kredit bank yang satu dengan yang lain dan carilah yang paling kompetitif. Kemudian juga mengenai asumsi kenaikan harga propertinya sehingga Anda bisa menentukan kira-kira berapa harga jualnya suatu saat nanti. Jangan lupa jika Anda ingin mendapatkan pemdapatan dari sewa ruamh, maka sebelum menentukan harga sewa carilah informasi mengenai harga sewa rumah yang pantas untuk daerah tersebut yang disesuaikan dengan kondisi bangunannya.

Your Action Plan
Setelah Anda berketetapan hati untuk berinvestasi di property, maka selanjutnya Anda tinggal menetapkan tujuan dari investasi property Anda secara spesifik dan terukur. Misalnya Anda ingin mendapatkan uang Rp 100 juta yang Anda tanamkan dalam investasi property e atau pembelian property bisa menjadi Rp 1 M dalam 10 tahun. Setelah Anda menetapkan tujuan barulah Anda bisa menentukan jenis property apa yang cocok untuk mencapai tujuan tersebut, apakah perumahan, bangunan komersial.. Hitunglah berapa banyak jumlah uang yang dibutuhkan untuk nvestasi tersebut, kondisi pasar propertinya, kemudian jumlah uang sewa yang bisa Anda harapkan, juga berapa banyak bangunan yang bisa Anda beli. Dengan melakukan riset seperti dianjurkan diatas, maka Anda bisa memperkirakan berapa banyak uang yang mesti Anda sediakan dan berapa hasil investasi yang bisa diharapkan untuk terus berkembang. Anda bahkan bisa perkirakan berapa lama property tersebut harus Anda tahan sebelum menjualnya. Dengan membuat tujuan keuangannya akan memberikan Anda semacam pedoman untuk memulai bisnis baru Anda, mengambil tindakan-tindakan yang perlu, melakukan antisipasi risiko, kemudian melakukan investasinya.
Selamat berinvestasi !

Salam
Mike Rini
Perencana Keuangan

kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi

© 2000 Safir Senduk & Rekan

Yang perlu diperhatikan apabila berinvestasi dibidang properti perkantoran antara lain :

  1. Jaminan Keselamatan Modal Setiap orang yang menginvestasikan uangnya selalu mengharapkan keselamatan akan modal yang diinvestasikan. Selamat berarti nilai modal yang diinvestasikan tidak berkurang bahkan bertambah.
  2. Jaminan Pendapatan Adanya aliran pendapatan yang akan diperoleh investor, besar kecilnya pendapatan tersebut ikut menentukan keputusn yang akan diambil investor. Properti yang disewakan maka pendapatannya diperoleh dari pendapatan sewa
  3. Mudah Dibeli dan Dijual Mudah sulitnya suatu investasi untuk dibeli atau dijual ditinjau dari segi biaya, waktu dan prosedurnya. Persayaratan detail seperti perjanjian jual beli, jasa notaris/ PPAT, pemasangan iklan dan pajak properti perlu diperhatikan.
  4. Dapat dipecah dalam unit kecil-kecil Biasanya investasi yang memerlukan modal kecil, relatif lebih mudah dijual.

Berikut ini adalah beberapa karateristik yang terdapat dalam investasi dibidang properti :

  1. Investasi adalah lebih bersifat jangka panjang.
  2. Biaya untuk membeli dan menjualnya adalah relatif tinggi.
  3. Waktu yang diperlukan untuk membeli dan menjualnya lama.
  4. Bukti pemilikan kadangkala dapat menjadikan masalah yang penting.
  5. Jumlah modal yang diperlukan untuk membeli tanah dan bangunan adalah relatif lebih tinggi dan tidak dapat dibeli sebagian dari sahamnya.
  6. Mungkin terdapat banyak masalah dalam pengurusan dalam hal pemilikannya.
  7. Tanah adalah terbuka pada pengaruh undang-undang dan kebijaksanaan serta politik negara, dimana hal ini mungkin akan mempunyai pengaruh negatif terhadap suatu kepentingan atas tanah tersebut.
  8. Pemilikan tanah merupakan lambang ” status sosial” seseorang.
  9. Nilai tanah senantiasa naik seiring dengan waktu dan merupakan satu kontrol yang baik terhadap inflasi.

Investasi Properti :

  • Yang dimaksud Properti disini, adalah rumah, apartemen, ruko, kost-kosan, kavling dan sejenisnya
  • Biasanya termasuk dalam investasi jangka panjang
  • Perlu modal relatif besar

Bagusnya investasi di properti :

  1. jumlah tanah relatif tidak bertambah
  2. kelihatan, bisa disentuh, bisa dipercantik untuk meningkatkan nilainya
  3. relatif sangat aman, sulit dirampas, dicuri atau digelapkan.
  4. bank mau pinjamin uang kalo kita beli properti (!) dengan paling rendah dibandingkan bunga pinjaman lainnya (wow !)
  5. tidak merepotkan
  6. relatif konsisten kenaikannya (capital gain)
  7. relatif konsisten imbal hasilnya (hasil sewa)
  8. bisa dibeli lebih murah daripada harga jualnya
  9. ada 2 pemasukan, yaitu dari naiknya harga tanah dan dari hasil sewa yang jika digabung sering (jauh) lebih tinggi daripada hasil deposito
  10. lebih mudah dimengerti

Jeleknya investasi di Properti :

  • Relatif susah cair/tidak likuid (ada solusinya kok..)
  • Turunnya harga (kalau salah memilih)
  • Tidak ada imbal hasil, karena gak dapat penyewa
  • Info (harga pasar) terbatas
    Sebagai bantuan mencari info pasar, anda bisa ke sini
  • Sangat dipengaruhi kebijakan pemerintah
    Misalnya kasus Busway Di Metro Pondok Indah (menurunkan harga jual), busway lewat daan mogot KM 14 (menaikan harga jual), jalur tol dekat Perumahan Alam Sutera (menaikan harga tanah)

Kita bisa berinvestasi di properti dengan membeli di pasar seken ataupun pasar primer

Aspek lain yang perlu di perhatikan adalah KPR – Kredit Pemilikan Rumah, Legalitas Properti dan Lokasi


Investasi Properti Booming Pada 2009

Rabu, 04 Juni 2008 | 00:20 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengamat properti Panangian Simanungkalit memprediksi investasi properti akan kembali booming pada 2009. Sebab pada
tahun itu kondisi ekonomi Indonesia akan lebih baik, apalagi Dewan Pengurus Pusat Real Estate Indonesia (REI) mempercepat rancangan kepemilikan properti asing.

Kondisi perekonomian tahun depan, kata dia, akan sama seperti pada 2004. Kala itu pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3 persen dengan tingkat inflasi turun menjadi 6 persen. “Tahun depan tahun yang bagus karena inflasi bisa turun menjadi 6 persen,” kata Panangian dalam peluncuran Tower The Tiffany Kemang Village, di Jakarta, Selasa (3/6).

Dia menyarankan, konsumen sebaiknya membeli investasi tahun ini. Sebab pengembang tak bisa mengambil untung besar seiring naiknya harga bahan bangunan akibat imbas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan minyak mentah dunia. “Konsumen untung,” kata dia.

Menurut Panangian, pasar properti yang belum tergarap secara optimal yakni di kelas premium yang memiliki potensi Rp 5 triliun per tahun. Pertumbuhan kelas itu bisa mencapai 20-30 persen. “Dalam 25 tahun terakhir suplainya hanya 3 ribu unit,” ujarnya. Akibatnya, lanjut dia, peminat kelas premium memilih membeli properti di Singapura. Menurut dia, jumlah belanja properti warga Indonesia di negeri Singa itu mencapai Rp 10 triliun per tahun. Rieka Rahardian

Akuntansi Properti Investasi, perbedaan antara PSAK 13 (Revisi 2007) dengan IAS 40 (as revised in 2003)

September 10, 2008 — Hardi

Seperti yang sudah pernah saya singgung dalam tulisan-tulisan sebelumnya, bahwa terdapat beberapa PSAK revisian tahun 2007 yang mulai berlaku efektif sejak 1 Januari 2008, salah satu diantaranya adalah PSAK No. 13 tentang Properti Investasi (Revisi 2007) yang menggantikan PSAK No. 13 tentang Akuntansi untuk Investasi (1994).

Adapun revisi PSAK No. 13 tahun 2007 dilakukan terutama dalam rangka konvergensi dengan IFRS yang dikeluarkan oleh IASB.

Sesuai dengan tujuan tersebut, isi dari PSAK No. 13 (Revisi 2007) tersebut hampir sepenuhnya mengadopsi seluruh paragraf IAS 40 (2003) Investment Property kecuali untuk beberapa paragraf berikut :

1. IAS 40 paragraf 4 (a) tentang aset biologis yang kemudian menjadi PSAK No. 13 paragraf 4 (a) karena belum mengadopsi IAS 41 Agriculture;

2. IAS 40 paragraf 79 (d) (iii) tentang pengungkapan untuk model biaya yang kemudian menjadi PSAK No. 13 paragraf 82 (d) iii karena belum mengadopsi IFRS 5 Non-current Assets Held for Sale and Discontinued Operations;

Mitos Seputar Investasi di Sektor Properti

By Admin ⋅ March 3, 2008 ⋅ Kirim ke teman Print This PostKirim komentar

Oleh: Imam Semar*
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 19, Tanggal 03 Maret 2008

Rekan saya bertanya tentang kenapa blog ini [yang dikelolanya--peny.] dinamakan “Ekonomi Orang Waras dan Investasi”. Jawabnya sederhana saja. Pada dasarnya di blog ini, persoalan dilihat dengan objektif. Asumsi dasar harus diuji. Penyusunan kesimpulan harus runut, tidak ada lompatan logika (logical leap) dan berdasarkan reaIitas. Contoh saya suka untuk kesimpulan yang tidak runut adalah dalih untuk memilih sistem demokrasi.

Dalil dasar: “Power tends to corrupt
Maka: “Distribute the power to people

Di mata orang waras kalau ada dalil: “Power tends to corrupt” maka konsekuensi logisnya: “more people with power, leads to more corruption”. Bukan demokrasi atau rule by mob sebagai jawaban untuk menghindari korupsi.

Cara berpikir yang runut penting sekali dalam memecahkan semua persoal hidup, dari mulai bernegara, beragama sampai ke ekonomi. Di samping runut, kesimpulan juga harus berdasar realita. Saya ingat ketika saya masih duduk di sekolah dasar. Ibu guru mengajarkan ilmu alam menerangkan topik perubahan fase.

Katanya: “Di alam ini ada 3 fase. Fase padat, cair dan gas. Bila zat padat, seperti es dipanaskan, ia akan meleleh pada temperatur tertentu. Setelah menjadi cair, jika dipanaskan akan menjadi air, zat cair. Bila dipanaskan terus, akhirnya mendidih dan menjadi uap air, zat gas.”

Waktu itu saya bantah: “Telor tidak seperti itu. Telor ayam adalah benda cair, zat cair. Bila dipanaskan menjadi padat, dan kalau dipanaskan terus akan hangus”. Tentu saja bantahan ini membuat ibu kelabakan.

Problem utama dari ibu/bapak guru adalah mereka menelan materi kurikulum dan seperti beo diucapkan kembali ketika mengajar di hadapan muridnya. Asumsinya bahwa muridnya juga akan menelan mentah-mentah tanpa melakukan cek realitas. Benda di alam ini bukan es-air-uap saja. Masih ada telor (mentah/matang), kayu, kanji, lem, gula, plastik. Ibu guru terlalu menyederhanakan masalah sehingga nampaknya mudah dicerna. Tetapi dalam realita yang sebenarnya lebih kompleks. Mungkin ibu guru harus membuat mengecualian-pengecualian. Kalau itu yang dia lakukan, maka pengecualian itu lebih banyak dari pada yang bukan pengecualian. Jadi apa itu namanya?

Kali ini kita akan membahas sesuatu yang sudah menjadi opini publik yaitu investasi properti yang katanya tidak pernah rugi. Tentu saja dengan cek realitas.

SALAHKAN ROBERT KIYOSAKI!

Properti – investasi tidak pernah rugi” kata teman saya. “Paling tidak properti atau membeli rumah tidak akan pernah rugi”. Ucapan dia mewakili opini masyarakat umum, termasuk istri saya. Opini masyarakat umum ini adalah hasil pembelajaran dari pengalaman beberapa dekade setelah kemerdekaan.

Catatan: Saya tekankan lagi kata setelah kemerdekaan. Karena antara sebelum dan sesudah kemerdekaan, ada perbedaan yang mendasar yang dilatarbelakangi oleh sistem keuangan dianut Indonesia. Di jaman penjajahan, Belanda menggunakan sistem pseudo-gold (uang sejati) [sic!--peny.]; sedang setelah kemerdekaan, pemerintah republik menggunakan sistem moneter uang fiat, atau uang yang jadi berharga karena undang-undang.

Opini tentang investasi properti ini ada benarnya dan ada salahnya. Seorang teman mengeluhkan tentang investasi di sektor properti miliknya yang jebol. Awalnya dia terinspirasi oleh buku-buku serial “Poor Dad, Rich Dad”-nya Robert Kiyosaki. Uang/asset yang bekerja untuk anda, passive income. Dia terjun dan membeli 2 apartemen untuk disewakan. Cicilannya Rp 40 juta per bulan. Dia sewakan dengan harga US$ 2000 per bulan (1 US$ = Rp 9000). Jadi pada dasarnya uang cicilan dapat dibayari oleh uang sewa apartemen, dengan tambahan sedikit. Ini berlangsung beberapa bulan. Entah karena jumlah apartemen yang terus bertambah, dan/atau ekonomi yang melambat, maka apartemennya tidak ada penyewa. Ini berlangsung cukup lama sehingga dia mengalami kesulitan untuk membayar cicilan hutangnya. Mau dijual, tidak mudah. Pasar apartemen atau properti tidak liquid. Pendek kata dia terperangkap. Akhirnya dia terbebani oleh cicilan dan biaya perawatan bulanan apartemennya. Asset yang seharusnya menghasilkan income, sekarang menjadi liability yang lengket dan tidak bisa dilepaskan. Mampuslah kau. Kenapa tidak berpikir ketika menuruti anjuran Robert Kiyosaki.

Dia tidak sendirian. Saya punya banyak teman yang memiliki satu, dua, tiga rumah ekstra yang tidak ditempati bahkan dibiarkan rusak dimakan hujan dan terik matahari karena sudah bosan mengeluarkan biaya perawatan. Kadang-kadang kalau ada uang rumah itu direnovasi yang memakan biaya yang tidak sedikit. Kalau situasi sudah seperti ini, mungkin kita harus merenungkan apakah ajaran Robert Kiyosaki itu benar. Yang pasti Robert Kiyosaki kaya karena penjualan buku dan game-nya.

Banyak teman saya yang sudah terjerumus ke dalam konsep asset yang memberikan income pasif ternyata adalah liability, menentramkan diri dengan mengatakan bahwa harga propertinya terus naik. Jadi dia masih untung. Tentu saja argumennya tidak didukung dengan analisa keekonomian, analisis cash flow.

PENYERDERHANAAN

Orang yang profesinya bukan di bidang properti atau pemula di bidang properti secara alamiah sering melakukan penyederhanaan. Asumsi yang dipakai pada saat membeli properti sederhana dan cenderung melihat “upside case” saja – atau dalam bahasa awamnya melihat untungnya saja. Misalnya, properti akan disewakan dan mencari penyewa mudah. Kenyataannya adalah sebaliknya. Demikian juga untuk menjual rumah. Jangan dikira seperti menjual emas. Tinggal pergi ke pasar dan dijual di toko emas.

Menjual/menyewakan rumah bisa mudah dan bisa susah. Saya melihat banyak rumah dengan papan penawaran “Dijual” atau “Disewakan” di depannya sampai bertahun-tahun dan tidak laku. Bahkan pengalaman mertua saya untuk menjual rumahnya di Jln. Darmawangsa X, Jakarta, tepat di sebelah Wijaya Grand Center Jakarta, perlu waktu 8 tahun. Lakunya ketika harganya diturunkan hanya 40% dari harga pasar.

Asumsi dan penyederhaan satu lagi ialah masalah depresiasi dan perawatan. Banyak pemula tidak memperhitungkan biaya yang harus dikeluarkan selama rumah itu kosong ketika menunggu penyewa atau pembeli. Rumah/apartemen bukan emas. Properti memerlukan perawatan. Musuh rumah bukan saja alam, cuaca, tetapi juga tangan jahil, pemulung dan penyerobot. Tanah saja perlu pagar dan penjaga supaya tidak bisa diserobot orang atau pagarnya tidak diambili pemulung. Apa lagi rumah. Jangan heran kalau anda melihat rumah kosong yang satu-per-satu bagian-bagiannya (pagar, pintu, jendela, ubin, kayu-kayunya) hilang. Jangan heran juga kalau rumah itu ditempati pemulung, yang kalau diusir akan minta uang pesangon.

Andaikata perencanaan perawatan dan penjagaan sudah ada, perlu dipikirkan biaya perbaikan besar secara berkala. Rumah adalah asset yang terdepresiasi. Kayu-kayunya, catnya, besi pagarnya bisa menua/rusak dimakan umur. Oleh sebab itu perlu perawatan besar secara berkala (5 tahun sekali misalnya).

Tantangan akan ada sebelum menjual properti milik anda, jika anda mengupah seorang penjaga, harus dipikirkan bagaimana mem-PHK-nya ketika rumah itu terjual. Jadi banyak faktor yang harus diperhitungkan. Oeh sebab itu sebelum anda memutuskan untuk memiliki rumah ke II, III, dst. untuk investasi, perlu dipikirkan matang-matang.

Dan yang terakhir ialah masalah pajak, baik itu pajak bumi dan bangunan (PBB) atau pajak penjualan dan pajak pendapatan. Untuk pajak penjualan, kemungkinan besar di masa datang akan lebih diintensifkan lagi oleh pemerintah, baik besarnya atau caranya (sulit lolos). Ha ini akan mengurangi keekonomian usaha properti. Ingat, pemerintah hanya mau untungnya saja (menarik pajak) tetapi mereka tidak mau ikut menanggung risiko kerugian. Itulah pemerintah.

MITOS KEBUTUHAN RUMAH TERUS MENINGKAT

Setelah kita membahas unsur dalam struktur biaya yang sering dilupakan orang, kita akan melihat bahwa persepsi bahwa kebutuhan rumah selalu meningkat itu tidak selalu benar. Asumsi ini yang mendasari pandangan kenapa harga properti terus naik.

Cek realita: sejak diintensifkannya di tahun 1970an program keluarga berencana dengan semboyan “cukup dua anak, laki prempuan sama saja” berjalan sangat sukses. Saat ini kebanyakan keluarga hanya memiliki 1-2 anak saja. Pertumbuhan penduduk hanya 1%-1.3%, itupun karena umur penduduk yang cenderung lebih panjang. Anak-anak di masa depan cukup mewarisi rumah orang tuanya saja. Jadi kebutuhan rumah, tidak memperoleh dukungan dari sektor demografi. Ini berbeda dengan Malaysia, di mana mempunyai anak 4 adalah biasa dan keluarga dengan 12 masih banyak. Konsekuensi logisnya ialah kebutuhan rumah dan bangunan komersial (hotel, pasar, mall dan supermarket) di Malaysia di masa mendatang akan meningkat. Di Malaysia, demografi masih mendukung. Sedang di Indonesia tidak.

Faktor imigrasi juga tidak mendukung. Malaysia dan Thailand adalah surga bagi imigran kaya, ekspatriat yang ingin pensiun di kedua negeri ini. Mereka mempunyai program yang dikenal dengan nama grey citizen, program untuk pensiunan kaya/mampu untuk tinggal di Malaysia dan Thailand. Dan Indonesia tidak punya. Bahkan untuk memiliki properti saja, tidak terlalu mudah bagi orang asing.

Pendorong kebutuhan rumah hanyalah spekulasi, perpindahan penduduk dan naiknya tingkat kemakmuran. Saya meragukan naiknya tingkat kemakmuran. Memang secara nominal, pendapatan per kapita naik, tetapi secara riil tidak. Ini sering saya bahas, misalnya di artikel-artikel berseri “Kemakmuran atau Ilusi” [ini dan ini --peny.].

Dengan demikian yang tersisa adalah faktor pendorong karena spekulasi dan perpindahan penduduk, baik perpindahan secara ekonomi (dari ekonomi lebih rendah ke yang lebih tinggi) dan juga migrasi/urbanisasi. Faktor spekulasi dan perpindahan level ekonomi, biasanya hanya bermain di sektor kelas atas dan menengah. Sedang faktor urbanisasi adalah sektor terbesar dan mendominasi rumah petak dan rumah kelas bawah. Saya akan berhati-hati di sektor spekulasi. Dan tidak akan menyentuh sektor kelas bawah karena untungnya tidak sepadan dengan risikonya. Alasannya, menarik uang dari orang miskin susah.

KRITERIA UNTUNG RUGI

Ungkapan bahwa investasi di properti adalah tidak pernah rugi bisa salah dan bisa benar. Ada benarnya kalau tolok ukurnya uang rupiah. Dan salah kalau tolok ukurnya emas, uang sejati. Kalau tolok ukurnya uang rupiah, maka uang rupiah itu harus dinormalisasikan, dikoreksi dengan pertambahan uang yang beredar. Perlu diketahui bahwa sejak Hindia Belanda menjadi Republik Indonesia, pemerintah mencetak uang dengan seenak udelnya saja. Kalau ada pejabat pemerintah menyangkal hal ini, maka tanyakan: “Di awal tahun 70an, uang pecahan terbesar adalah Rp 5000. Kenapa sekarang, tahun 2007, ada pecahan Rp 100,000? Kenapa sebelum krismon 1998 tidak ada pecahan Rp 100,000, dan sekarang ada?”

Oleh sebab itu, kriteria untung – capital gain dan cash flow – harus diukur dengan uang sejati (emas) atau dengan normalisasi. Cara normalisasi mungkin cara yang paling fair, jika data pemerintah benar. Cara ini bisa dilakukan dengan cara membandingkan jumlah uang yang beredar pada saat membeli rumah sebagai basis. Misalnya, rumah dibeli pada bulan Januari 2006 dengan harga Rp 300 juta. Jumlah rupiah M2 yang beredar adalah Rp 1200 triliun. Kalau harga rumah yang sama pada akhir tahun 2007 menjadi Rp 350 juta, maka secara nominal ada gross capital gain sebesar Rp 50 juta. Tetapi harga ini harus dinormalisasikan dengan jumlah uang (M2) yang beredar pada saat itu, yaitu Rp 1420 triliun.

Jadi harga yang telah dinormalisasi adalah : 1420/1200 * 300 juta = Rp 355 juta.

Dengan demikian harga Rp 350 juta secara nominal memberikan gross capital gain sebesar Rp 50 juta, ternyata secara riil, malah rugi Rp 5 juta (uang 2006), karena nilai rupiah telah merosot. Ini tidak termasuk kerugian akibat pajak penjualan dan ongkos perawatan selama 2 tahun.

Catatan: Data tentang uang yang beredar bisa dilihat di situs Bank Indonesia.

PERENCANAAN

Pertama yang harus dilakukan untuk memulai masuk di investasi properti adalah membuat cash flow-nya. Banyak orang lupa memperhitungkan unsur biaya. Di bawah ini adalah beberapa poin penting yang perlu dipertimbangkan dan diperhitungkan untuk memulai properti sebagai wahana investasi.

A. Faktor pada saat memulai
1. Harga rumah
2. Pajak penjualan/pembelian
3. Biaya agen
4. Perbaikan “face-lift” untuk rumah supaya menarik

B. Faktor pada saat berjalan
5. Biaya perawatan/operasi bulanan (termasuk penjaga kalau diperlukan)
6. Depresiasi – biaya renovasi berkala
7. Harga Sewa Rumah
8. Pajak PBB

C. Faktor ketika Exit
9. Kerugian maksimum yang bisa diterima ketika mau “jual cepat” – cut loss
10. Biaya agen
11. Biaya lain (PHK penjaga)
12. Pajak penjualan

Dalam kaitannya dengan exit, harus dipertimbangkan kriteria apa saja yang bisa memicu exit, seperti cut-loss, profit taking atau kondisi ekonomi.

D. Parameter ekonomi lainnya
13. Tingkat suku bunga pinjaman
14. Laju inflasi riil (laju pertambahan uang yang beredar)

Usaha tidak selalu mengikuti skenario yang diinginkan. Kita menginginkan adanya penyewa, ternyata sampai berbulan-bulan rumah tetap kosong. Mau dijual, sudah ditawarkan bertahun-tahun ternyata belum ada penawar. Dan sampai batas tertentu akan memicu kriteria cut-loss dan terpaksa harus keluar dari bisnis. Oleh sebab itu perlu dipertimbangkan beberapa kasus. Misalnya:

a. Kasus terburuk, tidak ada penyewa. Kasus ini digunakan untuk menilai seberapa jauh kemampuan kita memikul kerugian. Harus dipertimbangkan bahwa anda harus memikul beban ini paling tidak 3-5 tahun sejak anda memutuskan keluar dari bisnis properti. Artinya, walaupun rumah yang anda miliki sudah dipasarkan untuk dijual, jangan harap bisa terjual dengan cepat. Belum tentu dalam waktu 3-5 tahun bisa terjual dengan “harga pasar”, kecuali anda mau menjualnya 50% di bawah “harga pasar”.

b. Kasus sukses, yaitu jika anda bisa menyewakan rumah itu. Kalau nantinya skenario ini bisa terwujudkan maka anda bisa memperoleh tambahan keuntungan dari uang sewa.

Kalau sebagai pemula yang belum pernah berkecimpung di bisnis properti, ada baiknya kasus terburuk diambil sebagai kasus dasar. Karena banyak liku-liku bisnis ini yang perlu dipelajari dan biasanya hanya lewat pengalaman. Kesalahan utama bagi pemula ialah hanya melihat kasus sukses dan kasus sukses ini dijadikan acuan untuk masuk ke bisnis. Akibatnya mereka tidak siap menghadapi kegagalan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan skenario awal. Kemudian keputusan yang diambil salah. Inilah pentingnya exit strategy, baik itu sebagai cut-loss atau profit taking atau menghindari risiko yang lebih besar.

Jika untuk kasus terburuk ini sudah menjanjikan keuntungan, artinya projek anda termasuk yang mantab dan tahan banting.

KAPAN MEMBELI DAN KAPAN MENJUAL

Saya berpikiran sederhana dan secara pribadi adalah seorang swing trader. Maksudnya membeli pada saat ekonomi sedang di bawah dan menjelang kebangkitan, akhir resesi, akhir krisis dimana pada masa ini harga sedang jatuh. Tentu saja membelinya dari pasar sekunder karena developer mungkin belum banyak yang aktif. Dan saat menjual properti adalah ketika ekonomi sedang booming, dimana harga sedang baik. Saya tidak akan menunggu sampai akhir dari boom, karena pada saat itu akan banyak developer mempunyai stok yang berlebih. Bersaing dengan developer bukan hal yang mudah. Karena volume developer besar, mereka sanggup mengiklankan secara besar-besaran dan juga mempunyai kerja sama dengan bank untuk mengambil kredit.

Pada saat resesi, krisis, harga rumah riil biasanya turun, baik krisisnya itu jenis deflasi dan inflasi. Dalam kasus krisis jenis inflasi, harga nominal properti bisa tidak turun, tetapi harga riilnya turun. Tetapi untuk kasus krisis jenis deflasi seperti yang dialami Jepang, harga nominal rumah turun sampai 80% selama 16 tahun. Sedangkan pada masa krisis moneter Asia tahun 1998 – 2000, rupiah terdepresiasi sebesar 80%, inflasi bulanan Indonesia bisa mencapai 80%, sedangkan harga rumah tidak bisa mengimbangi inflasi dan turunnya nilai rupiah, karena masa itu adalah masa krisis. Orang hanya memikirkan kebutuhan primer saja. Harga rumah hanya naik 100%-200%, tidak seperti emas yang naik 500% dari Rp 20,000 menjadi Rp 100,000 per gram. Oleh sebab itu, memulai bisnis properti pada awal krisis atau di tengah-tengah krisis adalah merugikan. Sebaiknya memulai di akhir krisis. (Catatan: krisis bisa berlangsung lama, belasan tahun seperti kasusnya Jepang yang sejak tahun 1990 mengalami deflasi selama 17 tahun. Dan selama itu juga harga rumah turun).

Investasi di sektor properti bisa menguntungkan di lingkungan ekonomi dengan tingkat inflasi tinggi, asalkan jangan krisis. Apakah itu stagflasi ataupun crack up boom, pada periode ekonomi semacam ini memiliki properti sangat menguntungkan, lebih-lebih kalau bisa memperoleh kredit dengan bunga tetap. (Crack up boom ialah periode di mana kepercayaan terhadap uang fiat turun di akhir fase inflasif dan orang mencari asset keras untuk mempertahankan nilai assetnya). Perlu ditekankan bahwa kunci yang membuat investasi ini menguntungkan adalah kredit dengan bunga tetap. Pada saat inflasi (pertumbuhan uang yang beredar) meningkat, kalau bunga kredit bisa dikunci di level tertentu sehingga tingkat inflasi lebih tinggi dari bunga cicilan itu sendiri, maka skenario ini bisa sangat menguntungkan. Artinya anda bisa meminjam untuk membeli rumah dan mengembalikan hutang itu pada saat nilai riilnya jatuh. Saya tidak tahu, apakah saat ini masih bisa memperoleh kredit dengan bunga tetap. Bank sekarang lebih pandai dan berhati-hati dalam soal bunga.

Di bawah ini ada bagan pertumbuhan uang M2. Pada periode 1985 – 1997 memiliki properti cukup menguntungkan jika suku bunga KPR hanya 15% yang tetap dan memperoleh rumahnya dengan cara mengambil alih-kredit (atau beli rumah dari pasar sekunder). Tingkat inflasi antara 20%-30%.

Periode 1998 – 2000 kenaikan harga rumah tidak bisa mengimbangi tingkat inflasi, sehingga harga riil rumah turun. Dan mulai merangkak naik sejak tahun 2002 – 2003 di mana banyak developer mulai bangkit. Antara 2003 – 2005 pasar properti sangat likuid dan banyak spekulan yang bermain. Hanya dengan bermodalkan down-payment, seorang spekulan “membeli” properti, kemudian menjualnya lagi dengan cepat dengan keuntungan 5% dari harga rumah atau 50% dari down-payment-nya. Sekitar tahun 2006 likuiditas ini mulai menyurut ketika suplai rumah meningkat dan untuk menjual makin sulit. Itu akan menjawab pertanyaan apakah sekarang saatnya untuk membeli.

Banyaknya advertensi di koran, tv, spanduk-spanduk serta pameran-pameran menunjukkan bahwa pasar properti sudah pada fase bubble. Sejak tahun 2003, kenaikan harga rumah sudah membumbung 2-4 kali lipat. Entah kapan bubble ini akan meletus. Saya akan menunggu. Saya yakin bahwa dalam beberapa tahun ke depan secara nominal dan harga di atas kertas dari harga rumah tidak akan turun, tetapi harga riil – terhadap emas – akan turun.

CATATAN AKHIR

Saya bukan seorang yang berpengalaman dalam bidang investasi properti. Tulisan di atas hanyalah pemikiran saya semata seandainya saya mau masuk di investasi properti. Dasarnya pemikiran itu tentu saja pengalaman. Bukan pengalaman saya sendiri tetapi pengalaman teman-teman dan kenalan saya. Selama konsep itu disusun berdasarkan pemikiran yang runut dan dengan cek realitas, hasilnya akan lebih baik dari pada sekedar percaya saja, terutama percaya kepada sales person dari developer atau agen. Mereka akan mengatakan apa yang enak didengar oleh anda. Iming-imingan keuntungan dan optimisme, demi memperoleh komisi dari sales kepada anda. Sedangkan di situs Ekonomi Orang Waras dan Investasi ini setiap optimisme akan selalu dipertanyakan. Saya tidak dibayar anda. Ini berbeda dengan agen real-estate yang punya vested interest agar jualannya laku dan dia memperoleh komisi. Kalau mereka mengatakan bahwa mencari penyewa adalah mudah, apa lagi untuk apartemen. Mungkin anda perlu jalan-jalan pada sore hari di jalan Antasari Jakarta dan melihat berapa banyak gedung apartemen yang kosong. Atau anda tanya kenapa gedung Nestle di jalan T.B Simatupang, Jakarta sudah berubah fungsi, dari apartemen hunian ke perkantoran? Apa karena tidak ada penyewa sebagai apartemen? … [ ]

(Catatan: Imam Semar, pengelola blog Ekonomi Orang Waras dan Investasi dan sejumlah publikasi online lainnya, di awal tahun lalu dengan tepat memprediksikan terjadinya krisis finansial tahun ini. Tulisannya di atas dipublikasikan dengan penyuntingan minimum dari artikel asli berjudul Mitos Properti – Investasi Tak Pernah Rugi di blog tersebut, atas ijin penulisnya. Hak Cipta ada pada penulisnya. Photo source: http://www.b-h-p dotcom)

Tags: demografi, investasi, M2, mitos, moneter, Properti, real estate, Robert Kiyosaki, swing trader

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Mortgage Broker, peluang bisnis baru di bidang pembiayaan properti

Written by Sasmaya Tuhuleley
Friday, 08 August 2008 18:08
Ketika seseorang merasa kesulitan untuk menjual poperti, seperti rumah, apartemen, atau roko, dia masih bisa memanfaatkan jasa pihak lain, yaitu broker properti. Broker properti dalam hal ini, akan menghubungkan penjual properti tersebut dengan para pembeli. Begitu juga sebaliknya, jika seseorang ingin membeli sebuah properti, broker properti akan bertindak sebagai perantara yang akan mencari properti yang sesuai dengan kehendak pembeli.

Usaha perantara jual beli properti tersebut telah berkembang menjadi industri yang menggurita. Sebut saja ERA, jaringan broker properti ini telah menyebar di berbagai kota besar di Indonesia. Bisnis broker properti juga menjanjikan keuntungan yang menggiurkan. Dengan mengutip bayaran atau fee sekitar 2,5% dari total nilai transaksi terhadap pihak yang diwakilinya, usaha ini bisa mendatangkan keuntungan yang besar, jika omzet penjualannya juga besar.
Usaha mortgage broker atau broker KPR kurang lebih serupa dengan broker properti, tapi khusus dalam memperoleh pembiayaan KPR bagi pembeli properti dari bank. Dalam hal ini, mortgage broker bertugas menghubungkan pembeli properti dengan bank untuk memperoleh pembiayaan atas properti yang dibelinya, yaitu KPR. Mortgage broker juga bertugas mengerjakan sebagian tugas bank, seperti pengumpulan dan pengecekan kelengkapan data dan dokumen dari pemohon kredit.

Di negara-negara di mana sistim pembiayaan properti atau perumahannya telah maju dan telah memiliki secondary mortgage facility (SMF), mortgage broker dapat bertindak lebih jauh lagi dengan melakukan proses analisa dan persetujuan KPR (mortgage underwriting process) untuk kemudian melalui lembaga wholesale dijual kembali (pass through) kepada lembaga SMF. Lembaga SMF inilah yang kemudian melakukan sekuritisasi atas KPR-KPR tersebut dengan menerbitkan surat utang kepada investor.

Bagaimana cara mortgage broker menjalankan bisnis?
Dalam menjalankan bisnis, mortgage broker umumnya menggunakan sistim refferal. Dalam hal ini, mortgage broker menjalin kerja sama dengan beberapa bank. Berdasarkan kerja sama tersebut, atas setiap permohonan KPR yang masuk, mortgage broker akan mengarahkan (me-refer) pemohon kepada bank tertentu sesuai dengan pilihan pemohon setelah pemohon memenuhi semua persyaratan-persyaratan kredit yang dibutuhkan bank yang bersangkutan.

Atas jasa mortgage broker membantu bank memperoleh konsumen dan melakukan pengumpulan dan pengecekan data serta dokumen persyaratan KPR tersebut, bank akan membayarkan sejumlah fee. Umumnya besar tarif fee merupakan hasil negosiasi dengan bank, bisa dalam prosentasi terhadap besar KPR yang disetujui atau jumlah tertentu. Dasar kesepakatan besarnya tarif yang disepakati umumnya disesuaikan dengan besarnya lingkup pekerjaan (effort) yang dilakukan mortgage broker.

Dalam praktek di Indonesia, selain membantu bank memperoleh konsumen (marketing), pengembang juga umumnya mengambil alih tugas bank melakukan pengumpulan dan pengecekan dokumen persayarat KPR. Untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut, pengembang harus mengeluarkan biaya overhead yang cukup besar. Belum lagi, karena pengembang harus melakukan pekerjaan yang bukan merupakan kompetensinya, sehingga membuat pekerjaan tersebut menjadi kurang efisien.

Untuk itu, pengembang dapat memakai jasa mortgage broker untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut dan cukup membayar sejumlah fee kepada mortgage broker. Dengan demikian, pengembang dapat melakukan penghematan, selain juga pekerjaan tersebut menjadi lebih efisien, karena dilakukan oleh pihak yang memang profesional di bidangnya.

Apa manfaat mortgage broker bagi bank?
Sebagaimana disebutkan di atas, bank akan memperoleh manfaat yang besar bila melakukan kerja sama dengan mortgage broker, baik dalam memperoleh konsumen maupun dalam membantu menyeleksi nasabah dan melakukan pengumpulan dan pengecekan dokumen. Dalam hal ini, mortgage broker bertindak sebagai agen pemasaran bank sekaligus membantu bank menyeleksi konsumen.

Sebagaimana diketahui, jam kerja bank hanya berkisar antara jam 08.00-16.00. Dengan mengandalkan mortgage broker yang mempunyai jam kerja yang lebih fleksibel dan bersedia bekerja 24 jam, maka bank akan sangat diuntungkan. Selain itu, mortgage broker juga umumnya memiliki tenaga-tenaga penjual (sales people) yang memiliki budaya menjual (sales culture) yang luar biasa, karena mereka bekerja dengan sistim komisi (commission based). Dengan demikian, apabila bank menggunakan jasa mortgage broker untuk melakukan pemasaran, efektifitasnya akan sangat luar biasa.

Apa manfaat mortgage broker bagi pengembang?
Bagi pengembang, jika selama ini melakukan tugas membantu bank melakukan proses administrasi aplikasi KPR, seperti pengumpulan dan pengecekan dokumen persyaratan KPR, maka lebih baik tugas tersebut dialihkan kepada pihak lain (outsourcing), yaitu mortgage broker. Dengan demikian, pengembang dapat melakukan efisiensi dan penghematan biaya overhead. Selain itu, pengembang juga bisa lebih fokus melakukan pekerjaan pembangunan perumahan dan pemasaran yang memang menjadi tugas utamanya.

Yang juga perlu disadari, dengan melakukan kerja sama dengan mortgage broker, pengembang tidak perlu memikirkan mencari sumber pembiayaan bagi para calon pembelinya. Dengan bantuan mortgage broker yang umumnya memiliki kerja sama dengan banyak bank, maka tugas mencari bank yang akan membantu pembeli rumah membeli rumah yang akan dibangunnya untuk memperoleh KPR, menjadi jauh lebih mudah.

Apa manfaat mortgage broker bagi masyarakat?
Manfaat mortgage broker bagi masyarakat sangat besar. Selain membantu masyarakat memperoleh KPR untuk membeli rumah, mortgage broker juga dapat membantu masyarakat memilih bank yang sesuai keinginannya. Hal ini berbeda, jika masyarakat berhubungan langsung dengan bank atau pengembang.

Mengapa demikian? Karena mortgage broker biasanya memiliki kerja sama dengan banyak bank, sehingga mampu memberikan banyak pilihan kepada konsumen yang datang kepadanya. Selain itu, pemahaman mortgage broker yang mendalam terhadap KPR dan persyaratan-persyaratan KPR dari banyak bank, membuat mortgage broker lebih mampu memberikan nasihat yang tepat kepada masyarakat untuk memilih bank ketimbang pengembang.

Dengan jam kerja yang fleksibel dan tidak terikat untuk tetap berada di kantor setiap saat sebagaimana halnya petugas bank, maka petugas mortgage broker juga lebih memiliki banyak waktu untuk didedikasikan kepada konsumen. Dengan demikian, jika dikehendaki konsumen tidak perlu mendatangi kantor mortgage broker, tapi cukup petugas mortgage broker yang akan mendatangi konsumen.

Bagaiman peluang bisnis mortgage broker ke depan?
Sebagai bisnis baru, mortgage broker memiliki peluang yang baik untuk berkembang menjadi industri tersendiri. Saat ini, dengan adanya persaingan yang ketat antara bank-bank untuk memasarkan KPR, kehadiran mortgage broker sebagai agen pemasaran bank akan semakin dibutuhkan.

Ke depan dengan kehadiran SMF di Indonesia, bisnis mortgage broker akan memperoleh tempat yang lebih kuat lagi di Indonesia. Harap diingat, di Amerika Serikat, perbankan komersial hanya memiliki konstribusi sebesar kira-kira 20% dari total KPR yang disalurkan di negara adidaya tersebut setiap tahunnya, sisanya sebesar 80% lagi disalurkan oleh mortgage broker dan mortgage company.

Last Updated ( Friday, 08 August 2008 18:23 )

Investasi Property : Profit Mudah, Take Profit Sulit.

1. Profit mudah

menurut saya mendapatkan keuntungan dalam investasi properti relatif mudah. Tanya kenapa ? karena hampir semua harga properti akan naik seiring dengan meningkatnya inflasi dan terbatasnya lahan.

2. Take Profit sulit

Nah, kalau profit mudah maka take profitnya yang sulit. Kenapa ? karena tidak mudah menjual properti di masa sulit seperti sekarang. Lihat sekeliling anda banyak kan properti yang mau dijual tapi tidak laku-laku. Nah kalau properti tidak bisa dijual maka investor properti pun tidak bisa take profit.

Jadi pandangan sebagian orang tentang mudahnya para investor mengambil untung dari investasi properti memang betul, tapi tidak banyak orang yang tahu bahwa tidaklah mudah untuk take profit. http://investingtool.blogspot.com/2008/05/real-estate-investing.html

Apakah harga investasi properti pasti naik ?

Kalau iya, kenapa banyak iklan di koran yang menjual properti ? kalau pasti naik, untuk apa dijual sekarang ? nanti kan harganya pasti akan lebih tinggi daripada sekarang.

Menurut saya, walaupun harga investasi properti pasti naik, para investor mau menjual propertinya karena ingin menikmati profit yang didapat. Ingat selama belum dijual maka yang didapat hanya unrealized gain.

Analisis Deskripstif

Analsis deskriptif yaitu metode yang bertujuan untuk melihat sejauhmana variabel yang diteliti telah sesuai dengan tolak ukur yang telah ditetapkan. Analsis ini digunakan untuk mendeskripsikan hasil penelitian data dari variabel yang diteliti.

Analisis Altman Z-Score

Metode Altman Z-Score dengan formulasi sebagai berikut :

Z-Score : 0,717 WC/TA + 0,847 RE/TA + 3,107 EBIT/TA + 0,420 MVE/BVD + 0,998 S/TA

Keterangan

  1. WC/TA : Working Capital to Total Assets : perbandingan antara modal kerja (bersih) dan total aktiva.
  2. RE/TA : Retained Earning to Total Assets : perbandingan antara saldo laba dan total aktiva
  3. EBIT/TA : Earning Before Interest and Tax to Total Assets : perbandingan antara laba sebelum biaya bunga dan pajak dengan total aktiva.
  4. MVE/BVD: Market Value Equity to Book Value of Debt : perbandingan antara nilai pasar ekuitas dan nilai buku utang.
  5. S/TA : Sales to Total Assets : perbandingan antara penjualan dan total aktiva.

Dari model Altman Z-Score tersebut, maka kondisi perusahaan perbankan di bagi menjadi tiga kategori, yaitu :

  1. Apabila nilai Z-Score di atas 2,90 (Z-Score > 2,90) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang sehat.
  2. Apabila nilai Z-Score antara 1,20 sampai 2,90 (1,20 < Z-Score < 2,90) diklasifikasikan sebagai perusahaan berada dalam daerah kelabu (grey area). Pada kondisi ini, perusahaan mengalami masalah keuangan yang harus ditangani dengan penanganan manajemen yang tepat. Kalau terlambat dan tidak cepat penanganannya, maka perusahaan dapat mengalami kebangkrutan.
  3. Apabila nilai Z-Score di bawah 1,20 (Z-Score < 1,20) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang berpotensi bangkrut.

3.5.3 Analisis

Analisis Z-Score

Analisis Kebangkrutan Z-Score, adalah suatu alat yang digunakan untuk meramalkan tingkat kebangkrutan suatu perusahaan dengan menghitung nilai dari beberapa rasio lalu kemudian dimasukan dalam suatu persamaan diskriminan, maka berdasarkan analisis ini apabila nilai Z dari perusahaan yang diteliti lebih kecil dari 1,80 berisiko tinggi terhadap kebangkrutan, bila nilai Z berada diantara 1,81 sampai dengan 2,99 dikatakan masih memiliki resiko kebangkrutan, bila di atas nilai 2,99 atau Z > 2,99 aman dari kebangkrutan. Untuk menghitung nilai Z, terlebih dahulu kita harus menghitung lima jenis rasio keuangan, yaitu :

  1. Modal Kerja terhadap Total Aktiva (XI).
  2. Laba Ditahan terhadap Total Aktiva (X2).
  3. Laba Sebelum Bunga dan Pajak terhadap Total Aktiva (X3).
  4. Nilai Pasar Modal Sendiri terhadap Total Hutang (X4).
  5. Penjualan terhadap Total aktiva (X5).

Modal Kerja terhadap Total Aktiva

Rasio ini digunakan untuk mengukur likuiditas dengan membandingkan aktiva likuid bersih dengan total aktiva. Aktiva likuid bersih atau modal kerja didefinisikan sebagai total aktiva lancar dikurangi total kewajiban lancar. Umumnya, bila perusahaan mengalami kesulitan keuangan, modal kerja turun lebih cepat daripada total aktiva dan menyebabkan rasio ini menurun.

Laba Ditahan terhadap Total Aktiva

Rasio ini merupakan ukuran dari profitabilitas kumulatif perusahaan. Usia perusahaan dinyatakan secara implicit dalam rasio ini. Bila perusahaan mulai merugi, tentu saja nilai dari total laba ditahan dan rasio X2 akan menjadi negatif.

Laba Sebelum Bunga dan Pajak terhadap Total Aktiva

Rasio ini mengukur kemampulabaan tingkat pengembalian dari aktiva, yang dihitung dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak dengan total aktiva.

Nilai Pasar Modal Sendiri terhadap Total Hutang

Nilai modal sendiri atau nilai pasar modal sendiri yaitu jumlah saham beredar dikalikan harga pasar perlembar saham pada periode yang bersangkutan.

Penjualan terhadap Total Aktiva

Rasio ini mengukur kemampuan manajemen dalam menghadapi kondisi persaingan dan sebagai ukuran kinerja manajemen serta menunjukkan efektifitas penggunaan seluruh harta perusahaan dalam rangka menghasilkan penjualan bersih yang dapat dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam bentuk harta perusahaan.

Implikasi

Secara metodelogi penggunaan metode Altman Z-Score dapat mengidentifikasi keadaan suatu perusahaan, namun secara faktual terkadang tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi karena metode Altman itu sendiri mempunyai kelemahan tidak adanya rentang waktu yang pasti kapan kebangkrutan akan terjadi setelah hasil Z-Score diketahui lebih rendah dari standar yang ditetapkan.

  1. 1. Analisis Utilisasi Aktiva

Analisis utilisasi aktiva menghubungkan antara laba dengan aktiva. Selain itu, analisis ini juga mengukur hubungan antara input perusahaan (aktiva) dengan output perusahaan (laba). Return on Investment (ROI) digunakan untuk mengukur utilisasi aktiva (Bergevin 2002).

Ada dua level dalam menghitung besaran ROI:

  • Mengukur sampai sejauh mana dana yang digunakan perusahaan yang diwujudkan dalam bentuk aktiva mampu menghasilkan laba bersih. secara matematis menghitung ROI adalah laba bersih dibagi investasi bersih atas aktiva dibagi investasi bersih atas aktiva – dikali 100%.
  • Mengukur profit mrgin dan mengukur perputaran aktiva. profit margin digunakan untuk mengukur berapa komposisi laba dari setiap penjualan yang dilakukan (profitability). profit margin dinyatakan secara sistematis adalah laba bersih dibagi penjualan bersih (assets utilization). perputaran aktiva adalah mengukur sampai sejauh mana efektivitas penggunaan aktiva dalam mendukung penjualan. perputaran aktiva dinyatakan secara matematis adalah penjualan bersih dibagi investasi bersih atas aktiva.

Dengan menggunakan level dua dalam mengukur ROI, maka manajemen dapat melakukan improvisasi untuk dapat meningkatkan ROI. Gambar berikut ini adalah aksi manajemen dalam meningkatkan ROI (Wright 1996).

Tabel

ROI Improvement

Manajemen action                                                          Peningkatan ROI dengan cara:

(Sumber: Wright 1996)

Walaupun ROI banyak digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dan unit dalam perusahaan. tetapi untuk menghitung ROI digunakan angka-angka yang tercantum dalam laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan. oleh karena itu diperlukan pengolahan atas angka-angka dalam laporan. pengolahan pertama yang dilakukan adalah menghitung laba bersih. Laba bersih yang dimaksud disini adalah laba operasi bersih setelah dikurangi pajak tetapi sebelum dikurangi beban bunga atau disebut NOPAT (Net Operating Profit After Tax). Yang termasuk NOPAT adalah laba usaha, penghasilan bunga, beban pajak penghasilan, perlindungan pajak atas beban bunga, bagian laba atau rugi perusahaan asosiasi, laba/rugi kurs, dan laba/rugi lain yang terkait dengan operasional perusahaan. Perhitungan NOPAT tidak mengikutsertakan faktor non operasional, seperti laba/rugi atas penjualan aktiva tetap, Penghentian usaha dan penjualan investasi. Beberapa perkiraan dalam laba/rugi lain-lain sama sekali tidak berhubungan dengan kegiatan operasional rutin perusahaan dan tidak ada keterangan jelas dalam catatan laporan keuangan, tidak didikutsertakan dalam perhitungan  NOPAT ( Asep dan Tim Mark Plus: 2002). Angka aktiva yang didapat dari neraca standar juga direvisi.

Aktiva dalam bahasa keuangan adalah wujud investasi dari dana yang diperoleh perusahaan. Angka aktiva seyogyanya direvisi dengan angka dimana aktiva tersebut benar-benar dibiayai oleh dana yang memiliki kandungan biaya penggunaan dana. Artinya, apabila piutang atau persediaan yang ada pada sisi aktiva yang didanai oleh hutang dagang atau hutang karena accrual basis dan hutang tersebut tidak membutuhkan biaya penggunaan dana maka angka piutang maupun persediaan harus dikurangi dengan hutang yang tidak mengandung biaya penggunaan dana. Dengan demikian semua angka yang tercantum dalam aktiva dibiayai oleh sumber dana yang mengandung konsekuensi biaya penggunaan dana. Selisih antara aktiva lancar selalin kas dikurangi dengan hutang lancar yang tidak mengandung biaya penggunaan dana disebut kebutuhan modal kerja bersih. Besaran investasi yang tercantum dalam aktiva dan pembiayaan yang mengandung biaya penggunaan disajikan dalam neraca manajerial pada Gambar berikut :

Neraca Manajerial
Aktiva atau wujud investasi Dana yang dipakai
Kas Pembiayaan jangka pendek
Kebutuhan modal kerja bersih Pembiayaan jangka panjang
Aktiva tetap bersih Modal

(Sumber: Hawawini and Viallete 2000)

Berdasarkan neraca manajerial kita dapat menghitung tingkat pengembalian atas investasi dana yang dipakai yang disebut Return On Invested Capital (ROIC). Return On Invested Capital mengukur real cash pada cash return. Sebenarnya ROIC adalah Return On Equity (ROE) yang dikembangkan. ROE menggunakan net assets sebagai pembilang dalam perhitungannya. masalahnnya, sesuai dengan GAAP (Generally Accepted Accounting Principles) kewajiban tertentu mengurangi sumberdaya yang dicantumkan dalam perhitungan ROE sehingga kewajiban tersebut tidak boleh dihitung sebagai pengurang pada capital working untuk keuntungan pemegang saham. Tetapi sebagai tambahan modal yang digunakan oleh pemegang saham (Wettlaufer 2003).

analisis rasio aktivitas

Judul : Analisis Efisiensi Keuangan  pada  PT. Aneka Kemasindo Utama Tbk

  1. A. Latar Belakang Masalah

Pada saat ini kebutuhan bisnis sudah semakin tajam seiring dengan mulai dibukanya sistem mekanisme pasar bebas. Dan dengan semakin terbatasnya sumber kekayaan alam sebagai faktor modal serta semakin majunya perkembangan ilmu dan teknologi telah menjadikan dunia usaha sebagai ajang pertarungan yang bersifat kompetitif. Oleh karena itulah maka perusahaan sebagai tempat bergabungnya orang-orang atau pemilik harus dikelola secara profesional agar tujuan meningkatkan kemakmuran atau kekayaan bagi para pemilik, tenaga kerja yang ada di dalamnya, serta pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat dapat dicapai. Untuk kepentingan tersebut seorang pimpinan harus mampu membuat perencanaan yang lebih baik, mengambil keputusan, dan mengadakan pengawasan yang efektif, kemampuan yang dituntut dari seorang pimpinan yakni menentukan sumber modal serta bagaimana cara mengoperasikannya agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara optimal. Perusahaan harus mampu mengantisipasi dan menghadapi  segala perubahan situasi dan kondisi baik yang ada di dalam perusahaan maupun yang di luar perusahaan yang dapat mempengaruhi kinerja dari perusahaan.

Suatu perusahaan dapat dikatakan efisien apabila telah tercapainya tujuan atau sasaran dengan menggunakan pikiran, tenaga, waktu, ruang dan benda sesuai dengan hasil yang telah dicapai. Selain itu suatu usaha dapat dikatakan efisien apabila dengan usaha tertentu memberikan hasil terbesar baik bersifat kualitas maupun kuantitas.

Dalam perkembagan ilmu manajemen yang diterapkan oleh Charles Babbage (1792-1871) adalah seorang guru besar matematika yang tertarik pada usaha efisiensi pada operasional suatu pabrik dengan menerapkan prinsip-prinsip ilmiah agar terwujud peningkatan produktivitas dan penurunan biaya.

PT Aneka Kemasindo Utama Tbk didirikan tanggal 5 April 2001, perusahaan berkedudukan di Tangerang dan ruang lingkup kegiatan perusahaan antara lain adalah menjalankan usaha dalam bidang industri kemasan dari plastik. Perusahaan memulai kegiatan operasi komersialnya sejak tahun 2001. Produk-produk yang dihasilkan perusahaan berupa gelas plastik, botol gallon, dan botol plastik. Perkembangan industri kemasan plastik, terutama produk gelas dan botol plastik, sangat ditentukan oleh perkembangan industri yang menjadi konsumennya yaitu industri minuman. PT Aneka Kemasindo Utama Tbk adalah perusahaan dengan penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Saat ini dengan sangat labilnya kurs valuta asing dan tarif bunga berdampak buruk terhadap biaya dana dan kemampuan perusahaan untuk melunasi hutang dalam bentuk valuta asing (misalnya US Dollar) mengingat hutang perusahaan yang telah mengikat secara siknifikan dalam satuan rupiah dan tingkat bunga untuk pinjaman dalam rupiah telah meningkat secara signifikan. Dan karena memburuknya kondisi ekonomi Indonesia terhadap palanggan maka perusahaan melakukan penurunan jumlah penjualan dan meningkatkan resiko kredit bawaan dalam piutang usaha.

Pendapatan perusahaan diterima dari pendapatan hasil operasi  dan pendapatan non operasi. Pendapatan operasi (operating revenue) adalah pendapatan yang diterima perusahaan yang berkaitan langsung dengan usaha pokok perusahaan, dimana unsure-unsur pendapatan operasi yaitu penjualan (sales) baik penjualan kotor (gross sales) maupun penjualan bersih (net sales). Penjualan PT Aneka Kemasindo Utama Tbk untuk 5 tahun terakhir kurang memberikan hasil yang baik.

Tabel

Penjualan dari tahun 2005-2009

No Tahun Penjualan
1 2005 25.513.656.484
2 2006 22.354.426.882
3 2007 23.065.063.658
4 2008 8.069.528.041
5 2009 2.562.041.001

Sumber data : Laporan keuangan PT. Aneka Kemasindo Utama Tbk.

Didalam pengelolaannya perusahaan tidak lepas dari permasalahan  dimana keadaan penjuanlan bersih perusahaan hanya sekali mengalami kenaikkan. Seperti yang tergambar pada tabel diatas dimana pada tahun 2005 penjualan bersih perusahaan sebesar Rp 25.513.656.484 kemudian pada tahun 2006 mengalami penurunan menjadi  Rp 22.354.426.882  dan akhirnya walaupun hanya sedikit,  penjualan bersih perusahaan mengalami kenaikkan tahun 2007 menjadi Rp 23.065.063.658  namun pada tahun  2008 penjualan bersih perusahaan kembali turun menjadi Rp 8.069.528.041 dan pada tahun 2009 kembali turun menjadi Rp 2.562.041.001.

Untuk beban usaha perusahaan terus mengalami kenaikkan dimana tahun 2005 sebesar Rp. 1.513.660.054 kemudian tahun 2006 naik menjadi Rp. 1.798.416.876  sedangkan tahun 2007 menjadi Rp. 1.871.697.503 kembali naik tahun 2008 menjadi Rp 3.214.681.938 dan tahun  kemudian tahun 2009 naik lagi menjadi Rp. 5.483.472.187 . Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya penurunan penjualan tidak sebanding dengan beba usaha karena terjadi peningkatkan beban usaha perusahaan dimana  itu dapat mempengaruhi jumlah laba yang akan diperoleh oleh perusahaan.

PT. Aneka Kemasindo Utama Tbk dari laporan laba-rugi untuk lima tahun terakhir hanya tahun 2005 dan 2006 yang memperoleh laba dimana tahun 2005 memperoleh laba sebesar Rp. 1.484.831.847 dan tahun 2006 sebesar Rp. 120.066.832 namun tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 perusahaan mengalami kerugian. Dimana tahun 2007 kerugian perusahaan sebesar Rp. 38.439.188, tahun 2008 Rp. 8.121.292.902 dan tahun 2009 sebesar Rp. 5.664.063.927.

Tabel

Perputaran Total Aktiva

Tahun Jumlah Perputaran
2005 0,62
2006 0,44
2007 0,43
2008 0,19
2009 0,08

Sumber data: Laporan keuangan PT Aneka Kemasindo Utama Tbk yang telah diolah

Perputaran Total aktiva PT. Aneka Kemasindo Utama Tbk untuk 5 tahun terakhir mengalami penurunan dimana tahun 2005 sebanyak 0.62 kali, tahun 2006 0,44 kali, tahun 2007 turun menjadi 0,43 kali, kemudian tahun 2008 menjadi 0,19 kali dan tahun 2009 turun lagi menjadi 0,08 kali.

Dengan demikian pendapatan yang diperoleh perusahaan lewat penjualan bersih  tidak sebanding dengan beban yang dikeluarkan oleh perusahaan khususnya untuk pengeluaran beban usaha. Dan dari perputaran aktiva perusahaan dapat dilihat bahwa perusahaan tidak menggunakan aktivanya atau aset yang dimiliki secara efektif. Untuk itu perusahaan harus dapat mengelola keuangan dengan se-efisien mungkin dimana pendapatan yang diterima dari penjualan dapat membiayai beban-beban yang dikeluarkan untuk kegiatan perusahaan dengan seminimal mungkin sehingga akan menghasilkan laba.

Pengukuran efisiensi dilakukan dengan membandingkan keluaran dan masukan. Efisiensi berkaitan dengan suatu jumlah yang dikeluarkan untuk mencapai keluaran tertentu yang dipandang sebagai tujuan. Salah satu tujuan pengukuran efisiensi adalah untuk menilai keberhasilan para manajer mengelola suatu badan usaha, maupun unit-unit usaha yang ada dalam suatu perusahaan. Dengan adanya pengukuran efisiensi keuangan akan dapat memberikan jawaban kepada perusahaan terhadap sejauh mana hasil dicapai dari penggunaan sumber-sumber daya yang ada dengan melakukan penelitian dengan judul “Analisis Efisiensi Keuangan Pada PT.Aneka Kemasindo Utama Tbk”.

  1. B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah digambarkan diatas, maka dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:

  1. Terjadinya penurunan penjualan bersih dari tahun 2005 sampai tahun 2009
  2. Beban usaha perusahaan mengalami peningkatan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009
  3. Terjadinya penurunan perputaran total aktiva dari tahun 2005-2009
  4. Perusahaan mengalami kerugian dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009
  5. Pengelolaan keuangan yang belum efisien
  1. C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan permasalahan diatas, permasalahan dibatasi pada pengelolaaan keuangan yang belum efisien.

  1. D. Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari identifikasi masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah, yaitu:

“ Bagaimana pengelolaan efisiensi keuangan yang ada pada PT. Aneka Kemasindo Utama Tbk?”

  1. E. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana pengelolaan efisiensi keuangan yang ada pada PT. Aneka Kemasindo Utama Tbk.

  1. F. Manfaat Penelitian
  2. Manfaat Teoritis

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan sambungan pemikiran dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu ekonomi yaitu menejemen pada khususnya.

  1. Manfaat Praktis

Melalui penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dengan penelitian lainnya sehingga akan memberikan pemecahan masalah dalam menganalisa suatu laporan keuangan dalam hal ini dengan menggunakan rasio efisiensi atau rasio aktivitas pada PT Aneka Kemasindo Utama Tbk.

  1. G. Tinjauan Pustaka
  2. 1. Manajemen Keuangan

Menurut Agus Harjitno dan Martono SU (2005 : 4) Manajemen keuangan (financial manajemen) atau pembelanjaan adalah segala aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan bagaimana memperoleh dana, perusahaan yang berhubungan dengan bagaimana memperoleh dana, menggunakan dana, dan mengelola asset sesuai tujuan perusahaan secara menyeluruh. Dengan kata lain menejemen keuangan merupakan manajemen (pengelolaan) mengenai bagaimana memperoleh asset dan mengelola asset untuk mencapai tujuan perusahaan.

Menurut (Weston dan Copeland, 1992: 2) Manajemen keuangan dapat didefinisikan dari tugas dan tanggung jawab manajer keuangan. Meskipun tugas dan tanggung jawabnya berlainan di setiap perusahaan, tugas pokok manajemen keuangan antara lain meliputi : keputusan tentang investasi, pembiayaan kegiatan usaha dan pembagian dividen suatu perusahaan.

Sedangkan menurut Jemes C. Van Home, dkk (1997:2) dalam buku prinsip-prinsip maajemen mengatakan bahwa manajemen keuangan adalah segala aktivitas berhubungan dengan perolehan, pendanaan, dan pengelolaan aktiva dengan beberapa tujuan menyeluruh. Tujuan perusahaan yaitu manajemen keuangan yang efisien membutuhkan adanya tujuan dan sasaran, yang digunakan sebagai standar dalam memberikan penilaian keefisienan keputusan keuangan.

Menurut Bambang Riyanto, (2001:4) Keseluruhan aktivitas yang bersangkuta dengan usaha untuk mendapatkan dana dan menggunakan atau mengalokasikan dana tersebut disebut pembelanjaan perusahaan dalam artian yang luas (business finance) atau manajemen keuangan. Sedangkan pembelanjaan dalam artian yang sempit adalah aktivitas yang hanya bersangkutan dengan usaha mendapatkan dana saja.

  • Fungsi Manajemen Keuangan

Manajemen keuangan dapat didefinisikan dari tugas dan tanggung jawab manajer keuangan. Tugas pokok manajemen keuangan antara lain meliputi keputusan tentang investasi, pembiayaan kegiatan usaha dan pembagian deviden suatu perusahaan, dengan demikian tugas manajer keuangan adalah merencanakan untuk memaksimumkan nilai perusahaan.

Kegiatan penting lain yang harus dilakukan manajer keuangan menyangkut empat (4) aspek yaitu:

  1. Pertama, yaitu dalam perencanaan dan peramalan, dimana manajer keuangan harus bekerja sama dengan para manajer lain yang ikut bertanggung jawab atas perencanaan umum perusahaan.
  2. Kedua, manajer keuangan harus memusatkan perhatian pada berbagai keputusan investasi dan pembiayaan, serta segala hal yang berkaitan dengannya.
  3. Ketiga, manajer keuangan harus bekerja sama dengan para manajer lain di perusahaan agar perusahaan dapat beroperasi seefisien mungkin.
  4. Keempat, menyangkut penggunaan pasar uang dan pasar modal, manajer keuangan menghubungkan perusahaan dengan pasar keuangan, di mana dana dapat diperoleh dan surat berharga perusahaan dapat diperdagangkan.

Dari ke empat aspek tersebut dapat disimpulkan bahwa tugas pokok manajer keuangan berkaitan dengan keputusan investasi dan pembiayaannya. Dalam menjalankan fungsinya, tugas manajer keuangan berkaitan langsung dengan keputusan pokok perusahaan dan berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

  • Keputusan dan Tanggung Jawab Manajer Keuangan

Manajer keuangan mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap apa yang telah dilakukannya. Ada pun keputusan keuangan yang menjadi tanggung jawab manajer keuangan dikelompokkan ke dalam tiga (3) jenis:

  1. Mengambil keputusan investasi (investment decision), Menyangkut masalah pemilihan investasi yang diinginkan dari sekolompok kesempatan yang ada, memilih satu atau lebih alternatif investasi yang dinilai paling menguntungkan.
  2. Mengambil keputusan pembelanjaan (financing decision), Menyangkut masalah pemilihan berbagai bentuk sumber dana yang tersedia untuk melakukan investasi, memilih satu atau lebih alternatif pembelanjaan yang menimbulkan biaya paling murah.
  3. Mengambil keputusan dividen (dividend decision) atau dividen policy, Menyangkut masalah penentuan besarnya persentase dari laba yang akan dibayarkan sebagai dividen tunai kepada para pemegang saham, stabilitas pembayaran dividen, pembagian saham dividen dan pembelian kembali saham-saham.

Keputusan-keputusan tersebut harus diambil dalam kerangka tujuan yang seharusnya dipergunakan oleh perusahaan yaitu memaksimumkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan adalah harga yang terbentuk seandainya perusahaan dijual. Apabila perusahaan “go public” maka nilai perusahaan ini akan dicerminkan oleh harga saham perusahaan tersebut. Dengan meningkatnya nilai perusahaan, maka pemilik perusahaan menjadi lebih makmur sehingga mereka menjadi lebih senang.

Aktivitas perusahaan ditinjau dari sudut manajemen keuangan menjadi tugas manajer keuangan. Tugasnya antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Perolehan dana dengan biaya murah.
  2. Penggunaan dana efektif dan efisien
  3. Analisis laporan keuangan
  4. Analisis lingkungan Internal dan eksternal yang berhubungan dengan keputusan rutin dan khusus.
  • Kedudukan Manajer Keuangan Dalam Struktur Organisasi Perusahaan

Di dalam perusahaan yang besar bidang keuangan dipimpin oleh seorang manajer keuangan (chief financial manager). Manajer keuangan atau sering disebut direksi keuangan melaporkan secara langsung kepada direktur keuangan atau presiden direktur. Sedangkan di dalam departemen keuangan dalam suatu perusahaan dibagi lagi ke dalam beberapa bagian/divisi yang dipunyai oleh seorang kepada divisi meliputi:

  1. Divisi anggaran, bertanggung jawab untuk mempersiapkan dan memperbaiki bugdet operasi (operating bugdet).
  2. Divisi penganggaran modal (capital budgeting) yang bertanggung jawab untuk mempersiapkan analisis pengeluaran modal.
  3. Divisi perencanaan keuangan, yang bertanggung jawab untuk mengambil alternatif pemenuhan kebutuhan dana jangka panjang.
  4. Divisi perencanaan keuangan jangka pendek, yang bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan dana jangka pendek, serta investasi jangka pendek pada surat berharga (marketable securities).
  5. Divisi kredit, bertanggung jawab untuk menentukan kredit yang akan diberikan kepada langganan, disamping itu divisi ini juga bertanggung jawab dalam negoisasi dengan kreditor (lembaga keuangan Bank dan bukan Bank).
  6. Divisi hubungaan masyarakat (human relation), bertanggung jawab terhadap pembentukan image/komunikasi antara perusahaan, pemegang saham, para investor dan masyarakat keuangan secara umum.
  • Tujuan Manajemen Keuangan Pada Perusahaan

Pada dasarnya tujuan manajemen keuangan (The Main Objective of Financial Management) adalah memaksimumkan nilai perusahaan atau memaksimumkan kemakmuran pemegang saham, bukan memaksimumkan profit. Arti memaksimumkan profit, berarti mengabaikan tanggung jawab social, mengabaikan risiko, dan berorientasi jangka pendek. Sedangkan arti memaksimumkan kemakmuran pemegang saham atau nilai perusahaan sebagai berikut:

  1. Berarti memaksimumkan nilai sekarang (present value) semua keuntungan di masa datang yang akan diterima oleh pemilik perusahaan.
  2. Berarti lebih menekankan pada aliran hasil bukan sekedar laba bersih dalam pengertian akuntansi.

Akan tetapi dibalik tujuan tersebut masih terdapat konflik antara pemilik perusahaan dengan penyedia dana sebagai kreditur. Jika perusahaan berjalan lancar, maka nilai saham perusahaan akan meningkat, sedangkan nilai hutang perusahaan dalam bentuk obligasi tidak terpengaruh sama sekali. Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai dari saham kepemilikan bisa merupakan indeks yang tepat untuk mengukur tingkat efektifitas perusahaan. Berdasarkan alasan itulah, maka tujuan manajemen keuangan dinyatakan dalam bentuk maksimalisasi nilai saham kepemilikan perusahaan, atau memaksimalisasikan harga saham. Tujuan memaksimumkan harga saham tidak berarti bahwa para manajer harus berupaya mencari kenaikan nilai saham dengan mengorbankan para pemegang obligasi.

Memaksimumkan kemakmuran pemegang saham/pemilik perusahaan tidak mengingkari adanya social objectives dan kewajiban sosial. Tanggung jawab sosial adalah satu aspek penting dari tujuan perusahaan, maksudnya:

  1. Keberhasilan memaksimumkan nilai perusahaan akan memberikan sumbangan yang berarti kepada lingkungan sosial secara keseluruhan. Artinya jika manajemen keuangan menuju pada maksimalisasi harga saham, maka diperlukan manajemen yang baik dan efisien sesuai dengan permintaan konsumen.
  2. Pengaruh (dampak) lingkungan eksternal seperti polusi, keselamatan kerja, keamanan produk juga harus diperhitungkan. Dimana perusahaan yang berhasil selalu menempatkan efisiensi dan inovasi sebagai prioritas, sehingga menghasilkan produk baru, penemuan teknologi baru dan perluasan lapangan pekerjaan.
  3. Kepekaan terhadap faktor eksternal merupakan salah satu syarat penting agar perusahaan tetap dapat mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan. Faktor-faktor luar seperti pencemaran lingkungan, jaminan keamanan produk dan keselamatan kerja menjadi lebih penting untuk dipertimbangkan. Fluktuasi di semua tingkat kegiatan bisnis dan perubahan-perubahan yang terjadi pada kondisi pasar keuangan merupakan aspek penting dari lingkungan luar.
  4. Perusahaan harus dapat memaksimumkan kemakmuran pemegang saham dalam kendala legal dan sosial dan bertanggung jawab terhadap perubahan lingkungan. Kerjasama antara industri dan pemerintah sangat diperlukan untuk menciptakan peraturan yang mengatur perilaku perusahaan, dan sebaliknya perusahaan mematuhi peraturan tersebut.

Tujuan perusahaan pada dasarnya adalah memaksimumkan nilai perusahaan dengan pertimbangan teknis sebagai berikut :

  1. Memaksimumkan nilai bermakna lebih luas daripada memaksimumkan laba, karena memaksimumkan nilai berarti mempertimbangkan pengaruh waktu terhadap nilai uang.
  2. Memaksimumkan nilai berarti mempertimbangkan berbagai resiko terhadap arus pendapatan perusahaan.
  3. Mutu dari arus dana yang diharapkan diterima di masa yang akan datang mungkin beragam.

(http://prasasto.blogspot.com/2008/08/rangkuman-materi-manajemen-keuangan-i.html)

Prinsip manajemen perusahaan menuntut agar baik dalam memperoleh maupun dalam menggunakan dana harus didasarkan pada pertimbangan efisiensi dan efektivitas. Dengan demikian maka pembelanjaan perusahaan atau manajemen tidak lain adalah manajemen untuk fungsi-fungsi pembelanjaan. Dalam pengertian manajemen terkandung fungsi-fungsi pembelanjaan, pengarahan, dan pengemdalian. Berhubungan engan itu maka perlu ada perencanaan dan pengendalian yang baik dalam menggunakan maupun dalam pemenuhan kebutuhan dana. Fungsi pembelanjaan dalam perusahaan meliputi fungsi penggunaan dana atau pengalokasian dana (use/allocation of funds) dan fungsi pemenuhan kebutuhan dana atau fungsi pendanaan (financing;obtaining of funds).

Fungsi pendanaan dana harus dilakukan secara efisien. Ini berarti bahwa setiap rupiah dana yang tertanam dalam aktiva harus dapat diguakan seefisien mungkin untuk dapat menghasilkan tingkat keuntungan investasi atau rentabiltas yag maksimal. Efisiensi penggunaan dana secara langsung akan menetukan besar kecilnya tingkat keuntungan yang dihasilkan dari investasi tersebut atau rentabilitas.

Fungsi pemenuhan kebutuhan dana atau fungsi pendanaan juga harus dilakukan secara efisien. Manajer keuangan harus mengusahakan agar perusahaan dapat memperoleh dana yang diperlukan dengan biaya yang minimal dan syarat-syarat yang paling menguntungkan. Manajer keuangan harus mempertimbangkan dengan cermat sifat dan biaya dari masing-masing sumber dana mempunyai konsekuensi financial yang berbeda-beda.

Manajemen keuangan merupakan manajemen terhadap fungsi-fungsi keuangan. Fungsi-fungsi keuangan tersebut meliputi bagaimana memperoleh dana (raising of funds) dan bagaimana menggunakan dana tersebut (allocation of funds). http://indoskripsi.com

  1. 2. Laporan Keuangan

Menurut Zaki Baridwan (1992 : 17) laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan, ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan.

Menurut Drs.S.Munawir Laporan Keuangan adalah hasil dari proses Akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.

Menurut Satandar Akuntasi Keuangan (1999 : 2) menyebutkan bahwa laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan yang lengkap meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang disajikan dalam berbagai cara sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan ini serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.

Menurut H.Kusnadi, dkk (2004 : 2)  Laporan keuangan adalah suatu daftar keuangan yang dibuat pada akhir periode yang berasal dari catatan aktivitas perusahaan selama periode tertentu yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan saldo laba, laporan arus kas dan laporan perubahan modal.

Menurut Haryanto Yusup (2003 : 11) Laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi. Dalam definisi diatas disebutkan bahwa akuntansi merupakan suatu proses yang meliputi pencatatan, penggolongan, peringkasan, pelaporan, dan penganalisisan data keuangan dari suatu organisasi. Kegiatan pencatatan dan penggolongan adalah proses yang dilakukan secara rutin dan berulang-ulang setiap kali terjadi transaksi keuangan. Sedangkan kegiatan pelaporan dan penganalisisan biasanya hanya dilakukan pada waktu tertentu.

Jumingan (2005:4) mengemukakan bahwa laporan keuangan merupakan hasil tindakan pembuatan ringkasan data keuangan perusahaan. Laporan keuangan ini disusun dan ditafsirkan untuk kepentingan manajemen dan pihak lain yang menaruh perhatian atau mempunyai kepentingan dengan data keuangan perusahaan.

Sedangakan menurut Bambang Riyanto (2001:327) laporan finansiil (financial statement) memberikan ikhtisar mengenai keadaan finansiil suatu perusahaan, dimana naraca (balance sheet) mencerminkan nilai aktiva, utang dan modal sendiri pada suatu saat tertentu, dan laporan rugi laba (income statement) mencerminkan hasil yang dicapai selama satu periode tertentu biasanya meliputi periode satu tahun.

Menurut H. Sutrisno (2005:9) laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi yang meliputi dua laporan utama yakni neraca dan rugi laba. Laporan keuangan disusun dengan maksud untuk menyediakan informasi keuangan suatu perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan sebagai bahan pertimbangan didalam mengambil keputusan. Pihak-pihak yang berkepentingan tersebut antara lain manajemen, pemilik, kreditor, investor, dan pemerintah.

Laporan keuangan menurut Sofyan Syarif Harahap (2004:1) menganalisis laporan keuangan berarti menggali lebih banyak informasi yang dikandung suatu laporan keuangan sebagaimana diketahui laporan keuangan adalah media informasi yang merangkum semua aktivitas perusahaan. Jika informasi ini disajikan benar, informasi tersebut sangat berguna bagi siapa saja untuk mengambil keputusan tentang perusahaan yang dilaporkan tersebut. Laporan keuangan merupakan media yang paling penting untuk menilai prestasi dan kondisi ekonomis perusahaan.

Laporan keuangan adalah suatu penyajian data keuangan termasuk catatan yang meneyertainya, bila ada, yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan sumber daya ekonomi (aktiva) dan atau kewaiban suatu entitas pada saat tertentu atau perusahaan atas aktiva dan atau kewajiban selama suatu periode tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Menurut standar akuntasi keuangan yang dikeluarkan oleh ikatan akuntansi Indonesia tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan.

Laporan keuangan disusun sedemikian rupa agar dapat memenuhi kebutuhan seluruh pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan misalnya investor, pemilik, peminpin perusahaan, pemerintah dan kreditor.

Tujuan laporan keuangan menurut IAI (2002 : 4)

  1. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan serta perusahaan yang bermenfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
  2. Memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, Laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non keuangan.
  3. Menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship), atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Pemakai yang ingin menilai apa yang telah dilakukan atau pertanggungjawaban manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusa ekonomi, keputusan ini mungkin mencakup keputusan untuk menanam atau menjual invesatsi mereka dalam perusahaan atau mengangkat dan mengganti manajemen.
  1. 3. Konsep efisiensi

Suatu tindakan dikatakan efisien apabila berbagai sumber seperti dana, tenaga, sarana da waktu yang diguakan karyawan dalam penyelenggaraan seluruh kegiatan organisasi (perusahaan) haruslah lebih kecil dibandingkan dengan hasil yang diperoleh melalui proses yang telah ditetapkan, sebaliknya jika berbagai sumberdaya yang digunakan lebih besar dari hasil yang diperoleh, berarti bahwa proses manajemen dan pengelolaan sumber itu tidak efisien. Jika demikian dalam proses penyelenggaraan berbagai macam kegiatan terjadi berbagai bentuk pemborosan. Walaupun pada kenyataan yang ada tersebut tidak diharapkan untuk terjadi namun harus ada antisipasi dari pimpinan perusahaan untuk menggunakan sumber-sumber yang ada secara tepat dan efisien.

Menurut Drucker, efisiensi berarti mengerjakan sesuatu dengan benar (doing the right). Dalam bahasa yang sederhana efisiensi itu menunjukkan kemampuan organisasi dalam menggunakan sumber daya dengan benar dan tidak ada pemborosan.

Kata efisien sesuai yang ada dalam buku Ensiklopedi Indonesia adalah merupakan suatu usaha dibidang produksi untuk menghindari segala pemborosan bahan maupun tenaga kerja serta gejala-gejala lain yang merugikan (Enslikopedi Indonesia Edisi 2 hal 884).

Dari sudut pandang pengalokasian asset, efisiensi bisa diartikan sebagai pengaplikasian  teknologi yang memerlukan biaya operasi paling murah. Sedangkan jika dipandang dari sudut pandang investasi efisiensi berati bahwa harga pasar yang terbentuk sudah mencerminkan semua informasi yang tersedia.

Menurut James A. F Stoner dkk, (1996:9) dalam bukunya management, efficiency (efisiensi) adalah kemampuan untuk meminimalkan penggunaan sumber daya dalam mencapai tujuan organisasi.

Menurut H. Kusnadi, dkk (2004) dalam bukunya pengantar bisnis dan wirausaha, efisiensi adalah membiayai suatu aktivitas (transaksi) dengan jumlah tertentu dengan hasil semaksimal mungkin. Prinsip efisiensi menekannya pada penggunaan sumber daya bisnis dengan pengorbanan serendah mungkin sehingga tidak akan menimbulkan banyak pemborosan. Dengan adanya prinsip efisiensi maka pemakaian sumber daya bisnis dapat didayagunakan sehemat mungkin sehingga akan banyak umat manusia yang dapat mengkonsumsinya.

T. Hani Handoko (1997:7) mengemukakan bahwa efisiensi adalah kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar. Ini merupakan konsep matematik atau merupakan perhitungan ratio antara keluaran (output) dan masukan (input).

Menurut Nordhaus D William, dkk (1993) mengatakan bahwa efisiensi adalah pemanfaatan sumberdaya ekonomi dengan cara yang paling efektif, sedangkan menurut Richard Lipsey, efisiensi adalah bahwa output yang dihasilkan harus dihasilakan dengan produksi yang serendah mungkin. Jadi menurut pendapat tersebut disimpulkan bahwa efisiensi adalah usaha untuk memperoleh hasil yang maksimal mungkin dengan menggunakan sumber daya yang seminimal mungkin.

Terepas dari tujuan organisasi atau perusahaan, efisiensi merupakan salah satu factor yang turut menunjang kegiatan tersebut, dalam mencapai tujuan keseluruhan juga menjadi salah satu factor yang menentukan keberhasilan kerja, seperti halnya ukuran efisiensi memperlihatkan dua aspek yang ada yaitu:

  • Hubungan keluaran terhadap masukan, yaitu keluaran yang dihasilkan oleh masukan yang tersedia, dengan memperhatikan apakah keluaran itu bermanfaat dalam arti diperlukan sekarang atau beberapa waktu yang akan datang.
  • Penggunaan sumber daya atau kuantitas dari masukan-masukan yang dipakai, dibandingkan dengan kapasitas total yang tersedia.
  1. 4. Pengukuran efisiensi

Umumnya pengukuran efisiensi dilakukan dengan membandingkan keluaran dan masukan. Efisiensi berkaitan dengan suatu jumlah yang dikeluarkan untuk mencapai keluaran tertentu, yang dipandang sebagai tujuan. Salah satu tujuan pengukuran efisiensi adalah untuk menilai keberhasilan para manajer mengelola suatu badan usaha, maupun unit-unit usaha yang ada dalam perusahaan.

Analisis efisiensi dapat digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan atau melakukan prediksi laba yang akan diperoleh perusahaan dimasa yang akan datang, karenanya analisis ini menjadi penting dilakukan unutk menilai kinerja perusahaan.

Tantangan dunia bisnis saat ini tampaknya mengarah pada peningkatan efisiensi. Untuk itulah diperlukan analisis efisiensi terhadap perusahaan. Pengukuran efisiensi dapat dilakukan melalui financial management, business performance, dan organizational effectiveness. Dari tiga hal tersebut yang paling penting dalam pengukuran efisiensi adalah dengan menggunakan financial management.

Efisiensi suatu perusahaan dapat diukur dengan menggunakan rasio (nisbah). Rasio tersebut dibandingkan denga rasio yang sama dengan tahun atau periode sebelumnya, atau dibandingkan dengan rasio industri yang sejenis. Perbandingan ini dapat diketahui dan dianalisis perkembangan dari sudut efisiensi.

Untuk mengukur efisiensi dan produktivitas suatu sistem maka perlu dilakukan pengukuran secara kuantitatif masukan dan keluaran dari sistem tersebut. Dan pada umumnya efisiensi dan produktifitas diukur dengan menggunakan rasio.

  1. 5. Rasio efisiensi

Menurut Agus Harjitno dan Martono SU (2005:55) Rasio aktivitas (activity ratio) atau dikenal juga sebagai rasio efisiensi yaitu rasio yang mengukur efisiensi perusahaan dalam menggunakan aset-asetnya. Artinya dalam hal ini adalah mengukur kemampuan manajemen perusahaan dalam mengelola persediaan bahan mentah, barang dalam proses dan barang jadi serta kebijakan manajemen dalam mengelola aktiva lainnya dan kebijakan pemasaran. Rasio aktivitas menganalisis hubungan antara laporan laba-rugi, khususnya penjualan, dengan unsur-unsur yang ada pada neraca, khususnya unsur-unsur aktiva. Rasio aktivitas ini diukur dengan istilah perputaran unsur-unsur aktiva yang dihubungkan dengan penjualan.

  1. Receivable Turnover ( perputaran piutang) memberikan wawasan tentang kualitas piutang perusahaan (piutang dagang) dan kesuksesan perusahaan dalam mengumpulkan piutang dagang tersebut. Rata-rata umur piutang melihat berapa lama waktu yang diperlukan untuk melunasi piutang yang dipunyai oleh perusahaan (mengubah piutang menjadi kas). Semakin lama rata-rata piutang, berarti semakin besar dana yang tertanam pada piutang.
Penjualan kredit bersih setahun
Rata-rata piutang

Perputaran piutang

  1. Inventory Turnover (perputaran persediaan) dihitung dengan cara membagi harga pokok penjualan (cost of good sold) dengan rata-rata persediaan. Rasio ini digunakan untuk mengukur efektivitas manajemen perusahaan dalam mengelola persediaan.
Harga pokok penjualan
Rata-rata persediaan

Inventory turnover      =

  1. Receivable turnover in days (perputaran piutang harian) disebut juga average collection period yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengumpulkan jumlah piutang dalam setiap jangka waktu tertentu.
Jumlah hari dalam 1 tahun (365)
Perputaran piutang

Average collection period =

  1. Total asset turnover (perputaran aktiva) yaitu mengukur perputaran dari semua asset yang dimiliki perusahaan. Total assets turnover dihitung dari pembagian antara penjualan dengan total asetnya
Penjualan bersih
Total aktiva

Total assets turnover (TATO) =

Sedangkan menurut Mamduh M Hanafi dalam bukunya Manajemen Keuangan (2008:38) mengatakan bahwa rasio aktivitas digunakan untuk melihat seberapa besar efisiensi penggunaan asset oleh perusahaan. Rasio ini melihat seberapa besar dana tertanam pada aset oleh perusahaan jika dana yang tertanam pada aset tertentu cukup besar, sementara dana tersebut mestinya bisa dipakai untuk investasi pada asset lain yang lebih produktif, maka profitabilitas perusahaan tidak sebaik yang seharusnya. Ada beberapa rasio aktivitas yang dibicarakan antara lain: rata-rata umur piutang, perputaran persediaan, perputaran aktiva tetap, dan perputaran total aktiva.

Sedangkan menurut Napa J Awat (1999:387) Rasio aktivitas (activity asset utilization ratio) menunjukkan seberapa cepatnya unsur-unsur aktiva itu dikonversikan menjadi penjualan ataupun kas. Semua rasio likuiditas tidak menunjukkan likuiditas nyata, sebab hanya menunjukkan perbedaan antara aktiva lancar dan hutang lancar, sedangkan rasio aktivitas ini menilai kegiatan yang mampu mempercepat terciptanya likuiditas. Rasio aktivitas ini meliputi account receivable ratio, inventory ratio, operating cycle, dan total asset turnover.

1)         Account receivable ratio

Account receivable ratio terdiri dari perputaran piutang (receivable turnover), dan rata-rata pengumpulan piutang (average collection period). Dengan account receivable turnover kita mengetahui jumlah waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan piutang selama satu tahun yang dapat dihitung dengan cara membagi penjualan kredit dengan rata-rata piutang. Dengan menganggap seluruh penjualan sebagai penjualan kredit maka account receivable ratio.

Penjualan kredit bersih
Rata-rata piutang

Account receivable turnover =

2)         Inventory ratio

Dengan inventory ratio ini akan dihitung kemampuan persediaan berputar selama satu tahun yang diukur dengan menggunakan inventory turnover, dan waktu rata-rata dari persediaan tertahan digudang.

Harga pokok penjualan
Rata-rata persediaan

Inventory turnover =

3)         Operating cycle

Untuk mengetahui siklus operasi dalam bisnis tertentu digunakan ukuran operating cycle yang menunjukkan jumlah hari yang diperlukan untuk mengkonversikan persediaan menjadi piutang sehingga kembali menjadi uang kas.

Operating cycle : average collection period + average age of inventory

4)         Total asset turnover

Total asset turnover ini menunjukkan kemampuan total aktiva untuk berputar selama satu tahun untuk menghasilkan penjualan yang dapat dihitung dengan cara membagi penjualan bersih dengan rata-rata total aktiva.

Penjualan bersih
Total aktiva rata-rata

Total asset turnover =

  1. H. Kerangka Berpikir

Untuk meningkatkan kelangsungan hidup dari perusahaan, maka setiap perusahaan harus mempunyai cara atau metode untuk memformulasikan dan menetapkan strategi yang tepat dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas perusahaan. Penempatan starategi yang handal oleh pimpinan perusahaan harus didukung pula dengan penggunaan sumber-sumber daya yang ada seefisien mungkin dimana kemampuan untuk menghasilkan output tertentu dengan menggunakan input seminimal atau seefisien mungkin. Dengan adanya prinsip efisiensi tersebut maka hasil yang didapat berkaitan dengan suatu jumlah yang dikeluarkan untuk mencapai output tertentu, yang dapat dipandang sebagai tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut maka perusahaan harus memiliki cara atau metode yang tepat sebagai alat yang digunakan perusahaan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelolah keuangannya dengan efisien.

  1. I. Metode penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, maksudnya penelitian yang berusaha untuk menentukan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data yang menyajikan, menganalisa, dan menginterpretasikannya, tujuannya untuk pemecahan masalah secara sistematis dan faktuar mancari fakta-fakta. (Cholid Murboko 2001).

  1. J. Variabel Penelitian

Untuk memecahkan permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya maka variabel-variabel penelitian yang diukur adalah:

  1. Receivable turnover               =
  • Penjualan kredit selama setahun
  • Rata-rata piutang
  1. Inventory turnover                 =
  • Harga pokok penjualan
  • Rata-rata persediaan
  1. Average collection period       =
  • Jumlah hari dalam setahun
  • Perputaran piutang
  1. Total assets turnover (TATO) =
  • Penjualan bersih
  • Total aktiva
  1. K. Teknik pengumpulan Data

Dalam memperoleh data, penulis menggunakan akses media internet yaitu pada website – website yang berhubungan dan mendukung untuk penelitian ini. Selain itu, penulis juga menggunakan buku – buku atau literatur yang mendukung penelitian ini.

  1. L. Populasi dan sampel
    1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan karakteristik yang diteliti yang berhubungan dengan rasio efisiensi (rasio aktivitas) unit populasinya adalah laporan keuangan PT. Aneka Kemasindo Utama Tbk.

  1. Sampel

Teknik pengambilan sampelnya adalah purposive sampling yaitu laporan keuangan PT. Aneka Kemasindo Utama Tbk pembukuan selama 5 tahun yakni 2005, 2006, 2007, 2008, dan 2009.

  1. L. Teknik analisis data

Dalam teknik analisis data yang ada, maka penulis menggunakan analisis rasio pembukuan selama 5 tahun periode, rasio yang digunakan adalah rasio efisiensi (rasio efektivitas) dengan metode perhitungan sebagai berikut:

a)      Receivable Turnover

b)      Inventory Turnover

c)      Average collection periode

d)     Total assets turnover (TATO)

by: Agus Hartjitno dan Martono SU (2005:55)

  1. M. Tempat dan Waktu penelitian
  • Tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan pada  PT. Aneka Kemasindo Utama Tbk di Tangerang – Banten.

  • Waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan.

Daftar Pustaka

Agus Hartjito dan Martono SU, 2005, Manajemen Keuangan, ekonosia, Yogyakarta.

Lukas Setia Atmaja Phd, 2008, Manajemen Keuangan teori dan praktik, ANDI, Yogyakarta.

Mamdu M Hanafi, 2008, Manajemen Keuangan, BPFE, Yogyakarta.

Agus Sartono, 2001, Manajemen Keuangan teori dan aplikasi, BPFE, Yogyakarta.

Siswanto, 2006, Pengantar Manajemen, Bumi aksara, Bandung.

Amirullah dan Haris Budiyono, 2004, Pengantar Manajemen, Graha Ilmu, Yogyakarta.

Jumingan, 2005, Analisis Laporan keuangan, Bumi Aksara, Jakarta.

http://prasasto.blogspot.com/2008/08/rangkuman-materi-manajemen-keuangan-i.html

http://www.idx.co.id/eReport/IssuerProfile/tabid/232/language/id-ID/kd/AKKU/Default.aspx

http://indoskripsi.com

Bab I

Pendahuluan

Dewasa ini permasalahan lingkungan atau umumnya pencemaran semakin meningkat khususnya pencemaran air. Pencemaran terjadi bila dalam lingkungan terdapat bahan yang menyebabkan timbulnya perubahan yang tidak diharapkan, baik yang bersifat fisik, kimiawi maupun biologis sehingga mengganggu kesehatan eksistensi manusia, dan aktivitas manusia serta organism lainnya. Pada hakikatnya antara aktivitas manusia dan timbulnya pencemaran terdapat hubungan melingkar berbentuk siklus. Agar dapat hidup dengan baik manusia beradaptasi dengan lingkungannya dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia mengembangkan teknologi. Akibat sampingan dari pengembangan teknologi adalah bahan pencemar yang menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan ini merupakan stimulus agar manusia menyesuaikan diri terhadap ligkungannya.

Pencemaran lingkungan terjadi bila daur materi dalam lingkungan hidup mengalami perubahan, sehingga keseimbangan dalam hal struktur maupun fungsinya terganggu. Ketidak seimbangan struktur dan fungsi daur materi terjadi karena proses alam atau juga karena perbuatan manusia. Dalam abad modern ini banyak kegiatan atau perbuatan manusia untuk memenuhi kebutuhan biologis dan kebutuhan teknologi sehingga banyak menimbulkan pencemaran lingkungan. Manusia adalah merupakan satu¬satunya komponen Lingkungan Hidup  biotik yang mempunyai kemampuan untuk dengan sengaja merubah keadaan lingkungan hidup. Dalam usaha merubah lingkungan hidupnya ini dengan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya dapat menimbulkan masalah yang disebut pencemaran. Manusia juga dapat merubah keadaan lingkungan yang tercemar akibat berbuatannya ini menjadi keadaan lingkungan yang lebih baik, menjadi keadaan seimbang, dapat mengurangi terjadinya pencemaran lingkungan, bahkan diharapkan untuk dapat mecegah terjadinya pencemaran.

Penyebab terjadinya pencemaran lingkungan sebagian besar disebabkan oleh tangan manusia. Pencemaran air dan tanah adalah pencemaran yang terjadi di perairan seperti sungai, kali, danau, laut, air tanah, dan sebagainya. Sedangkan pencemaran tanah adalah pencemaran yang terjadi di darat baik di kota maupun di desa.

Pencemaran lingkungan merupakan masalah kita bersama, yang semakin penting untuk diselesaikan, karena menyangkut keselamatan, kesehatan, dan kehidupan kita. Siapapun bisa berperan serta dalam menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, termasuk kita. Dimulai dari lingkungan yang terkecil, diri kita sendiri, sampai ke lingkungan yang lebih luas.

Permasalahan pencemaran lingkungan yang harus segera kita atasi bersama diantaranya pencemaran air tanah dan sungai, pencemaran udara perkotaan, kontaminasi tanah oleh sampah, hujan asam, perubahan iklim global, penipisan lapisan ozon, kontaminasi zat radioaktif, dan sebagainya.

Untuk menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, tentunya kita harus mengetahui sumber pencemar, bagaimana proses pencemaran itu terjadi, dan bagaimana langkah penyelesaian pencemaran lingkungan itu sendiri.

Bab II

Pembahasan

  1. A. Pencemaran

Pencemaran, menurut SK Menteri Kependudukan Lingkungan Hidup No 02/MENKLH/1988 :

“Pencemaran adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam air/udara, dan/atau berubahnya tatanan (komposisi) air/udara oleh kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air/udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya”.

Menurut Daryanto (2004 :73) Pencemaran merupakan sebuah siklus yang selalu berputar dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya.

Menurut WHO, ditetapkan empat tahapan pencemaran :

1)      Pencemaran tingkat pertama

Pencemaran yang tidak menimbulkan kerugian pada manusia, baik dilihat dari kadar zat pencemarannya maupun waktu kontaknya dengan lingkungan

2)      Pencemaran tingkat kedua

Pencemaran yang mulai menimbulkan iritasi ringan pada pancaindera dan alat vegetatif lainnya serta menimbulkan gangguan pada komponen ekosistem lainnya

3)      Pencemaran tingkat ketiga

Pencemaran yang sudah mengakibatkan reaksi pada faal tubuh dan menyebabkan sakit yang kronis

4)      Pencemaran tingkat keempat

Pencemaran yang telah menimbulkan dan mengakibatkan kematian dalam lingkungan karena kadar zat pencemar terlalu tinggi Untuk mencegah terjadinya pencemaran terhadap lingkungan oleh berbagai aktivitas industri dan aktivitas manusia, maka diperlukan pengendalian terhadap pencemaran lingkungan dengan menetapkan baku mutu lingkungan. Baku mutu lingkungan adalah batas kadar yang diperkenankan bagi zat atau bahan pencemar terdapat di lingkungan dengan tidak menimbulkan gangguan terhadap makhluk hidup, tumbuhan atau benda lainnya.

  1. B. Pengertian lingkungan

Lingkungan  adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik. Jika kalian berada di sekolah, lingkungan biotiknya berupa teman-teman sekolah, bapak ibu guru serta karyawan, dan semua orang yang ada di sekolah, juga berbagai jenis tumbuhan yang ada di kebun sekolah serta hewan-hewan yang ada di sekitarnya. Adapun lingkungan abiotik berupa udara, meja kursi, papan tulis, gedung sekolah, dan berbagai macam benda mati yang ada di sekitar.

Berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  1. Unsur Hayati (Biotik)

Unsur hayati (biotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Jika kalian berada di kebun sekolah, maka lingkungan hayatinya didominasi oleh tumbuhan. Tetapi jika berada di dalam kelas, maka lingkungan hayati yang dominan adalah teman-teman atau sesama manusia.

  1. Unsur Sosial Budaya

Unsur sosial budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.

  1. Unsur Fisik (Abiotik)

Unsur fisik (abiotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti tanah, air, udara, iklim, dan lain-lain. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi. Bayangkan, apa yang terjadi jika air tak ada lagi di muka bumi atau udara yang dipenuhi asap? Tentu saja kehidupan di muka bumi tidak akan berlangsung secara wajar. Akan terjadi bencana kekeringan, banyak hewan dan tumbuhan mati, perubahan musim yang tidak teratur, munculnya berbagai penyakit, dan lain-lain.

  1. C. Kerusakan Lingkungan Hidup

Berdasarkan faktor penyebabnya, bentuk kerusakan lingkungan hidup dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

a)      Bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Peristiwa Alam

Berbagai bentuk bencana alam yang akhir-akhir ini banyak melanda Indonesia telah menimbulkan dampak rusaknya lingkungan hidup. Dahsyatnya gelombang tsunami yang memporak-porandakan bumi Serambi Mekah dan Nias, serta gempa 5 skala Ritcher yang meratakan kawasan DIY dan sekitarnya, merupakan contoh fenomena alam yang dalam sekejap mampu merubah bentuk muka bumi.

Peristiwa alam lainnya yang berdampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:

  • Letusan gunung berapi

Letusan gunung berapi terjadi karena aktivitas magma di perut bumi yang menimbulkan tekanan kuat keluar melalui puncak gunung berapi.

Bahaya yang ditimbulkan oleh letusan gunung berapi antara lain berupa:  Hujan abu vulkanik, menyebabkan gangguan pernafasan. Lava panas, merusak, dan mematikan apa pun yang dilalui. Awan panas, dapat mematikan makhluk hidup yang dilalui. Gas yang mengandung racun. Material padat (batuan, kerikil, pasir), dapat menimpa perumahan, dan lain-lain.

  • Gempa bumi

Gempa bumi adalah getaran kulit bumi yang bisa disebabkan karena beberapa hal, di antaranya kegiatan magma (aktivitas gunung berapi), terjadinya tanah turun, maupun karena gerakan lempeng di dasar samudra. Manusia dapat mengukur berapa intensitas gempa, namun manusia sama sekali tidak dapat memprediksikan kapan terjadinya gempa. Oleh karena itu, bahaya yang ditimbulkan oleh gempa lebih dahsyat dibandingkan dengan letusan gunung berapi. Pada saat gempa berlangsung terjadi beberapa peristiwa sebagai akibat langsung maupun tidak langsung, di antaranya: Berbagai bangunan roboh, Tanah di permukaan bumi merekah, jalan menjadi putus, Tanah longsor akibat guncangan, Terjadi banjir, akibat rusaknya tanggul, Gempa yang terjadi di dasar laut dapat menyebabkan tsunami (gelombang pasang).

  • Angin topan

Angin topan terjadi akibat aliran udara dari kawasan yang bertekanan tinggi menuju ke kawasan bertekanan rendah. Perbedaan tekanan udara ini terjadi karena perbedaan suhu udara yang mencolok. Serangan angin topan bagi negara-negara di kawasan Samudra Pasifik dan Atlantik merupakan hal yang biasa terjadi. Bagi wilayah-wilayah di kawasan California, Texas, sampai di kawasan Asia seperti Korea dan Taiwan, bahaya angin topan merupakan bencana musiman. Tetapi bagi Indonesia baru dirasakan di pertengahan tahun 2007. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan iklim di Indonesia yang tak lain disebabkan oleh adanya gejala pemanasan global. Bahaya angin topan bisa diprediksi melalui foto satelit yang menggambarkan keadaan atmosfer bumi, termasuk gambar terbentuknya angin topan, arah, dan kecepatannya. Serangan angin topan (puting beliung) dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup dalam bentuk: Merobohkan bangunan, Rusaknya areal pertanian dan perkebunan, Membahayakan penerbangan,  Menimbulkan ombak besar yang dapat menenggelamkan kapal.

b)      Kerusakan Lingkungan Hidup karena Faktor Manusia

Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan sederhana sampai ke bentuk kehidupan modern seperti sekarang ini. Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Banyak kemajuan yang diraih oleh manusia membawa dampak buruk terhadap kelangsungan lingkungan hidup.

Beberapa bentuk kerusakan lingkungan hidup karena faktor manusia, antara lain:

  • Terjadinya pencemaran (pencemaran udara, air, tanah, dan suara) sebagai dampak adanya kawasan industri.
  • Terjadinya banjir, sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan air dan kesalahan dalam menjaga daerah aliran sungai dan dampak pengrusakan hutan.
  • Terjadinya tanah longsor, sebagai dampak langsung dari rusaknya hutan.

Beberapa ulah manusia yang baik secara langsung maupun tidak langsung membawa dampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain: Penebangan hutan secara liar (penggundulan hutan),  Perburuan liar,  Merusak hutan bakau, Penimbunan rawa-rawa untuk pemukiman, Pembuangan sampah di sembarang tempat, Bangunan liar di daerah aliran sungai (DAS), Pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan di luar batas.

  1. D. Pencemaran Lingkungan

Pada saat ini pencemaran terhadap lingkungan berlangsung di mana-mana dengan laju yang sangat cepat. Sekarang ini beban pencemaran dalam lingkungan sudah semakin berat dengan masuknya limbah industri dari berbagai bahan kimia termasuk logam berat.

Pencemaran lingkungan dapat dikategorikan menjadi:

  1. Pencemaran air
  2. Pencemaran udara
  3. Pencemaran tanah
  • Pencemaran Air

Air merupakan salah satu sumber alam yang mulai terasa pengaruhnya pada usaha memperluas kegiatan pertanian dan industri di berbagai tempat di dunia, secara alamiah sumber-sumber air merupakan kekayaan alam yang dapat diperbaharui dan yang mempunyai daya generasi yaitu selalu dalam sirkulasi. Air sebagai sumberdaya kini lebih disadari merupakan salah satu unsur penentu di dalam ikut mencapai keberhasilan pembangunan, termasuk pula terhadap keberhasilan pembangunan kesehatan lingkungan.

Pada masa sekarang ini nampaknya sulit untuk memperoleh air yang betul-betul murni, aliran air dari gunung yang diperkirakan paling bersih pun akan membawa mineral-mineral, gas-gas berlarut dan zat-zat organik dari tumbuhan atau binatang yang hidup di dalam atau dekat aliran tersebut, selain itu aktivitas manusia merupakan salah satu hal yang menyebabkan timbulnya masalah-masalah pencemaran air di dalam ekosistem air.

Pencemaran air pada umumnya terjadi oleh tingkah laku manusia seperti oleh zat-zat deterjen, asam belerang dan zat-zat kimia sebagai sisa pembuangan pabrik-pabrik kimia/industri. Pembuangan bahan kimia limbah maupun pencemar lain ke dalam air akan mempengaruhi kehidupan dalam air tersebut, suatu pencemar dalam suatu ekosistem mungkin cukup banyak sehingga akan meracuni semua organisme yang terdapat di sana, biasanya

suatu pencemaran cukup banyak untuk membunuh spesies tertentu, tetapi tidak membahayakan spesies lainnya, sebaliknya ada kemungkinan bahwa suatu pencemar justru dapat mendukung perkembangan spesies tertentu. Jadi,

bila air tercemar ada kemungkinan pergeseran-pergeseran dari jumlah spesies yang banyak dengan ukuran yang sedang populasinya, kepada jumlah spesies

yang sedikit tetapi berpopulasi yang tinggi. Penetapan standar air yang bersih tidak mudah, namun ada kesepakatan bahwa air yang bersih tidak ditetapkan pada kemurnian air akan tetapi didasarkan pada keadaan normalnya, sebab air yang ada di bumi ini tidak pernah terdapat dalam keadaaan murni bersih, tetapi selalu ada senyawa atau mineral atau unsur lain yang terlarut di dalamnya.

Pencemaran perairan terbuka berupa danau, situ, rawa, dan sungai oleh limbah industri maupun rumah tangga merupakan masalah yang serius.

Berbagai bentuk pencemar, baik yang bersifat fisik atau endapan lumpur, bahan organik maupun berupa senyawa kimia termasuk yang beracun, seperti logam berat perlu segera diatasi sebelum terjadi akumulasi yang membahayakan pada banyak perairan di tanah air kita . Pencemaran air  berlaku apabila perubahan berlaku dari segi kandungan, keadaan dan warna sehingga tidak sesuai dan memberi kesan apabila digunakan. Pencemaran berlaku sama ada dari segi biologi, kimia dan fisik. Pencemaran air bukan hanya berlaku di sungai tetapi juga di laut. Untuk memantau pencemaran air sungai digunakan kombinasi parameter fisika, kimia dan biologi. Tapi yang sering digunakan hanya parameter fisika seperti temperatur, warna, bau, rasa dan kekeruhan air, ataupun parameter kimia seperti : partikel terlarut, kebutuhan oksigen biokimia ( BOD ), partikel tersuspensi ( SS ), amonia ( NH3 ). Bahan-bahan polutan bagi pencemaran air dalam bentuk pencemar fisika, kimiawi dan biologis dibagi menjadi 8 kelompok yaitu :

  • Agen penyebab penyakit (bakteri, virus, protozoa, parasit).
  • Limbah penghabis oksida (limbah rumah tangga, kotoran hewan dan  manusia, bahan organic dan sebagainya).
  • Bahan kimia yang larut dalam air (asam, garam, logam beracun dan senyawa lain).
  • Pupuk anorganik (garam nitrat dan fosfat yang terlarut).
  • Bahan kimia organik (minyak, bensin, plastik, pestisida). Bahan sedimen atau suspensi (partikel tanah, pasir dan bahan anorganik lain yang melayang dalam air).
  • Bahan-bahan radioaktif
  • Panas
  • Penyebab Pencemaran Air

Penggunaan air oleh manusia akan menghasilkan limbah, apabila dibuang langsung ke lingkungan akan menyebabkan terjadinya pencemaran air sehingga dapat membahayakan kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Polutan biologis berasal dari kotoran manusia yang mengandung bakteri dan virus, protozoa atau parasit lain yang mencemari sungai, sumur dan atau mata air.

Limbah penghabis oksigen berasal dari limbah rumah tangga yang mengandung sisa-sisa makanan, kotoran manusia, ternak, bangkai dan bahan-bahan organik lainnya. Ciri polutan ini adalah mengandung nutrisi yang menyuburkan pertumbuhan perairan. Pada tingkat pencemaran yang parah semua kehidupan air akan mati akibat keracunan. Zat-zat organik akan mengalami pembusukan menghasilkan senyawa-senyawa lain yang beracun, menurunkan kadar oksigen terlarut, meningkatkan suhu dan menurunkan

keasaman (PH), warna air akan berubah menjadi coklat kehitaman dan apabila oksigen benar-benar habis akan mengeluarkan bau busuk yang menyengat.

Polutan dalam bentuk senyawa asam, logam beracun dan senyawa lain berasal dari limbah industri, unsur kimia yang bersifat racun bila terdapat dalam jumlah yang melebihi batas tertentu. Bahan kimia organik (minyak, bensin, plastik, pestisida) bisa berasal dari limbah rumah tangga, pertanian, pasar atau industri. Polutan ini dapat mematikan mikroorganisme dan makroorganisme akuatik, polutan plastik merupakan polutan yang tidak teruraikan ( non degradable ).

Bahan-bahan radioaktif berasal dari reaktor-reaktor nuklir atau percobaan-percobaan bom nuklir. Reaktor-reaktor nuklir karena suatu sebab dapat bocor atau meledak, menyemburkan bahan-bahan radioaktif yang akan mencemari lingkungan. Pencemaran air dapat berasal dari berbagi sumber pencemaran, antara lain berasal dari industri, limbah rumah tangga, limbah pertanian dan sebagainya.

  • Industri :

Pabrik industri mengeluarkan limbah yang dapat mencemari ekosistem air,

pembuangan limbah industri ke sungai- sungai dapat menyebabkan

berubahnya susunan kimia, bakteriologi serta fisik air. Polutan yang

dihasilkan oleh pabrik dapat berupa :

ü  logam berat ; timbal, tembaga, seng dan lain-lain

ü   panas ; air yang tinggi temperaturnya sulit menyerap oksigen yang  pada akhirnya akan mematikan biota air.

Jumlah aliran air limbah yang berasal dari industri sangat bervariasi tergantung dari jenis dan besar kecilnya industri, pengawasan pada proses industri, derajat penggunaan air, derajat pengolahan air limbah yang ada. Puncak tertinggi aliran selalu tidak akan dilewati apabila menggunakan tangkis penahan dan bak pengaman.

  • Limbah rumah tangga:

Sumber utama air limbah rumah tangga dari masyarakat adalah berasal dari perumahan dan daerah perdagangan, sumber lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah daerah perkantoran atau lembaga serta fasilitas rekreasi. Dari rumah tangga dapat dihasilkan berbagai macam zat organik dan anorganik yang dialirkan melalui selokan-selokan dan akhirnya bermuara ke sungai-sungai. Selain dalam bentuk zat organik dan anorganik dari limbah rumah tangga bisa terbawa bibit-bibit penyakit yang dapat menular pada hewan dan manusia sehingga menimbulkan epidemi yang luas di masyarakat. Polusi air yang disebabkan oleh penggunaan deterjen terutama menyangkut masalah bahan pembentuk ( surfaktan ), masalah utama yang timbul bukan karena racunnya, tetapi busanya yang mengganggu lingkungan di sekitarnya. Bahan pembentuk utama di dalam detergen adalah natrium tripolifosfat ( Na P O ), senyawa ini bukan 5 3 10 merupakan masalah dalam dekomposisi di lingkungan sebab ion P O 3 10 -5 akan mengalami reaksi hidrolisis perlahan di dalam lingkungan untuk memproduksi ortofosfat yang tidak beracun.

  • Limbah pertanian:

Penggunaan pupuk di daerah pertanian akan mencemari air yang keluar dari pertanian, air ini mengandung bahan makanan bagi ganggang, sehingga mengalami pertumbuhan dengan cepat, ganggang yang menutupi permukaan air akan berpengaruh buruk terhadap ikan-ikan dan komponen biotik air ekosistem dari air tersebut. Dari daerah pertanian terlarut pula sisa-sisa pestisida yang terbawa ke sungai atau bendungan, pestisida yang bersifat toksit akan mematikan hewan-hewan air, burung dan bahkan manusia.

Benda-benda yang dapat menyebabkan turun atau rusaknya kualitas

air berasal dari benda-benda yang berbentuk gas adalah sebagai berikut :

ü  Gas Oksigen (O ) atau zat asam; diperlukan untk makhluk hidup yang berada di udara, daratan maupun di dalam air.

ü  Gas lain dalam air (CO , CO, H S): Gas CO terbentuk karena proses pembakaran bahan-bahan minyak, batu bara dan lain-lain kurang  sempurna, gas CO yang berada di udara dalam jumlah besar dapat  menyebabkan kematian, air tidak terdapat CO, H S terjadi pada proses pembusukan zat-zat organik, penyebab bau busuk.

  • Indikator Pencemaran Air

Air yang baik adalah air yang tidak tercemar secara berlebihan oleh zat-zat kimia atau mineral terutama oleh zat-zat atau mineral yang berbahaya bagi kesehatan. Adapun beberapa indikator bahwa air sungai telah tercemar adalah sebagai berikut:

ü  Adanya perubahan suhu air. Air yang panas apabila langsung dibuang ke lingkungan akan mengganggu kehidupan hewan air dan mikroorganisme lainnya.

ü  Adanya perubahan pH atau konsentrasi ion Hidrogen. Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai berkisar pH berkisar antara 6,5 – 7,5.

ü  Adanya perubahan warna, bau dan rasa air. Air dalam keadaan normal dan bersih pada umumnya tidak akan berwarna, sehingga tampak bening dan jernih, tetapi hal itu tidak berlaku mutlak, seringkali zat-zat beracun justru terdapat pada bahan buangan industri yang tidak mengakibatkan perubahan warna pada air. Timbulnya bau pada air lingkungan secara mutlak dapat dipakai sebagai salah satu tanda terjadinya pencemaran. Apabila air memiliki rasa berarti telah terjadi penambahan material pada air dan mengubah konsentrasi ion Hidrogen dan pH air.

ü  Timbulnya endapan, koloidal, bahan terlarut. Bahan buangan yang  berbentuk padat, sebelum sampai ke dasar sungai akan melayang di dalam  air besama koloidal, sehingga menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam lapisan air. Padahal sinar matahari sangat diperlukan oleh mikroorganisme untuk melakukan fotosintesis.

ü  Adanya mikroorganisme.Mikroorganisme sangat berperan dalam proses degradasi bahan buangan dari limbah industri ataupun domestik. Bila bahan buangan yang harus didegradasi cukup banyak, maka mikroorganisme akan ikut berkembangbiak. Pada perkembangbiakan mikroorganisme ini tidak tertutup kemungkinan bahwa mikroba patogen ikut berkembangbiak pula.

ü  Meningkatnya radioaktivitas air lingkungan. Zat radioaktif dari berbagai kegiatan dapat menyebabkan berbagai macam kerusakan biologis apabila tidak ditangani dengan benar, baik efek langsung maupun efek tertunda.

  • Dampak Pencemaran Air

Air sering digunakan sebagai medium pendingin dalam berbagai proses industri, air pendingin tersebut setelah digunakan akan mendapatkan panas dari bahan yang didinginkan, kemudian dikembalikan ke tempat asalnya yaitu sungai atau sumber air lainnya. Air buangan tersebut mungkin mempunyai suhu lebih tinggi daripada air asalnya, kenaikan suhu air akan menimbulkan beberapa akibat sebagai berikut :

  • Jumlah oksigen terlarut di dalam air menurun
  • Kecepatan reaksi kimia meningkat
  • Kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu
  • Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati

Kandungan bahan kimia yang terdapat di dalam air limbah dapat merugikan lingkungan melalui berbagai cara. Bahan organik terlarut dapat menghasilkan oksigen dalam limbah serta akan menimbulkan rasa dan bau yang tidak sedap pada penyediaan air bersih, selain itu akan lebih berbahaya apabila bahan tersebut merupakan bahan beracun.

Adapun pencemaran air oleh minyak sangat merugikan karena dapat menimbulkan hal-hal sebagai berikut :

  • Adanya minyak menyebabkan penetrasi sinar ke dalam air berkurang
  • Konsentrasi oksigen terlarut menurun dengan adanya minyak karena lapisan film minyak menghambat pengambilan oksigen oleh air
  • Adanya lapisan minyak pada permukaan air akan mengganggu kehidupan burung air, karena burung-burung yang berenang dan menyelam bulu- bulunya akan ditutupi oleh minyak sehingga menjadi lengket satu sama lain.
  • Penetrasi sinar dan oksigen yang menurun dengan adanya minyak dapat mengganggu kehidupan tanaman-tanaman. Dampak yang ditimbulkan terhadap organisme adalah kematian, atau akan mengalami kelainan genetik, menderita kanker dan sebagainya.
  • Pecemaran udara

Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.

Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia. Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi suara, panas, radiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global.

Sumber Polusi Udara

Pencemar udara dibedakan menjadi dua yaitu, pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara. [Karbon monoksida]adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer karena ia merupakan hasil dari pembakaran. Pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer. Pembentukan [ozon]dalam [smog fotokimia]adalah sebuah contoh dari pencemaran udara sekunder.

Belakangan ini pertumbuhan keprihatinan akan efek dari emisi polusi udara dalam konteks global dan hubungannya dengan [pemanasan global yg mempengaruhi;

  • Kegiatan manusia berupa: Transportasi, Industri, Pembangkit listrik, Pembakaran (perapian, kompor, furnace,[insinerator]dengan berbagai jenis bahan bakar), Gas buang pabrik yang menghasilkan gas berbahaya seperti (CFC)
  • Sumber alami berupa Gunung berapi, Rawa-rawa, Kebakaran hutan,[Nitrifikasi] dan [denitrifikasi]biologi
  • Sumber-sumber lain berupa Transportasi[amonia], Kebocoran tangki][klor], Timbulan gas [metana]dari [lahan uruk]/[tempat pembuangan akhir] [sampah], Uap pelarut organik.
  • Pencemaran tanah

Pencemaran tanah adalah keadaan dimana bahan kimia buatan manusia masuk dan mengubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).

Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya. Paparan kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada konsentrasi tertentu dapat meningkatkan kemungkinan terkena leukemia.

Sumber Pencemaran Lingkungan

Pencemar datang dari berbagai sumber dan memasuki udara, air dan tanah dengan berbagai cara. Pencemar udara terutama datang dari kendaraan bermotor, industi, dan pembakaran sampah. Pencemar udara dapat pula berasal dari aktivitas gunung berapi.

Pencemaran sungai dan air tanah terutama dari kegiatan domestik, industri, dan pertanian. Limbah cair domestik terutama berupa BOD, COD, dan zat organik. Limbah cair industri menghasilkan BOD, COD, zat organik, dan berbagai pencemar beracun. Limbah cair dari kegiatan pertanian terutama berupa nitrat dan fosfat.

Proses Pencemaran Lingkungan

Proses pencemaran dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yaitu bahan pencemar tersebut langsung berdampak meracuni sehingga mengganggu kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan atau mengganggu keseimbangan ekologis baik air, udara maupun tanah. Proses tidak langsung, yaitu beberapa zat kimia bereaksi di udara, air maupun tanah, sehingga menyebabkan pencemaran.

Pencemar ada yang langsung terasa dampaknya, misalnya berupa gangguan kesehatan langsung (penyakit akut), atau akan dirasakan setelah jangka waktu tertentu (penyakit kronis). Sebenarnya alam memiliki kemampuan sendiri untuk mengatasi pencemaran (self recovery), namun alam memiliki keterbatasan. Setelah batas itu terlampaui, maka pencemar akan berada di alam secara tetap atau terakumulasi dan kemudian berdampak pada manusia, material, hewan, tumbuhan dan ekosistem.

Langkah Penyelesaian

Penyelesaian masalah pencemaran terdiri dari langkah pencegahan dan pengendalian. Langkah pencegahan pada prinsipnya mengurangi pencemar dari sumbernya untuk mencegah dampak lingkungan yang lebih berat. Di lingkungan yang terdekat, misalnya dengan mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan, menggunakan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle).

Di bidang industri misalnya dengan mengurangi jumlah air yang dipakai, mengurangi jumlah limbah, dan mengurangi keberadaan zat kimia PBT (Persistent, Bioaccumulative, and Toxic), dan berangsur-angsur menggantinya dengan Green Chemistry. Green chemistry merupakan segala produk dan proses kimia yang mengurangi atau menghilangkan zat berbahaya.

Tindakan pencegahan dapat pula dilakukan dengan mengganti alat-alat rumah tangga, atau bahan bakar kendaraan bermotor dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Pencegahan dapat pula dilakukan dengan kegiatan konservasi, penggunaan energi alternatif, penggunaan alat transportasi alternatif, dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Langkah pengendalian sangat penting untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat. Pengendalian dapat berupa pembuatan standar baku mutu lingkungan, monitoring lingkungan dan penggunaan teknologi untuk mengatasi masalah lingkungan. Untuk permasalahan global seperti perubahan iklim, penipisan lapisan ozon, dan pemanasan global diperlukan kerjasama semua pihak antara satu negara dengan negara lain.

Bab III

Contoh Kasus Pencemaran Lingkungan Yang Di Sebabkan Oleh Limbah crude oil Pertamina Balongan

Pencemaran Lingkungan

(sumber: Suara Pembaharuan, selasa 17 Februari 2009 hal 19)

PT. Pertamina Unit Produksi Balongan dengan kasus tumpahan minyak mentah (crude oil), sehingga mengakibatkan pencemaran berat. Menurut Deputi V Kementerian Lingkungan Hidup bidang penataan lingkungan mengatakan “PT Pertamina harus segera memperbaiki kerusakan peralatan produksi minyak yang mengakibatkan pencemaran lingkungan. Menurut kepala kantor lingkungan hidup Indramayu sejak tahun 2000 hingga 2007, rata-rata kasus kebocoran minyak terjadi sekali setahun. Tumpahan minyak jenis crude oil itu terjadi karena kebocoran saat pengisian dari kapal tanker ke tangki penampung darat melalui single buoy mooring (SBM). Data yang diperoleh dari Kementerian Lingkungan Hidup yang bertindak sebagai fasilisator kesepakatan menyebutkan, kebocoran minyak yang mengakibatkan 7.021 petambak dan 4.436 nelayan merugi. Tumpahan ceceran minyak akibat kebocoran mencapai pesisir pantai yang mengenai 4 Kecamatan dan 13 Desa dengan luas total tambak tercemar 11.457 hektar.

Ratusan Nelayan dan Petambak Demo Pencemaran Crude Oil Pertamina

Author: Indramayu Post | Posted at: Kamis, Januari 21, 2010 | Filed Under: Seputar Lingkungan Indramayu |

Indramayu – Proses rehabilitasi lingkungan akibat pencemaran crude oil Pertamina hingga kini tak kunjung selesai. Karenanya, ratusan massa yang terdiri dari nelayan dan petambak pun berunjuk rasa ke Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kabupaten Indramayu, Rabu (20/1).

Ratusan massa itu berasal dari empat kecamatan di Kabupaten Indramayu, yakni Kecamatan Sindang, Indramayu, Losarang dan Kandanghaur. Mereka tergabung dalam Persatuan Masyarakat Nelayan dan Petambak (PNMP) dan Rempug Wong Dermayu (RWD).

Dalam aksinya, mereka menuntut agar rehabilitasi lingkungan pantai yang terkena dampak pencemaran crude oil segera dilakukan. Sambil membentangkan spanduk dan poster berisi kecaman, massa bergerak dari GOR Singalodra menuju kantor pendopo Kabupaten Indramayu.

Di depan pintu gerbang pendopo, massa dihadang aparat keamanan gabungan dari Polsek dan Polres Indramayu. Di tempat tersebut, massa hanya melakukan orasi.

‘’Nelayan dan petambak sangat dirugikan dengan adanya pencemaran itu,’’ tegas salah seorang korlap, Masdi. Masdi menjelaskan, para nelayan dan petambak kehilangan pencaharian akibat peristiwa itu. Nelayan Indramayu harus melaut dengan jarak yang lebih jauh karena ikan menjadi mati. Tak hanya itu, jaring dan perahu pun rusak terkena ceceran crude oil.

Kerugian juga dialami para pemilik tambak. Budidaya tambak yang sebelumnya ditanam, juga menjadi mati. Menurut Masdi, kasus pencemaran sudah terjadi sejak pertengahan September 2008. Namun hingga kini, tidak ada langkah kongkret untuk merehabilitasi kembali perairan yang tercemar tumpahan crude oil.

Usai berorasi, massa lalu long march menuju KLH Kabupaten Indramayu yang berjarak sekitar satu kilometer. Akibat banyaknya massa, polisi harus menutup sejumlah ruas jalan protokol di Kota Indramayu untuk menghindari penumpukan kendaraan.

Di tempat itu, sejumlah perwakilan massa diterima Kepala KLH, Aep Surahman dan Kahupmas UP VI Pertamina Balongan, Darijanto. Dalam negosiasi antara kedua pihak, dihasilkan keputusan bahwa KLH dan Pertamina Balongan akan membantu para nelayan dan petambak. Caranya, dengan memfasiilitasi massa untuk menyampaikan keluhannya ke Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta, Jumat (22/1) mendatang.

‘’Rehablitasi pantai sedang dalam proses, hanya butuh waktu untuk disetujui oleh pejabat di Jakarta,’’ tegas Aep. Seperti diberitakan, pencemaran crude oil itu bermula dari adanya kebocoran di floathing hose di SBM 150.000 DWT milik Pertmaina UP VI Balongan, Ahad (14/9) sekitar pukul 10.48 WIB. Saat itu tengah erlangsung kegiatan bogkar crude oil dari Kapal Tanker MT Arendal yang akan ditransfer ke tanki darat di kilang Pertamina UP VI. Namun saat proses transfer berlangsung terjadi kebocoran. (Rep)

http://indramayu-post.blogspot.com/2010/01/indramayu-proses-rehabilitasi.html

Nelayan Indramayu Tuntut Ganti Rugi Pencemaran Cruide Oil

Senin, 15 Juni 2009 | 15:41 WIB

TEMPO Interaktif, INDRAMAYU:- Ratusan nelayan dari tiga kecamatan di Kabupaten Indramayu hari ini, Senin (15/6) mengelar long march. Mereka menuntut Pertamina melakukan pembayaran ganti rugi pencemaran cruide oil di perairan meeka.

Datang dengan sejumlah truk, mereka mengeruduk kantor Unit Pemasaran (UPMS) III Pertamina Balongan. Mereka berasal dari Kecamatan Kandanghaur, Losarang dan Juntinyuat. Namun cruide oil yang menyebabkan pencemaran di perairan Indramayu sebenarnya berasal dari Unit Pengolahan (UP) VI Pertamina Balongan.

Rakija, nelayan asal Kandanghaur mengaku tangkapan mereka berkurang drastis setelah cruide oil milik Pertamina mencemari perairan Indramayu. Pun juga Purwanto, nelayan asal Juntinyuat, yang mengaku kini hanya mendapat 1 kilogram, padahal biasanya 5 kg ikan. “Kami menuntut Pertamina mempercepat proses pembayaran ganti rugi dan merehabilitasi lingkungan akibat pencemaran” kata Purwanto.

Tak ditanggapi, ratusan massa mengalihkan demo ke pendopo Kabupaten Indramayu. Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu, Aep Surahman berjanji akan menguruskan. Menurut dia, saat ini, tinggal menunggu proses pembayaran ganti rugi. “Namun untuk pembayaran ganti rugi di Kecamatan Kandanghaur dan Losarang, kami belum bisa memutuskannya karena harus konsultasi dengan Pertamina dan Kementrian Lingkungan Hidup. “ujarnya.

Pencemaran sendiri bermula dari bocornya floathing hose di SBM 150.000 DWT milik Pertamina UP VI Balongan pada 14 September 2008. Saat itu tengah berlangsung kegiatan bongkar cruide oil dari kapal tanker MT Arendal yang akan ditransfer ke tanki darat di Kilang Pertamina UP VI. Namun saat proses transfer dilakukan, terjadilah kebocoran.

Selama ini, proses ganti rugi diprioritaskan untuk nelayan dan petambak di 4 kecamatan yang mengalami dampak langsung dari pencemaran tersebut yaitu Kecamatan Balongan, Indramayu, Pasekan dan Cantigi dengan jumlah penerima ganti rugi sekitar 12 ribu orang.

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/06/15/brk,20090615-181991,id.html

Bab IV

Penutub

Kesimpulan

Pencemaran lingkungan karena kecerobohan manusia yang berakibat merugikan alam atau lingkungan yang ada disekitarnya. Pencemaran lingkungan merupakan masalah kita bersama, yang semakin penting untuk diselesaikan, karena menyangkut keselamatan, kesehatan, dan kehidupan kita. Siapapun bisa berperan serta dalam menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, termasuk kita. Dimulai dari lingkungan yang terkecil, diri kita sendiri, sampai ke lingkungan yang lebih luas.

Permasalahan pencemaran lingkungan yang harus segera kita atasi bersama diantaranya pencemaran air tanah dan sungai, pencemaran udara perkotaan, kontaminasi tanah oleh sampah, hujan asam, perubahan iklim global, penipisan lapisan ozon, kontaminasi zat radioaktif, dan sebagainya.

Untuk menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, tentunya kita harus mengetahui sumber pencemar, bagaimana proses pencemaran itu terjadi, dan bagaimana langkah penyelesaian pencemaran lingkungan itu sendiri.

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. LATAR BELAKANG MASALAH

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal sebagai tempat siswa belajar dan di mana guru melaksanakan tugas mengajar. Dalam proses pembelajaran kimia di SMA pada umumnya, konsep Kimia merupakan pelajaran yang sulit untuk dipahami sehingga hasil belajar Kimia belum mencapai hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan, dalam hal ini yaitu kompetensi dasar Kimia, yang disebabkan kurangnya motivasi dan minat siswa untuk mempelajari Kimia sehingga siswa tidak aktif, kreatif dan produktif. Terdapat anggapan dari beberapa siswa bahwa keterkaitan antara pembelajaran Kimia dengan dunia nyata yakni kehidupan sehari-hari siswa sangat kurang. Pada umumnya siswa tidak dapat menghubungkan antara materi yang dipelajari dengan manfaat dari pelajaran tersebut.

Banyak perubahan yang dilakukan pemerintah maupun para ahli pendidikan untuk mencapai hasil belajar Kimia yang lebih baik. Seiring dengan perubahan paradigma pendidikan terhadap hakikat mengajar kimia, sudah sewajarnyalah apabila masalah hakikat mengajar ini memperoleh perhatian penuh dari pemerintah maupun para ahli pendidikan dengan menguji cobakan berbagai strategi pembelajaran kimia yang dominan diterapkanoleh guru kimia saat ini adalah diwarnai oleh prinsip-prinsip kontruktivistik.

Beberapa pendekatan dan teknik pembelajaran tersebut telah direkomendasikan oleh pakar pendidikan sains/kimia berdasarkan hasil-hasil riset penelitian sains/kimia. Yang merupakan salah satu strategi pembelajaran tersebut yaitu siklus belajar ( learning cycle) oleh Bybee, 1997. Suatu konsep pembelajaran yang memungkinkan perlu adanya menemukan sendiri konsep yang dipelajari. Untuk mencegah terjadinya kesalahan konsep dan memberikan peluang kepada siswa untuk menerapkan konsep yang telah dipelajari pada situasi baru yaitu siklus belajar.

Dari perkembangan siklus belajar saat ini maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian penerapan siklus belajar “model 7e” guna meningkatkan kualitas pembelajaran kimia di SMA.

  1. B. IDENTIFIKASI MASALAH
    1. Apakah dengan penerapan siklus belajar “model 7e” dapat meningkatkan motivasi dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran?
    2. Apakah pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa secara langsung mengalami proses pemerolehan konsep?.
    3. Apakah dengan motivasi yang tinggi dari siswa dapat  terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran?

C.  PEMBATASAN MASALAH

Dari identifikasi masalah maka masalah dapat dibatasi yaitu “Apakah dengan penerapan siklus belajar “model 7e” dapat meningkatkan motivasi dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran”.


  1. C. RUMUSAN MASALAH

Rendahnya nilai hasil belajar siswa pada mata pelajaran Kimia di SMA disebabkan karena siswa beranggapan bahwa pelajaran Kimia sulit untuk dipelajari.

Dari rendahnya nilai hasil belajar siswa tersebut sehingga guru harus mampu untuk memilih dan menerapkan metode mengajar yang sesuai untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk mengatasi masalah ini dapat dirumuskan “Apakah dengan penerapan siklus belajar “model 7e” dalam pembelajaran sel elektrolisis dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII IPA di SMA Kr. YPKM Manado?”

  1. F. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan siklus belajar “model 7e” di kelas XII IPA di SMA Kr.YPKM Manado.

  1. G. MANFAAT PENELITIAN

Dari penerapan siklus belajar “model 7e” diharapkan bahwa penelitian ini :

  1. Dapat meningkatkan motivasi siswa karena memberi kesempatan kepada siswa tersebut secara aktif dalam proses pembelajaran.
  2. Siswa dapat mengalami proses pengembangan sikap ilmiah konsep dan memahami aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Mendorong guru untuk lebih kreatif dalam merencanakan kegiatan belajar mengajar kimia.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A. KAJIAN TEORI
    1. 1. Siklus Belajar “Model 7e”

a)      Kaitan konstruktivisme dengan siklus belajar “model 7e”

Pada dasarnya salah satu sasaran pembelajaran adalah membangun gagasan saintifik setelah peserta didik berinteraksi dengan lingkungan, peristiwa, dan informasi dari sekitarnya. Pandangan konstruktivisme   sebagai filosofi pendidikan mutakhir menganggap semua peserta didik mulai dari usia TK sampai dengan Perguruan Tinggi memiliki gagasan atau pengetahuan sendiri tentang lingkungan dan peristiwa atau gejala alam. sekitarnya, meskipun gagasan ini kadang-kadang salah. Mereka senantiasa mempertahankan gagasan atau pengetahuan secara kokoh sebagai suatu kebenaran. Hal ini berlangsung karena gagasan atau pengetahuan yang dimiliki peserta didik ini terkait dengan pengetahuan awal yang sudah terbangun dalam, wujud “schemata” (struktur kognitif) dalam benak siswa. Brooks dan Leinhardt dalam Iskandar (2001) menyatakan bahwa esensi dari teori konstruktivisme   adalah siswa harus secara individual menemukan dan mentransfer informasi-informasi kompleks apabila mereka harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri. Belajar menurut teori ini adalah membangun pengetahuan dari kegiatan, refleksi, dan interpretasi serut pemahaman oleh seseorang sesuai dengan skemata yang dimilikinya.

Para ahli pendidikan berpendapat bahwa inti kegiatan pendidikan adalah memulai pelajaran dari apa yang diketahui siswa. Guru tidak dapat mendoktrinasi gagasan saintifik supaya peserta didik mampu mengganti dan memodifikasi gagasannya yang non saintifik menjadi gagasan atau pengetahuan saintifik. Dengan demikian, arsitek perubah gagasan peserta didik adalah peserta didik itu sendiri. Guru hanya berperan sebagi fasilitator penyedia “kondisi” supaya proses belajar untuk memperoleh konsep yang benar dapat berlangsung dengan benar.

Menurut Mulyati (2003), belajar berdasarkan paham konstruktivisme   adalah :

  1. Suatu proses dimana pengetahuan diperoleh dengan jalan mengaitkan informasi baru kepada pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge) secara individual.
  2. Pengetahuan baru yang beragam tergantung pada bagaimana pengetahuan itu diperoleh.
  3. Internalisasi dari suatu pengetahuan terjadi bila seseorang menangkap informasi baru, dikaitkan dengan pengetahuan yang lama tidak cocok, terjadi miskonsepsi, suatu kondisi disequilibrium.
  4. Belajar merupakan konteks, sosial yang menstimulasi untuk mendapatkan kejelasan.
  5. Berbahasa memberi dorongan orang untuk berpikir.

Dalam penerapan pembelajaran yang berorientasi pada teori konstruktivisme   guru banyak bertanya dan memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan atau mendemonstrasikan perbendaharaan pengetahuannya. Pertanyaan-pertanyaan yang disusun oleh guru hendaknya sesedikit mungkin menuntut para siswa untuk menghafal. Carr, Yonasen, Litzinger, dan Marra (Iskandar, 2001) menyatakan pendekatan konstruktivisme   dalam pembelajaran lebih menjanjikan sebab:

1)      Lebih memotivasi siswa dalam belajar sebab terfokus kepada siswa.

2)      Mendorong siswa berpikir kritis.

3)      Memungkinkan penggunaan gaya belajar yang berbeda-beda sebagai akibat dari fokus perhatian kepada siswa secara individual.

4)      Mendorong siswa mencari informasi secara alami dan mandiri.

Pandangan konstruktivisme   tidak merekombenasikan model pembelajaran yang khusus. Akan tetapi, strategi pembelajaran yang muncul mencerminkan pandangan ini selalu menekankan peran guru sebagai fasilitator belajar dan siswa, sebagai pebelajar yang aktif (student-centered).

Sebagaimana juga Rahayu (2002) mengatakan, dalam pembelajaran konstriktivistik ada lima unsur dasar yang melandasinya, yaitu . a) mengaktifkan pengetahuan awal; b) memperoleh pengetahuan; c) memahami pengetahuan ; d) menggunakan pengetahuan; e) merefleksikan pengetahuan.

b)      Pengertian dan perkembangan siklus belajar “model 7e”

Siklus belajar merupakan  model pembelajaran kontruktivisme yang di kembangkan oleh  Robert Karplus dan Curikulum Improvenment Study (SCIS) dari Universitas California, Berkeley tahun 1970-an (Rahayu,2001 : 277). Pada awalnya model ini memilih tiga fase  yaitu Exploitation (mengidentifikasi), Invention (menemukan) dan Discovery (penemuanm kembali), yang kemudian istilahnya diganti dengan Exploration (mejelajahi), Concept Introduction (pengenalan konsep) Concept Aplikation  (mengaplikasi konsep). Walaupun istilah ini digunakan untuk ketiga fase ini berbeda akan tetapi tujuan dan pedagoginya masih tetap sama. Model tersebut selanjutnya dikembangkan dan dirinci lagi menjadi lima fase yang dikenal denga sebutan model 5e yaitu Engage (invitasi), Exploration (menjelajahi/menyelidiki), Explanation (penjelasan), Elaboration (pengembangan) dan Evaluation (evaluasi). Setiap fase memiliki fungsi khusus yang dimaksudkan untuk menyumbang proses belajar dikaitkan dengan asumsi tentang aktivitas mental dan fisik siswa serta strategi yang digunakan guru.

Dewasa ini perkembangan siklus belajar model 5e menjadi “model 7e” yang menekankan transfer pembelajaran dari pengetahuan awal.  Kadang-kadang model pembelajaran harus dapat diubah untuk mempertahankan nilai setelah informasi baru, wawasan baru dan pengetahuan yang baru disusun. Dengan kesuksesan siklus belajar model 5e dan instruksional (Bybee, 1997) yang meneliti tentang bagaimana orang belajar dari penelitian mendengar dan mengembangkan kurikulum yang menuntut bahwa model 5e dapat dipeluas lagi menjadi “model 7e”. Dari siklus belajar model 5e ini dimana fase angage berkembang menjadi dua yaitu angage dan elicit. Demikian juga halnya pada fase elaborate dan evaluate berkembang menjadi tiga yaitu elaborate, extend dan evaluate. Sehingga pada ‘‘model 7e”  ini didapatkan angage, elicit, explore, explain, elaborate, extend dan evaluate. Perubahan ini tidak untuk mempersulit tetapi untuk memastikan bahwa guru tidak mengabaikan fase penting dalam  pembelajaran.

Dalam ilmu pengetahuan kognitif menunjukkan bahwa  menemukan merupakan fase penting dari proses pembelajaran di tunjukkan bahwa siswa yang pintar adalah ahli dalam mentransfer pelajaran daripada siswa yang baru belajar (Bransfort, Brown and Cocking, 2000). Fase angage pada model 5e dimaksudkan untuk menarik perhatian siswa dengan mengajukan pertanyaan dan menemukan pola pikir siswa serta mengakses pengetahuan awal. Pada “model 7e” fase ini guru mengakses pengetahuan siswa dan membangkitkan antusias siswa. Guru membangkitkan gairah belajar siswa untuk tertarik dan siap untuk belajar. Setelah mengetahui pengetahuan awal siswa maka guru mengajukan pertanyaan mengenai konsep yang akan dipelajari, kemudian guru untuk menemukan pengetahuan yang sebenarnya mengenai konsep yang akan dipelajari. Pada fase elicit ini siswa menemukan pengetahuan untuk memastikan apakah siswa sudah mengetahui pelajaran yang akan dipelajari. Perluasan model 5e ini angage menjadi engage dan elicit bukanlah untuk mengubah fase engage menjadi elicit melainkan fase elicit bertujuan untuk melanjutkan, merangsang dan membuat siswa tertarik pada pelajaran yang akan dipelajari. Fase elicit haruslah berdiri sendiri karena fase ini penting pada siklus belajar. Fase explore (menjelajahi) pada siklus belajar memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengobservasi, mengisolasi variabel, merencanakan penyelidikan menginterpretasikan hasil dan mengembangkan hipotesa dan mengorganisir kesimpulan. Guru dapat mengarahkan dan memberikan pengaruh umpan balik dan menilai pemahaman yang mereka temukan benar, separuh benar atau salah. Fase explain dimana siswa menjelaskan dan meringkas hasil yang diperoleh dan membedakan konsep yang mereka ketahui dengan hasil eksplorasi yang ditemukan. Pada fase elaborate siswa diberikan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan yang baru mereka temukan. Alam hal ini siswa dapat membangkitkan pertanyaan baru untuk mengetahui penyelidikan selanjutnya. Pada fase elaborate terdapat transfer pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya penambahan fase ini yaitu fase extend  dimana siswa mengembangkan hasil elaborate dan menyampaikannya kembali untuk melatih siswa bagaimana mentransfer pelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Pada fase evaluate merupakan siklus lanjutan untuk mengevaluasi pengetahuan siswa. Dalam hal ini siswa juga diminta untuk menyimpulkan hasil eksperimen yang telah dilakukan sebagai bagian penilaian mereka (Colburn and Clough,1997). Kemudian kembali ke fase elicit yang merupakan suatu evaluasi formatif  dimana guru menilai kegiatan selama eksplorasi dan explanasi.

Dengan “model 7e” ini guru dapat memperoleh pemahaman baru dengan memberikan kesempatan siswa mentransfer pelajaran. Yang merupakan tujuan dari siklus belajar “model 7e” yaitu untuk menekankan pentingnya peningkatan pengetahuan dan pengembangan konsep yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Dan pada fase elicit guru menemukan bahwa pengetahuan siswa berbeda dengan pengembangan konsep yang dimaksudkan.

Tahap VII

Mengevaluasi pengetahuan yang ditemukan siswa

Tahap VI: Untuk

Meyampaikan  pengembangan konsep yang ditemukan

Tahap I: Untuk

Mengidentifikasi pengetahuan awal siswa

Tahap V: Untuk

Menerapkan pemahaman yang dikembangkan yang dalam konsep berbeda.

Tahap II: Untuk

Menemukan dan mengidentifikasi konsep

Tahap IV: Untuk

Menjelaskan pemahaman konsep yang baru.

Lawson (1988) dalam Dahar mengemukakan tiga macam siklus belajar yaitu menjelaskan keadaan : deskriptif, empiris-induktif, dan hipotesis-deduktif. Dalam siklus belajar deskriptif para siswa menemukan dan memberikan suatu pola empiris dalam suatu konteks khusus (eksplorasi), guru memberi nama pada pola itu (pengenalan konsep), kemudian pola itu di tentukan dalam konteks-konteks lain (aplikasi). Siklus belajar deskriptif menjawab pertanyaan; apa? Tetapi tidak menimbulkan pertanyaan ; mengapa?

Dalam siklus belajar empiris-induktif para siswa juga menemukan dan memberikan suatu pola empiris dalam suatu konteks khusus (eksplorasi), tetapi mereka selanjutnya menemukan sebab-sebab yang mungkin tentang terjadinya pola itu. Bentuk siklus hipotesis-deduktif, dimulai dengan pernyataan berupa suatu pertanyaan sebab. Para siswa diminta untuk merumuskan jawaban-jawaban (hipotesis) yang mungkin terhadap pertanyaan itu. Selanjutnya para. siswa diminta untuk menurunkan konsekuensi-konsekuensi logis dari hipotesis-hipotesis ini (eksplorasi). Konsep-konsep yang relevan dan pola-pola penalaran yang terlibat dan didiskusikan (pengenalan konsep), dapat diterapkan pada situasi-situasi lain di kemudian hari (aplikasi konsep).

Dari ketiga bentuk siklus belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa bentuk siklus belajar hipotesis-deduktiflah yang sesuai siklus belajar “model7e”.


  1. 2. Hasil Belajar

Belajar merupakan kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar. Apa yang terjadi dalam diri seseorang yang sedang belajar, tidak dapat diketahui secara langsung hanya dengan mengamati orang itu. Bahkan hasil belajar orang itu tidak langsung kelihatan, tanpa orang itu melakukan sesuatu yang menampakkan kemampuan yang telah diperoleh melalui belajar.

Belajar terjadi dalam interaksi dengan lingkungan, namun tidak sembarang berada di tengah-tengah lingkungan, menjamin adanya proses belajar. Orang tersebut harus aktif sendiri, melibatkan diri dengan segala pemikiran, kemauan dan perasaannya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa “belajar” pada manusia boleh dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai-sikap.

Dari uraian belajar yang telah dijelaskan di atas maka untuk mengetahui apakah proses belajar berhasil atau tidaknya sehingga akan diketahui bagaimana hasil belajar.

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya dan pembelajaran. Horward Kingsley membagi tiga hasil belajar, yakni (a).keterampilan dan kebiasaan, (b).pengetahuan dan pengertian, (c).sikap dan cita-cita masing-masing jenis-jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum.

Hasil belajar teraktualisasi pada perubahan sikap dan kepribadian siswa dan menjadi lebih berprestasi dalam berbagai aktivitas belajar di sekolah hasil belajar siswa merupakan salah satu indikasi pencapaian tujuan pendidikan yang sudah menjadi komitmen nasional antara lain terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas. Karena itu guru dalam peranannya sebagai pengajar, pendidik dan pembimbing harus mampu menciptakan suasana yang kondusif dalam proses pembelajaran dan dimuati dengan kemampuan menerapkan berbagai pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa berhasil dalam belajarnya.

Conny R. Serniawan (1993 : 18) mengatakan bahwa :

Hasil belajar harus bermakna bagi siswa itu sendiri dalam menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, artinya tidak terbatas pada perolehan nilai dari suatu bidang studi, tetapi mampu membentuk sikap yang diperoleh dari belajar yang diikutinya dan untuk selanjutnya menjadi bekal dasar pengalaman belajar berikutnya dan menjadi bekal bagi siswa sebagai individu dan anggota masyarakat.

Ini terjadi bila dalam pembelajaran, ada perwujudan ekspresi khas seseorang dalam keterlibatannya berbagai dimensi kepribadiannya untuk menjadikan manusia kreatif, dan bertanggung jawab. Karena itu, untuk membantu siswa memahami konsep kimia yang diajarkan di sekolah dengan tujuan agar siswa berhasil.

  1. B. KERANGKA BERPIKIR

Pembelajaran kimia dengan menggunakan siklus belajar “model 7e” merupakan siklus yang memungkinkan belajar menemukan sendiri konsep yang dipelajari dan berinteraksi satu sama lain. Oleh pembelajaran siklus belajar ini dapat menciptakan suasana belajar yang aktif, kreativitas dan  memotivasi siswa satu dengan siswa yang lainnya. Proses pembelajaran ini juga dapat membangkitkan kerja sama dengan orang lain, berpikir kritis, serta berwawasan luas.

Berhasil tidaknya suatu tujuan belajar tidak hanya merupakan tanggung jawab guru semata tetapi juga merupakan tanggung jawab orang tua dan siswa itu dan siswa itu sendiri selaku subjek pendidikan. Dengan  penggunaan siklus belajar “model 7e” pada pembelajaran Sel Elektrolisis dapat meningkatkan kualitas pemahaman siswa. Peningkatan kualitas pembelajaran tercermin dari dapat dilatihkannya berbagai keterampilan proses.

  1. C. HIPOTESIS TINDAKAN

Dengan penerapan siklus belajar sangat membantu guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk itu, hipotesis tindakan dalam penulisan ini dapat di rumuskan sebagai berikut: “Pembelajaran kimia dengan penerapan siklus belajar “model 7e” dapat meningkatkan hasil belajar Sel Elektrolisis pada siswa kelas XII IPA SMA Kr.YPKManado”.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

  1. A. DEFINISI OPERASIONAL
    1. Variabel bebas (X) adalah siklus belajar ‘‘model 7e’’

Indikator variabel X : Elicit, Engage, Explore, Explain, Elaborate, Extend dan Evaluate.

Variabel tak bebas (Y) adalah hasil belajar siswa pada konsep Sel Elektrolisis.

Indikator variabel Y  : hasil belajar siswa yaitu skor yang diperoleh dari tes    setelah penggunaan siklus belajar “model 7e”.

  1. B. SUBYEK DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di kelas XII-IPA SMA  Kr.YPK Manado dan  subyek penelitiannya adalah seluruh siswa kelas XII-IPA SMA Kr.YPKM Manado semester V tahun ajaran 2005-2006.

  1. C. RANCANGAN PENELITIAN

Penelitian ini merupakan Penelitian  Tindakan Kelas (PTK). Menurut kemmis, 1993 (Ryanto, 2001) penelitian tindakan kelas menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan upaya menguji cobakan ide-ide kedalam praktek untuk memperbaiki atau merubah sesuatu agar memperoleh dampak nyata dari situasi. Sedangkan menurut Eliot, 1991 (Ryanto, 2001) penelitian tindakan merupakan kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas kegiatan yang ada didalamnya. Didalam prosesnya yaitu telaah,  diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan dampaknya. Berdasarkan definisi penelitian tindakan dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan menekankan pada tindakan (kegiatan) dengan menguji cobakan sesuatu ide kedalam situasi nyata yang diharapkan kegiatan tersebut mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas, Proses Belajar Mengajar. Rancangan penelitian ini dibuat dalam tiga siklus. Proses pembelajaran dalam masing-masing siklus sesuai dengan siklus belajar “Model 7e”. Rencana pelajaran dan Lembar Kerja Siswa (LKS) dibuat sendiri oleh peneliti.

Masalah dalam Kelas/Sekolah

Rancangan Penelitian Tindakan Kelas

  1. D. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Teknik pengumpulan data peningkatan kualitas pembelajaran dilakukan observasi terhadap kegiatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Data observasi sebagai bahan evaluasi dan refleksi dicatat dalam catatan bebas.

  1. E. ANALISIS DATA

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan menghitung presentase ketuntasan hasil belajar siswa berdasarkan hasil tes ulangan harian, yaitu :

Tingkat penguasaan materi =

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. A. HASIL PENELITIAN

SIKLUS I

Pertemuan pertama untuk materi kesetimbangan dinamis dengan kesetimbangan homogen dan heterogen tahapan yang berlangsung dari tahap Elicit, Engange dan Explore dimana siswa menemukan sendiri dengan membaca dan menganalisis materi serta tanya jawab mengenai materi tersebut. Pada pertemuan kedua dilanjutkan dengan tahapan Explain, Elaborate, Extend dan Evaluate dimana dilakukan penjelasan materi kemudian diuraikan hasil analisis penjelasan selanjutnya. Siswa berdiskusi di dalam kelas. Hasil dari kesimpulan penguraian tersebut diperluas lagi dan dihubungkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada tahap Explain guru memberikan contoh melalui demonstrasi menganalogi kesetimbangan dinamis guru juga memberikan contoh mengenai kesetimbangan heterogen berupa air dan minyak yang terdiri dari dua fase dan kesetimbangan homogen seperti air dan gula yang terdiri dari satu fase. Kemudian pada tahap Elaborate dan Extend menguraikan kembali serta memperluas hasil pengamatan yang dilakukan pada tahap akhir yang merupakan evaluasi daya serap siswa terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Banyak soal yang diberikan terdiri dari 4 soal.

.Hasil tes evaluasi untuk mengetahui daya serap siswa pada siklus I sebagai berikut :

Jumlah soal yang benar Skor evaluasi Banyak siswa Persentase
4

3

2

1

0

85 – 100

70 – 80

60 – 45

40 – 55

0 – 35

-

9 orang

16 orang

8 orang

-

100%

75%

50%

25%

0%

Dari daya serap siswa pada siklus I tersebut dapat terlihat bahwa sebagian siswa sudah mencapai hasil belajar yang baik. Berdasarkan hasil pengamatan melalui angket/wawancara pembelajaran pada siklus I banyak hal yang perlu diperbaiki. Hasil refleksi melalui angket/wawancara dapat dilihat pada lampiran hasil skor siklus I sebagai refleksi untuk memperbaiki ke siklus selanjutnya. Dalam hal ini juga dapat diamati bahwa beberapa siswa hanya diam saja dan ada siswa yang terlambat sehingga mengganggu kegiatan proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

SIKLUS II

Dari hasil refleksi  siklus I yang telah dilakukan perbaikan-perbaikan untuk meningkatkan hasil daya serap siswa dapat dilihat pada lampiran siklus II ini. Proses pembelajaran yang telah berlangsung lebih baik dari siklus I walaupun menurut siswa materinya agak lebih sulit dari meteri sebelumnya.

Pada siklus II ini yang dimulai dari pertemuan ketiga dengan tahap Elicit, Engage. Pada pertemuan ini guru juga memberikan penjelasan secara singkat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan dan kondisi optimum untuk memperoleh bahan-bahan kimia di industri dengan  menggunakan metode ceramah  setelah siswa membaca dan menganalisis materi tersebut.

Pada pertemuan keempat yang dimulai pada tahap Explore yang dilakukan percobaan melalui praktikum yang dibagi dengan lima kelompok kecil.hasil percobaan dibahas pada tahap Explain, yang selanjutnya di uraikan kembali  pada tahap Elaborate yang dilakukan dengan diskusi kelompok untuk membuat kesimpulan hasil percobaan. Tahap Extend masing-masing siswa diberikan kesempatan untuk memperluas hasil kesimpulan dari percobaan yang telah di diskusikan.  Dalam percobaan yang dilakukan mengetahui faktor konsentrasi yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan. Tahap akhir dari siklus ini yaitu tahap Evaluate dimana guru memberikan evaluasi soal untuk mengetahui daya serap siswa pada materi tersebut. Hasil daya serap dari evaluasi yang diberikan dengan 5 soal dapat dilihat sebagai berikut:

Jumlah soal yang benar Skor evaluasi Banyak siswa Persentase
5

4

3

2

1

0

100

80

60

40

20

0

5 orang

18 orang

10 orang

-

-

-

100%

80%

60%

40%

20%

0%

Dari daya serap pada siklus II dapat terlihat meningkatnya hasil daya serap dari siklus I. Berdasarkan perbaikan refleksi dari siklus I  ke siklus II juga lebih baik lagi daripada  siklus I dan siswa lebih aktif lagi. Diskusi juga berjalan dengan baik pula. Pada siklus II Ini juga diberikan angket/wawancara untuk perbaikan  refleksi ke siklus selanjutnya. Untuk mengetahui refleksi ke siklus III ini dapat dilihat pada lampiran hasil skor siklus II.

SIKLUS III

Walaupun pada siklus I dan siklus II telah terlihat meningkatnya hasil daya serap siswa, namun melalui perbaikan refleksi tersebut dapat diterapkan pada siklus III. Pada siklus III ini dilakukan pada pertemuan kelima dengan materi  yang menghitung tetapan kesetimbangan hubungan Kc dan Kp. Pada pertemuan ini diawali dengan tahap Elicit, Engage, dan Explore dengan tujuan untuk memahami tetapan kesetimbangan melalui contoh-contoh soal menghitung harga Kc dan Kp.

Tahapan selanjutnya dilakukan pada pertemuan ke enam yang dimulai dari tahap Explain yang memahami kesetimbangan Kc dan Kp melalui diskusi. Selanjutnya pada tahap Elaborate dan Extend dimana siswa mengerjakan serta memperluas hasil contoh-contoh soal. tersebut. Pada tahap akhir yaitu Evaluate  dimana siswa diberikan soal-soal untuk mengetahui daya serap siswa terhadap materi tersebut pada siklus III.

Hasil daya serap dapat dilihat sebagai berikut:

Jumlah soal yang benar Skor evaluasi Banyak siswa Persentase
4

3

2

1

0

100

75

60

30

0

14 orang

14 orang

6 orang

-

-

100%

75%

50%

25%

0%

Untuk mengetahui apakah daya serap siswa dari siklus I, II, dan III diberikan evaluasi akhir  dengan soal-soal dari keseluruhannya. Hasil evaluasi tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

Jumlah soal yang benar Skor evaluasi Banyak siswa Persentase
5

4

3

2

1

0

100

80

60

40

20

0

5 orang

18 orang

10 orang

-

-

-

100%

80%

60%

40%

20%

0%


  1. B. PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil daya serap siswa dari penelitian dengan menggunakan siklus belajar “model 7e” pada materi kesetimbangan kimia, diperoleh hasil daya serap siklus I,II, dan III dapat dilihat pada lampiran hasil skor daya serap siklus I,II dan III. Pada data tersebut juga dapat dilihat refleksi yang harus diperbaiki pada siklus-siklus selanjutnya. Retensi  skor siklus I antara 45 – 80 dengan perinciannya 9 orang dengan skor 70 – 80, 18 orang dengan skor 60 – 65 dan 8 orang dengan skor 40 – 55. Retensi skor siklus II antara 60 – 100 dengan perinciannya 5 orang dengan skor 100, 18 orang dengan skor 80 dan 10 orang dengan skor 60. Retensi skor siklus III antara 50 – 100 dengan perinciannya 14 orang dengan skor 100, 14 orang skor 75 dan 5 orang dengan skor 50. Dari skor evaluasi dapat dilihat peningkatannya. Dari ketiga siklus di atas dilakukan evaluasi akhir dengan retensi skornya 60 -100 dengan perincian 15 orang dengan skor 100, 20 orang dengan skor 80 dan 3 orang dengan skor 60. Pada hipotesis yang menggunakan siklus belajar “Model 7e” pada kesetimbangan kimia kelas XI IPA1 SMA Kr. YPKM Manado dapat meningkatkan penguasaan materi dan diklasifikasikan dengan baik.

Guru sebagai fasilitator dalam penggunaan siklus belajar “Model 7e” dapat memberikan masukan kepada guru untuk menggunakan berbagai metode mengajar sehingga siswa tidak bosan untuk belajar di kelas. Yang menjadi kekurangan siklus belajar ini guru merasa kesulitan untuk mengatasi siswa yang terlalu aktif dan ribut.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A. KESIMPULAN

Penggunaan siklus belajar “Model 7e” dalam pembelajaran kimia tentunya dapat meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya pada kesetimbangan kimia. Meningkatnya kualitas pembelajaran tersebut dapat  dilatihkannya berbagai metode dan keterampilan proses dalam mengajar. Peningkatan kualitas belajar dapat tercermin dari hasil daya serap belajar siswa mulai siklus I, II dan III dan juga dapat dilihat dari evaluasi akhir dengan rata-rata siswa yang berhasil terendah 60% dan tertinggi 100% yang rata-rata siswa 80%. Melalui perbaikan refleksi dari siklus-siklus selanjutnya dalam proses pembelajaran juga dapat meningkatkan kualitas hasil belajar daya serap siswa. Siklus ini dapat diterapkan pada materi yang memiliki jam pelajaran yang panjang agar dapat terlihat tingkat kualitas hasil belajarnya.

  1. B. SARAN

Dari uraian di atas dapat dilihat besarnya daya serap siswa yang menguasai pelajaran kesetimbangan kimia, sehingga siklus belajar “Model 7e” dapat dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar kimia yang lebih baik, yang sesuai dengan kompetensi dasar. Yang menjadi kekurangan dalam penerapan siklus belajar “Model 7e” ini hanya dapat diterapkan pada materi yang memiliki jam pelajaran yang panjang karena menggunakan keterampilan proses dan berbagi metode mengajar yang mengikuti tahapan-tahapan siklus belajar “Model 7e” tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto S, 1998, Prosedur Penelitian; Edisi IV, Rineka Cipta, Jakarta.

http://carborCudenver.edu/mryder/itc-data/contruktivism.html.

http://myschoolnet.ppk.kpm.my/pNp/pm/konstruktivisme.htm

http://www.ttg-about.com/htmis/ap/eisenterafttst.pdf.words:learning.cycle.7E.

Mulyati Arifin; dkk, 2003, Strategi Belajar Mengajar Kimia: IMSTEP JICA, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.

Nana Sudjana., 1991, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar; Remaja Rosdakarya. Bandung.

Ryanto Yatim;  2001, Metodologi Penelitian Pendidikan; Penerbit SIC Surabaya

Soebagio; dkk, 2001, Media Komunikasi Kimia; Jurnal Ilmu Kimia dan Pembelajaran; IMSTEP JICA, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang.

Sri Rahayu, 2002, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam: Jurnal FMIPA dan pengajarannya; IMSTEP JICA, Jurusan Kimia Universitas Negeri Malang.

Srini Iskandar, 2001, Media Komunikasi Kimia; Jurnal Ilmu Kimia dan pembelajarannya; IMSTEP JICA, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang.

Winkel., 1987, Psikologi Pengajaran; Gramedia Jakarta.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya organik baik berupa hewan, tumbuhan, mikroorganisme dan organisme laut. Tumbuhan yang ada di Indonesia mencapai jutaan spesies yang sampai saat ini belum semuanya dapat diidentifikasi jenis dan kegunaannya. Salah satu kegunaan yang paling menonjol dari tumbuhan adalah dalam bidang pengobatan. Sejak zaman dahulu sampai zaman modern sekarang ini manusia menggunakan ekstrak tumbuhan untuk mengobati berbagai penyakit. Pengobatan dengan menggunakan tumbuhan obat dipercaya lebih aman karena mempunyai kadar toksik dan efek samping yang lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan obat sintesis (Stanley et.al.,2003).

Kegunaan dari suatu tumbuhan ditentukan oleh kuantitas dan jenis konstituen kimia kandungannya, suatu spesies tumbuhan tersusun dari berbagai macam komponen atau konstituen kimia yang membentuk metabolit sekunder, setiap metabolit sekunder yang terkandung dalam spesies tersebut memiliki kegunaan masing-masing. Penelitian ini menyangkut senyawa-senyawa metabolit sekunder yang pernah dilaporkan menunjukkan kontribusi yang besar dalam bidang industri seperti farmasi dan pertanian. Ditemukannya senyawa antibiotik, antiperadangan, antiinfeksi, analgesik, antifertilitas, antikanker, antioksidan maupun bahan pestisida merupakan beberapa contoh dari apa yang didapatkan setelah isolasi dan karakterisasi suatu senyawa metabolit sekunder dari bahan tumbuhan itu.

Sulawesi Utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki berbagai jenis tumbuhan, beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di Sulawesi Utara termasuk dalam genus syzygium, yang beberapa jenisnya belum diketahui spesiesnya. Salah satunya adalah jenis tumbuhan pakoba merah. Tumbuhan pakoba merah merupakan tumbuhan genus syzygium yang termasuk dalam famili Myrtaceae. Tumbuhan pakoba merah buahnya berwarna merah dan dapat dimakan, batang pohonnya dibuat balok untuk bahan bangunan, kulit pohon terluarnya ini digunakan sebagai wanteks, untuk mewarnai pakaian, sedangkan daunnya tidak pernah digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan penelusuran pustaka penelitian tentang kandungan kimia tumbuhan pakoba merah belum pernah dilakukan sampai tahun 2006, namun penelitian-penelitian sebelumnya melaporkan bahwa spesies dalam genus syzygium mengandung minyak yang mudah menguap yang digunakan dalam obat-obatan. Genus syzygium dilaporkan banyak digunakan di dalam dunia pengobatan antara lain untuk antiradang, penahan rasa sakit, dan anti jamur (Mahmoud et.al., 2001). Terdapat lagi laporan yang menyebutkan potensi kelompok syzygium di antaranya aktivitas hipogliceamik (menurunkan kadar gula darah) dari biji syzygium cumini (Prince et.al., 1997).

Karena belum adanya penelitian mengenai kandungan kimia yang terdapat dalam tumbuhan pakoba merah dan mengingat potensi dari kelompok syzygium yang dilaporkan banyak digunakan dalam bidang pengobatan. Hal inilah yang menjadi alasan dipilihnya tumbuhan pakoba merah terutama bagian daunnya untuk dijadikan sebagai objek penelitian.

1.2. Perumusan Masalah

Masyarakat biasanya menggunakan buah dan kulit pohon pakoba merah. Buahnya oleh masyarakat Sulut biasanya dimakan atau dijadikan rujak karena rasanya yang asam sedangkan kulit pohon tanaman pakoba merah digunakan sebagai wanteks untuk mewarnai pakaian dengan cara tradisional, karena hal inilah maka alasan utama untuk memilih bagian daun sebagai objek penelitian, sedangkan masalah utama yang akan diteliti adalah :

-       Metabolit sekunder apakah yang terkandung di dalam fraksi butanol daun pakoba merah.

-       Bagaimana struktur senyawa hasil isolasi dan identifikasi metabolit sekunder dari daun pakoba merah.


1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan umum penelitian ini adalah menunjukkan senyawa metabolit sekunder dari daun pakoba merah, untuk mencapai tujuan umum tersebut dirumuskan tujuan khusus yaitu mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder dari fraksi butanol daun pakoba merah.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini bersifat eksplorasi yaitu pencarian senyawa-senyawa alami dengan demikian manfaat dari hasil penelitian ini adalah ditemukannya senyawa metabolit sekunder yang dapat ditelusuri lebih lanjut keaktifannya pada pengaruh biologis dan farmakologis serta memberikan tambahan informasi tentang kandungan senyawa kimia yang terdapat dalam daun pakoba merah yang dapat memperkaya literatur mengenai kandungan senyawa kimia dalam tumbuhan.

1.5. Kerangka Berpikir

Tumbuhan pakoba merah termasuk dalam genus syzygium yang bersinonim dengan eugenia. Genus syzygium merupakan salah satu dari 75 genera (sekitar 3000 spesies) dalam famili Myrtaceace yang berasal dari daerah tropis terutama Amerika dan Australia (Hutchinson 1960). Genus syzygium dilaporkan banyak digunakan dalam dunia pengobatan antara lain untuk antirandang, penahan rasa sakit, dan anti jamur (Mahmoud et.al., 2001).

Berdasarkan penelusuran pustaka, tidak ditemukan informasi tentang kandungan kimia tumbuhan pakoba merah, maka untuk mencapai tujuan penelitian kerangka berpikir ini disusun dengan membandingkan kandungan senyawa kimia yang terdapat dalam beberapa spesies syzygium. Spesies syzygium mengandung senyawa-senyawa yang mempunyai aktivitas farmakologis seperti antidiabetes dan antihiperdipidaemik (Stanley et.al., 2003). Selain itu yang juga spesies syzygium mengandung senyawa-senyawa yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar parfum dan bahan tambahan pada makanan. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa beberapa spesies dalam genus syzygium mengandung terpenoid, flavanoid, alkaloid, dan tannin. Adapun senyawa-senyawa yang telah diisolasi dari spesies syzygium seperti eugenol dan ß-kariofena dari minyak daun cengkeh, tiga senyawa flavonol glikosida diisolasi dari akar syzygium jambolana (Mahmoud et.al., 2001). Dua asam triterpenoid, asam oleanolik, dan asam krategolik, dan suatu glikosida fenolik baru dari ekstrak metanol, dan dua elagitanin dari daun cengkih (syzygium aromaticum), yaitu tannin dan asam tergalik (Tanaka et.al., 1996). Sebuah metabolit sekunder baru yaitu 4-epifriedelin dan 12 terpenoid dari daun syzygium Formasanum (Chang et.al., 1998).

Gambar 1.1 Struktur beberapa senyawa yang diisolasi dari kelompok Syzygium

1.6. Hipotesis

Berdasarkan kerangka berpikir di atas dapat di kemukakan hipotesis sebagai berikut : kandungan senyawa metabolit sekunder fraksi butanol daun pakoba merah sama atau mirip dengan kandungan kimia kelompok syzygium yaitu mengandung kelompok senyawa terpenoid, flavanoid, alkaloid, dan tannin.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Tumbuhan Pakoba Merah

2.1.1. Deskripsi Tumbuhan Pakoba Merah

Tumbuhan pakoba merah berasal dari daerah Sulawesi utara, yang terdapat di daerah Minahasa. Tumbuhan ini dikenal dengan nama Pakuwa di daerah Minahasa (Heyne, 1987). Tumbuhan pakoba merah merupakan genus syzygium yang termasuk dalam famili Myrtaceae, kedudukan tumbuhan pakoba merah dalam sistematika/ taksonomi tumbuhan di klasifikasikan sebagai berikut: (Hamel, 2004).

Kingdom        : Plantae

Sub kingdom            : Tracheobionta

Superdivisi    : Spermatophyta

Divisi              : Magnoliophyta

Kelas              : Dicotyledoneae

Sub kelas      : Rosidae

Ordo               : Myrtales

Famili             : Myrtaceae

Genus                        : Syzygium

Spesies          : Syzygium sp

Pakoba merah merupakan tumbuhan berpohon besar dengan ketinggian 10 – 20 m, batangnya berkayu, bercabang banyak serta berdaun rimbun. Tumbuhan pakoba merah berkembang biak dengan biji, daun pakoba merah memiliki ukuran panjang sekitar 15 cm dan lebar 5 cm, berbentuk bujur telur atau elips dengan bagian meruncing, bagian atas daun berwarna hijau tua dan mengkilap. Begitu pun pada bagian tulang daun (Heyne, 1987), buah pakoba merah berbentuk bulat tertekan, biasanya warnanya berubah dari putih kehijauan menjadi merah saat matang, berkulit tipis, bagian luarnya berwarna merah dan bagian dalam berwarna putih, memiliki rasa yang asam.

2.1.2. Kegunaan Pakoba Merah

Masyarakat Minahasa menggunakan kulit pohon tumbuhan pakoba merah sebagai wanteks untuk mewarnai pakaian dengan cara tradisional, buahnya dapat di makan dan dibuat rujak. Sedangkan batang pohon tumbuhan pakoba merah dapat digunakan sebagai balok untuk bangunan.

2.1.3. Kandungan Kimia Pakoba Merah

Berdasarkan studi literatur penelitian kimia tumbuhan pakoba merah belum pernah dilakukan. Namun secara umum dapat dilaporkan bahwa beberapa tumbuhan dari genus syzygium kaya minyak yang mudah menguap yang digunakan dalam obat-obatan (Mahmoud et.al., 2001). Selain itu juga dilaporkan bahwa spesies syzygium mengandung senyawa-senyawa polifenol galik, turunan asam elagik, tanin, flavonol glikosida, terpenoid, asam triterpenoid, asam oleanoik, asam krategolik, fenolik glukosida, dan asam tergalik, daun dan kulit batang syzygium microma mengandung flavonoida, tannin dan polifenol (http://iptek.apjii.or,id/artikel/ttg-tanaman-obat/depkes/buku4/4-036.pdf).

2.2. Metabolit Sekunder

Banyak cerita rakyat yang mengisahkan pemanfaatan ekstrak tumbuhan untuk penyembuhan berbagai penyakit sejak zaman dahulu bahkan sampai sekarang. Tumbuhan menghasilkan bermacam-macam golongan senyawa organik yang melimpah. Sebagian besar senyawa-senyawa itu secara langsung terlibat dalam pertumbuhan dan perkembangan yaitu sebagai bahan energi, bahan struktural serta untuk fungsi-fungsi fisiologis. Senyawa-senyawa demikian di rujuk sebagai metabolit primer dan lintasan metabolismenya tergolong pada metabolisme primer. Selain menghasilkan metabolit primer, tumbuhan juga menghasilkan metabolit sekunder.

Menurut A. Kossel, metabolisme primer dan metabolisme sekunder pada tumbuhan dapat dibedakan, metabolisme primer terdiri dari semua jalur yang diperlukan untuk kelangsungan hidup sel-sel tumbuhan yang hasil metabolitnya esensial untuk kehidupan. Contoh metabolit primer misalnya polisakarida, protein dan lemak. Metabolit sekunder tidaklah bersifat esensial untuk kelangsungan kehidupan meski penting bagi untuk organisme yang menghasilkannya seperti dalam hal mempertahankan diri dari makhluk-makhluk lain, hasil metabolit sekunder lebih kompleks dibandingkan dengan metabolit primer. Hal ini disebabkan karena metabolit sekunder dibiosintesis terutama dari banyak metabolit primer seperti karbohidrat, protein, asam nukleat (Jumpowati, 2001).

Metabolit sekunder didefinisikan sebagai senyawa yang di sintesis oleh organisme (mikroba, tumbuhan, insektisida dan sebagainya) tidak untuk memenuhi kebutuhan primernya (tumbuh dan berkembang) melainkan untuk mempertahankan eksistensinya dalam berinteraksi dengan lingkungannya (Sumaryono, 1999). Beberapa kelompok metabolit sekunder yang dihasilkan dari metabolisme sekunder pada tumbuhan antara lain : alkaloid, terpenoid dan flavanoid.

Alkaloid

Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang terbanyak ditemukan di alam. Alkaloid dapat ditemukan dalam berbagai bagian tumbuhan seperti biji, daun, ranting dan kulit kayu, hampir semua alkaloid yang ditemukan di alam mempunyai keaktifan fisiologis tertentu, ada yang bersifat racun tetapi ada juga yang sangat berguna dalam pengobatan misalnya kuinin, morfin dan striknin adalah alkaloid yang terkenal dan mempunyai efek fisiologis dan psikologis.

Semua alkaloid mengandung paling sedikit sebuah atom nitrogen yang biasanya bersifat basa. Alkaloid berasal dari beberapa asam amino yang dibedakan atas alkaloid alilsiklik berasal dari asam amino ornitin dan lisin, alkaloid aromatik berasal dari fenilalanin dan tiroksin, dan alkaloid aromatik jenis indol berasal dari triptofan. Contoh struktur alkaloid ditunjukkan oleh gambar 2.2.

COOH

CH

NH2 NH2

Ornitin                                                     H

Indol

Terpenoid

Terpenoid yang ditemukan di alam sebagian besar merupakan komponen minyak atsiri. Terpenoid adalah kelompok senyawa yang memberikan rasa, bau, dan warna pada tumbuhan, biasanya terdapat pada daun dan buah untuk tanaman tingkat tinggi seperti pinus, sitrus, dsb (Bhal, 2001). Terpenoid mempunyai kerangka karbon yang dibangun oleh dua atau lebih unit C5 yang disebut isopren. Hasil penyulingan terfraksi dari minyak atsiri terdiri dari senyawa-senyawa golongan terpenoid yang mengandung 10 atom atau 15 atom karbon. Bahan-bahan alam lainnya selain minyak atsiri mengandung pula terpenoid dengan 20, 30 dan 40 atom karbon. Kelompok terpenoid didasarkan jumlah atom karbon dan sumbernya seperti pada tabel 2.1.

Kelompok Terpenoid Jumlah Karbon Sumber
Monoterpen

Seskuiterpen

Diterpen

Triterpen

Tetraterpen

Politerpen

C10

C15

C20

C30

C40

C>40

Minyak atsiri

Minyak atsiri

Resin pinus

Damar

Zat warna karoten

Karet alam

Contoh struktur terpenoid ditunjukkan oleh gambar 2.3.

Flavanoid

Flavanoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, dan biru, dan sebagian zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Flavanoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon. Di mana dua cincin benzen (C6) terikat pada suatu rantai propan (C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6. Susunan ini dapat menghasilkan tiga jenis struktur, yakni 1,3-diarilpropan atau flavonoid, 1,2-diarilpropan atau isoflavonoid, dan 1,1-diarilpropan atau neoflavonoid. Senyawa-senyawa flavonoid yang biasanya ditemukan di alam yaitu flavon, flavanol dan antosianidin. Senyawa isoflavonoid yaitu isoflavon, rotenoid dan kumestan, sedangkan neoflavonoid meliputi jenis-jenis 4-arilkumarin dan berbagai dalbergoin. Contoh struktur senyawa flavonoid ditunjukkan oleh gambar 2.4.

Flavanon

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap yaitu  tahap isolasi dan tahap identifikasi. Tahapan penelitian isolasi dilakukan di laboratorium kimia. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Manado di Tondano, dan untuk analisis senyawa menggunakan alat resonansi magnet inti proton (RMI-1H) dan (RMI-13C) dilakukan di pusat penelitian kimia (Puslit). Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Serpong, Tangerang, Indonesia.

3.2. Bahan dan Alat

3.2.1. Bahan

Bahan-bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah: daun pakoba merah segar, silika gel 60 ukuran 230 – 400 mesh (E Merck 93852) pelarut yang digunakan meliputi : Aguades, etanol 95% (Brataco) dan pelarut teknis: n-heksan, etil asetat, metanol dan butanol, yang telah didestilasi ulang. Untuk keperluan kromatografi lapis tipis digunakan lempeng aluminium silika gel 60 F254 (E. Merck 10554) dan sebagai penampak noda digunakan larutan H2SO4 10% dalam etanol.

3.2.2. Alat

Peralatan yang akan digunakan berupa alat gelas, alat pemisahan dan pemurnian dan alat analisis senyawa, alat-alat gelas yang digunakan meliputi: gelas kimia, gelas ukur, pipet, blender, botol eluat, chamber, pengaduk dan corong pisah, pemisahan dan pemurnian digunakan kolom kromatografi, alat analisis senyawa digunakan spektrometer resonansi magnetik inti proton (RMI-1H) dan RMI-13C). Peralatan lain yang juga digunakan dalam penelitian ini yaitu seperangkat alat penguap putar (Rotavapor Buchi) dan lampu UV camag/: 254 nm ; 366 nm.

3.3. Prosedur Kerja Isolasi

Daun pakoba merah segar dipetik, dipilih dan dikumpulkan yang berwarna hijau tua dan dibersihkan, daun segar dipotong kasar dan dihaluskan dengan blender. Sampel diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan etanol 95% selama 3 x 24 jam dan disaring kemudian filtratnya ditampung kemudian dievaporasi pada suhu ± 30-400C menghasilkan ekstrak kental etanol.

Ekstrak kental etanol daun pakoba merah ditambah dengan aguades selanjutnya di partisi dengan pelarut n-heksan didiamkan, dipisahkan lapisan n-heksan dan ditampung, sedangkan lapisan air  di partisi dengan pelarut etil asetat kemudian didiamkan dan dipisahkan lapisan etil asetat ditampung. Sedangkan lapisan air di partisi dengan pelarut butanol, didiamkan dan dipisahkan lapisan butanol yang selanjutnya lapisan butanol tersebut dievaporasi pada suhu 500C.

Beberapa miligram ekstrak kental butanol diambil dan digerus dengan silika gel kemudian di kromatografi kolom gravitasi gradien dengan menggunakan pelarut etil asetat metanol dalam berbagai perbandingan pelarut secara bergradien, eluat yang dihasilkan ditampung dan di kromatografi lapis tipis, eluat yang memberikan kromatogram dengan pola pemisahan yang sama digabungkan menjadi satu fraksi dan diuapkan. Isolat yang relatif murni dianalisis dengan RMI- 1H dan RMI- 13C.


Bagan Kerja

Daun Pakoba Merah

-   Dibersihkan

-   Dihaluskan

-   Dimaserasi dengan EtOH 95%

-   Disaring

Filtrat                                                                    Residu

- Di evaporasi suhu 400C

Ekstrak EtOH

- Suspensi dengan H2O

- Partisi dengan pelarut n-Heksan

Lapisan n-Heksan          Lapisan air

- Partisi dengan pelarut etil asetat

Lapisan etil asetat                     Lapisan air

- Partisi dengan pelarut butanol

Lapisan butanol                        Lapisan air

- Di evaporasi suhu 500C

Ekstrak kental butanol

- Kromatografi kolom gravitasi gradien

- Kromatografi lapis tipis

- Dikelompokkan kromatogram yang sama

I

-   Diuapkan

-   Uji kemurnian dengan KLT

- Identifikasi (NMR,1H, 13C)

Usulan Struktur


DAFTAR PUSTAKA

Achmad, S.A.1986. Kimia Organik Bahan Alam. Jakarta: Penerbit Karunika.

Bahl, A. 2001. A Textbook  of Organic Chemistry. New  Delhi: S Chand & Company Ltd.

Chang CW, Wu TS, Hsieh SC, Chao PL. 1999. Terpenoid of Syzygium formosanum. J. Nat. Prod. Vol 62. 327-328.

Charles R, Garg SN, Kumar S. 1998. An Orsellinic Acid Glucoside from Syzygium aromatica. Phytochemistry. Vol 49. No 5. pp 1375-1376.

Hamel, J. 2004. Penelusuran Senyawa Antidiabetes Dari Daun Jamblang [Eugenia cumini (L) DRUCE]., Skripsi. Jurusan Kimia , FMIPA – UNIMA: Tondano.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Diterjemahkan oleh badan Litbang Kehutanan Jakarta: Jakarta

http/www.phatparm.com/2005.Plant Secondary Metobalism.

Jumpowati, M.D.B.200I. Ekofisiologi Metabolit Sekunder Tanaman Obat. Sigma Vol. 3 No   2. 177-184

Mahmoud I, Marzouk M, Moharram M, El-Gindi M, Hassan A. 2001. Acylated flavonol glycosides from Eugenia jambolana leaves. Phytochemistry 58. 1239-1244.

Mann, J. 1994. Chemical Aspects of Biosynthesis. Oxford University Press.

Mumpuni, E., Amelia., Purwati, T ; dan Simajuntak, P 2004. Produksi Asam Lemak Oleat oleh Mikroba Endofit Sporodiobolus salmonicolor dari tumbuhan kina ( Cinchona pubescens Vah ). Alchemy., 3, (2), 16-21

Nair AGR, Krishnan S, Ravikhrishna, Madhusudanan KP. 1999. New and rare flavonol glycoside from leaves of Syzygium samarangense. Fitoterapia 70. 148-151.

Sumaryono, W.1999.Produksi Metabolit Sekunder Tanaman Secara Bioteknologi.Prosiding:Seminar Nasional Kimia Bahan Alam ’99.Hal 38.Universitas Indonesia-UNESCO.

Sutarjadi, 1999. Kaitan Penelitian Bahan Alam dengan Obat Tradisional.Prosiding: Seminar Nasional Kimia Bahan Alam ’99.Hal 10.Universitas Indonesia-UNESCO.

Tanaka T, Orii Y, Nonaka G, Nishioka I, Kouno I. 1996. Syzyginins A dan B, Two Ellagitannins from Syzygium aromaticum. Phytochemistry. Vol 43. No 6. pp 1345-1348.

  1. JUDUL : ANALISIS MODAL KERJA PADA PT. ASTRA INTERNASIONAL TBK DAN ANAK PERUSAHAAN
  2. B. LATAR BELAKANG MASALAH

Pembangunan di bidang ekonomi adalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan pembangunan nasional yang mempunyai peranan yang sangat penting yaitu sektor ekonomi menjadi tiang utama dalam pembangunan nasional.

Terdapat beberapa sektor yang  mendukung pelaksanaan pembangunan di bidang ekonomi di antaranya : sektor pemerintah, sektor koperasi dan sektor swasta. Di antara ketiga sektor tersebut, sektor swasta tidak kalah pentingnya di antara yang lainnya. Sektor swasta berperan secara langsung sebagai sektor mikro pemerintahan dalam memberikan kontribusi pada pelaksanaan peningkatan pembangunan. Untuk itu perlu adanya peningkatan baik kualitas maupun kuantitas produksi yang dihasilkan oleh perusahaan.

Setiap perusahaan selalu membutuhkan modal kerja untuk membelanjai operasinya sehari-hari, seperti untuk memberikan persekot pembelian bahan mentah, membayar upah buruh, gaji pegawai dan lain sebagainya, di mana uang atau dana yang telah dikeluarkan itu diharapkan akan kembali lagi masuk dalam perusahaan dalam waktu yang tidak terlalu lama melalui hasil penjualan produksinya. Dana yang masuk yang berasal dari penjualan produk tersebut akan segera dikeluarkan lagi untuk membiayai operasi sebelumnya. Dengan demikian maka dana tersebut akan terus menerus berputar setiap periodenya selama hidupnya perusahaan.

Murti Sumarni (1999 : 317) mengemukakan bahwa modal kerja bagi perusahaan yaitu modal yang dapat dan segera dijadikan uang kas dan digunakan untuk membelanjai keperluan sehari-hari.

Modal kerja secara umum dapat dipakai untuk mengukur apakah perusahaan mampu membayar kewajiban-kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi. Dengan pengaturan kerja yang maksimal, perusahaan akan mampu memenuhi kewajiban-kewajiban tersebut. Pengelolaan modal kerja dapat membantu pimpinan untuk pengembangan dan kemajuan perusahaan di waktu-waktu yang akan datang dengan lebih bonafit.

Dalam dunia usaha, banyak usaha yang kurang mampu mengatur atau mengelola modal kerja. Hal ini merupakan salah satu masalah yang rumit dihadapi oleh pimpinan atau pemilik usaha.

Demikian juga dengan PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk sebagai salah satu perusahaan terbesar di Indonesia yang merupakan bagian dari sektor swasta.

PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk didirikan pada tahun 1957 dan sampai saat ini memiliki banyak anak perusahaan yang bergerak dalam berbagai jenis bidang, yaitu dalam bidang distributor mobil Daihatsu, Isuzu, Toyota, BMW, Peugeot dan Nisan Disel. Selain itu juga sebagai distributor motor, khususnya motor Honda. PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk juga bergerak dalam bidang usaha rental kendaraan bermotor, seperti : Mobil dan Motor, juga bergerak dalam bidang agrobisnis, perbankan, asuransi, dan distributor peralatan berat.

Walaupun PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk sudah lama didirikan dan merupakan perusahaan besar dengan banyak anak perusahaan, perusahaan ini juga tidak luput dengan masalah-masalah yang dihadapi. Salah satu masalah yang dihadapi adalah banyaknya pesaing. Pasti setiap usaha apapun akan ada pesaing, di mana dengan berkompetitif diharapkan adanya perkembangan usaha.

Namun yang menjadi masalah di sini adalah dengan banyaknya pesaing selera konsumen berubah, sehingga harus menerapkan berbagai strategi dalam penjualan produk.

Masalah lain yang dihadapi oleh PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk adalah belum maksimalnya kualitas SDM pada anak perusahaan. Di mana sistem pengawasan manajemen akan karyawan kurang optimal. Dan dalam penjualan produk, karyawan ada yang belum memahami betul cara penghitungan penjualan kredit.

Piutang PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk juga mengalami peningkatan dan hal ini juga merupakan suatu masalah yang harus diperhatikan. Tahun 2004 jumlah piutang Rp. 3.605.920.000.000 namun pada tahun 2005 naik menjadi Rp. 5.379.750.000.000.

Selain mengalami peningkatan piutang, PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk juga mengalami kenaikan aktiva lancar yang tidak dibarengi dengan peningkatan kas. Pada tahun 2004 jumlah aktiva lancar Rp. 13.761.766.000.000 dan kas Rp. 5.326.131.000.000 dan pada tahun 2004 dan kas Rp. 3.938.633.000.000. Jika dilihat hal ini juga merupakan suatu masalah yang dihadapi perusahaan.

Pada pos investasi jangka pendek PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk mengalami penurunan, yaitu untuk tahun 2004 berjumlah Rp. 640. 652.000.000 dan tahun 2005 menurun menjadi Rp. 491.683.000.000 PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk juga mengalami peningkatan utang lancar. Tahun 2004 utang lancar Rp. 12.978.507.000.000 dan pada tahun 2005 mengalami peningkatan utang lancar menjadi RP. 14.603.140.000.000.

Masalah lain yang berpengaruh pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk adalah adanya peningkatan biaya usaha tanpa dibarengi dengan peningkatan laba usaha, dengan kata lain biaya usaha namun laba usaha turun. Untuk tahun 2004 biaya usaha berjumlah Rp. 5.337.965.000.000 dan laba usaha Rp. 4.975.438.000.000 dan pada tahun 2005 biaya usaha naik menjadi Rp. 7.305.902.000.000 dan laba usaha turun menjadi Rp. 6.413.974.000.000.

Untuk dana dalam membiayai kegiatan operasi perusahaan sehari-hari PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk juga mengalami peningkatan yaitu untuk tahun 2004 berjumlah Rp. 783.259.000.000 dan naik pada tahun 2005 menjadi Rp. 1.568.001.000.000. Hal ini merupakan suatu masalah dalam perusahaan, di mana dengan adanya peningkatan modal kerja perusahaan harus benar-benar dapat memanfaatkan modal kerja. Namun peningkatan modal kerja di sini diakibatkan adanya peningkatan piutang.

Dengan uraian masalah di atas dapat dilihat hampir semua masalah atau sebagian besar masalah berhubungan dengan modal kerja perusahaan, sehingga pimpinan PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk harus selalu aktif meneliti sumber dan pemanfaatan kerja agar modal kerja selalu berputar. Di mana modal kerja dalam perusahaan sangat penting. Dengan adanya pengelolaan modal kerja yang baik maka perusahaan dapat berlanjut dan likuid.

Untuk itu analisis modal kerja sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk bahkan setiap perusahaan.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul : “Analisis Modal Kerja Pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dan Anak Perusahaan”

 

  1. C. IDENTIFIKASI MASALAH
    1. Banyaknya pesaing
    2. Belum maksimalnya kualitas sumber daya manusia
    3. Terjadinya peningkatan piutang dari tahun 2004
    4. Terjadinya peningkatan aktiva lancar yang tidak dibarengi peningkatan kas.
    5. Adanya penurunan investasi jangka pendek dari tahun 2004.
    6. Terjadinya peningkatan biaya usaha tanpa dibarengi dengan peningkatan laba usaha.
    7. Terjadinya peningkatan dana dalam membiayai kegiatan  operasi perusahaan sehari-hari dari tahun 2004.

 

  1. D. PEMBATASAN MASALAH

Dari beberapa permasalahan di atas, penelitian ini hanya dibatasi pada: “Pemanfaatan modal kerja pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dan anak perusahaan”

 

  1. E. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan pada pembatasan masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimana pemanfaatan modal kerja pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dan anak perusahaan”

 

  1. F. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan utama penulis mengadakan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana tingkat efektif dan efisiensi pemanfaatan modal kerja pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dan anak perusahaan.

  1. G. MANFAAT PENELITIAN
    1. 1. Manfaat dari Segi Teoritis
      1. Mengembangkan pengetahuan penulis dalam memahami pemanfaatan modal kerja secara efektif dan efisien guna kelangsungan usaha.
      2. Sebagai bahan masukan pengetahuan di bidang keuangan terlebih khusus dalam menganalisis modal kerja.
      3. 2. Manfaat dari Segi Praktis
        1. Sebagai bahan masukan yang berharga bagi PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dalam memanfaatkan modal kerja secara efektif dan efisien.
        2. Diharapkan masukan dapat dijadikan bahan acuan untuk mengembangkan usahanya di masa yang akan datang.
        3. Merupakan sumbangan pemikiran yang dapat digunakan oleh PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dalam rangka pengambilan keputusan khususnya dalam bidang keuangan.
    2. H. LANDASAN TEORI
      1. 1. Pengertian Modal

Perusahaan atau badan usaha adalah suatu unit ekonomi yang memanfaatkan faktor-faktor produksi berupa bahan baku, bahan penolong, teknologi, modal dan sebagainya untuk diproses menjadi produk lain yang mempunyai daya guna dan nilai guna yang lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Jadi perusahaan memerlukan berbagai faktor produksi yang diperlukan.

Modal adalah salah satu faktor produksi yang penting di antara berbagai faktor produksi yang diperlukan. Bahkan modal merupakan faktor produksi penting untuk pengadaan faktor produksi seperti tanah, bahan baku dan mesin. Tanpa modal tidak mungkin dapat membeli tanah bahan baku dan teknologi lain.

J. Fred Weston dan Thomas E. Copeland mengemukakan modal adalah suatu aktiva dengan umur lebih dari satu tahun yang tidak diperdagangkan dalam kegiatan bisnis sehari-hari. (Suyadi Prawirosentono 2002 : 365)

Modal bersumber dari investasi oleh para pemilik dan keuntungan-keuntungan salam perusahaan masih beroperasi. (Khusnadi 2002 : 365).

Menurut Schwiedland modal adalah meliputi modal dalam bentuk uang (geldkapital) maupun  dalam bentuk barang (sachkapital), misalnya mesin, barang-barang dagangan dan lain sebagainya. (Bambang Riyanto 2001 : 18).

Melihat konsep modal di atas dengan demikian penulis mengambil kesimpulan bahwa modal merupakan alat-alat lancar yang penting yang sangat diperlukan oleh perusahaan untuk menjalankan aktivitas yang terdiri dari uang kas, mesin, gedung dan barang-barang yang dibutuhkan perusahaan.


  1. 2. Pengertian Modal Kerja

Dalam operasinya perusahaan selalu membutuhkan dana harian misalnya untuk membeli bahan mentah, membayar gaji karyawan, membayar rekening listrik, membayar biaya transportasi, membayar hutang dan sebagainya. Dana yang dialokasikan tersebut diharapkan akan diterima kembali dari hasil penjualan produk yang dihasilkan dalam waktu tidak lama (kurang dari 1 tahun). Uang yang diterima tersebut dipergunakan lagi untuk kegiatan operasi perusahaan selanjutnya, dan seterusnya dana tersebut diputar selama perusahaan masih beroperasi.

Dana yang dipergunakan untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan sehari-hari disebut modal kerja. (Martono 2005 : 72).

Modal kerja (working capital) adalah investasi perusahaan di dalam aktiva jangka pendek seperti kas, sekuritas (surat-surat berharga), piutang dagang dan persediaan (J. Fred Weton dan Eugene F. Brigham 1996 : 157).

Wilford J. Eitemen dan J.H. Holts (2001) mendefinisikan modal kerja sebagai dana yang digunakan selama periode accounting yang dimaksudkan untuk menghasilkan “current income” (sebagai lawan dari future income) yang sesuai dengan maksud utama didirikan perusahaan tersebut.

Modal kerja adalah selisih antara aktiva lancar (current assets) dengan pasiva lancar (current liability). (Suyadi Prawirosentono 2002 : 129)

Modal kerja merupakan suatu unsur aktiva yang sangat penting dalam perusahaan. Karena tanpa modal kerja perusahaan tidak dapat memenuhi kebutuhan dana untuk menjalankan aktivanya. Masa perputaran modal kerja yakni sejak kas ditanamkan pada elemen-elemen modal kerja hingga menjadi kas lagi, adalah kurang dari satu tahun atau berjangka pendek. Masa perputaran modal kerja tersebut. Semakin cepat masa perputaran modal kerja semakin efisien penggunaan modal kerja dan tentunya investasi pada modal kerja semakin kecil.

Sumber dana berjangka pendek ditunjukkan oleh hutang lancar pada neraca. (Sutrisno, 2005 : 43)

Modal kerja adalah modal yang tertanam dalam aktiva lancar (Napa J. Awat, 1999 : 4008)

Bambang Riyanto (2001 : 57) mengemukakan konsep untuk lebih memahami pengertian modal kerja, konsep modal kerja (working capital) tersebut antara lain :

  1. Konsep kuantitatif

Konsep ini mendasarkan pada kuantitas dari dana tertanam dalam unsur-unsur aktiva lancar di mana aktiva ini merupakan aktiva yang sekali berputar kembali dalam bentuk semula atau aktiva di mana dana yang tertanam di dalamnya akan dapat bebas lagi dalam waktu yang pendek.

Dengan demikian modal kerja menurut konsep ini adalah keseluruhan dari jumlah aktiva lancar. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja bruto (gros working capital)

  1. Konsep kualitatif

Apabila konsep kuantitatif modal kerja itu hanya dikaitkan dengan besarnya jumlah aktiva lancar saja, maka pada konsep kualitatif ini pengertian modal kerja juga dikaitkan dengan besarnya jumlah utang lancar atau utang yang harus segera dibayar. Dengan demikian maka sebagian dari aktiva lancar ini harus disediakan untuk memenuhi kewajiban finansial yang segera harus dilakukan, di mana bagian aktiva lancar ini tidak boleh digunakan untuk membiayai operasinya perusahaan untuk menjaga likuiditasnya. Oleh karenanya maka modal kerja menurut konsep ini adalah sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasinya perusahaan tanpa mengganggu likuiditasnya, yaitu yang merupakan kelebihan aktiva tetap lancar di atas utang lancar. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja neto (net working capital).

  1. Konsep Fungsional

Konsep ini mendasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan pendapatan (income) setiap dana yang dikerjakan atau digunakan dalam perusahaan adalah dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan. Ada sebagian dana yang digunakan dalam suatu periode accounting tertentu yang seluruhnya langsung menghasilkan pendapatan bagi periode tersebut (current income) dan ada sebagian dana lain yang juga digunakan selama periode tersebut tidak seluruhnya digunakan untuk menghasilkan current income.

Dari ketiga konsep di atas dapat dilihat pengertian modal kera yang lebih spesifik. Dan dalam penelitian hanya membatasi modal kerja pada salah satu konsep yaitu lebih menitik beratkan modal kerja pada konsep kualitatif.

  1. 3. Jenis-Jenis Modal Kerja

W.B. Taylor menggolongkan modal kerja, sebagai berikut :

  1. Modal kerja permanen (permanen working capital) yaitu modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya, atau dengan kata lain modal kerja yang secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha permanen working capital ini dapat dibedakan dalam :
    1. Modal kerja primer (primary working capital) yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.
    2. Modal kerja normal (variable working capital) yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas  produksi yang normal.
    3. Modal kerja variabel (variable working capital) yaitu modal kerja yang berubah-ubah sesuai dengan persawahan keadaan, dan modal kerja ini dibedakan antara :
      1. Modal kerja musiman (seasonal working capital) yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim.
      2. Modal kerja siklis (cyclical working caopital) yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi konjungtur.
      3. Modal kerja darurat (emergeng working capital) yaitu modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya.

(Bambang Riyanto, 2001 : 61)

  1. 4. Kebijaksanaan Modal Kerja

Kebijaksanaan modal kerja merupakan strategi yang diterapkan oleh perusahaan dalam rangka memenuhi kebutuhan modal kerja dengan berbagai alternatif sumber dana. Seperti diketahui bahwa sumber dana untuk mengetahui modal kerja bisa dipilih dari sumber dan berjangka panjang atau sumber dana berjangka pendek masing-masing alternatif mempunyai konsekuensi dan kentungan. Modal kerja pada dasarnya adalah dana yang masa perputarannya berjangka pendek, tapi karena ada dana (modal kerja) yang selalu harus ada dalam perusahaan (modal kerja permanen) artinya dana tersebut harus ada dalam jangka panjang, maka perlu kebijaksanaan untuk mencari sumber pembelanjaan sehingga diperoleh biaya dana yang paling murah.

Kebijaksanaan modal kerja apa yang harus diambil oleh perusahaan ini tergantung dari seberapa besar keberanian mengambil risiko. Kebijaksanaan modal kerja yang bisa diambil adalah :

  1. Kebijaksanaan Konservatif

Rencana pemenuhan dana konservatif merupakan rencana pemenuhan dana modal kerja yang lebih banyak menggunakan sumber dana jangka panjang dibandingkan sumber dana jangka pendek. Dalam kebijakan ini modal kerja permanen dan sebagian modal kerja variabel dipenuhi oleh sumber dana jangka panjang, sedangkan sebagian modal kerja variabel lainnya dipenuhi dengan sumber dana jangka pendek. Kebijaksanaan ini disebut konservatif (hati-hati), karena sumber dana jangka panjang mempunyai jatuh tempo yang lama, sehingga perusahaan memiliki keleluasaan dalam pelunasan kembali artinya perusahaan mempunyai tingkat keamanan atau margin of safety yang besar.

  1. Kebijaksanaan Moderat

Pada kebijakan atau strategi pendanaan ini perusahaan membiayai setiap aktiva dengan dana yang jangka waktunya kurang lebih sama dengan jangka waktu tetap dan aktiva tersebut. Artinya aktiva yang bersifat permanen yakni aktiva tetap dan modal kerja permanen akan didanai dengan sumber dana jangka panjang, dan aktiva yang bersifat variabel atau modal kerja variabel akan didanai dengan sumber dana jangka pendek. Kebijakan ini didasarkan atas prinsip matching prinsiple yang menyatakan bahwa jangka waktu sumber dana sebaiknya disesuaikan dengan lamanya dana tersebut diperlukan. Bila dana yang diperlukan hanya untuk jangka pendek maka sebaliknya didanai dengan sumber dana jangka pendek, demikian pula kalau dana tersebut diperlukan untuk jangka panjang maka sebaiknya didanai dengan sumber dana jangka panjang. Dengan demikian risiko yang dihadapi hanya berupa terjadinya penyimpangan aliran kas yang diharapkan oleh karena itu kesulitan yang dihadapi adalah memperkirakan jangka waktu skedul arus kas bersih dan pembayaran hutang, yang selalu terdapat unsur ketidakpastian. Dan pada kebijakan ini akan muncul trade-oof antar profitabilitas dan risiko. Semakin besar margin of safety yang ditentukan untuk menutup penyimpangan arus kas bersih semakin aman bagi perusahaan, tetapi harus menyediakan dana yang jangka waktunya melebihi kebutuhan dana yang akan digunakan, akibatnya akan terjadi waktunya melebihi kebutuhan dana yang akan digunakan, akibatnya akan terjadi dana menganggur dan hal ini akan menurunkan profitabilitas. Dengan kata lain bila risiko rendah akan mengakibatkan profitabilitas juga rendah.

  1. Kebijakan Agresif

Bila pada kebijakan konservatif perusahaan lebih mementingkan  faktor keamanan sehingga margin of safety-nya sangat besar, tetapi tentunya akan mengakibatkan tingkat profitabilitas menjadi rendah. Sebaliknya dengan kebijakan agresif, maka sebagian kebutuhan dana jangka panjang akan dipenuhi dengan sumber dana jangka pendek. Pada pendekatan ini perusahaan berani menanggung risiko yang cukup besar, sedangkan trade-off yang diharapkan adalah memperoleh profitabilitas yang lebih besar.

(Sutrisno, 2005 : 46)

  1. 5. Sumber Modal Kerja

Sumber modal kerja perusahaan umumnya dari hasil operasi perusahaan. Misalnya, jumlah laba bersih yang tertera laporan perhitungan laba rugi, cadangan depresiasi dan amcitisasi. Jumlah modal kerja dapat pula berasal dari keuntungan yang ditahan (relatained carning). Jadi, adanya laba yang tidak diambil oleh pemegang saham, berarti laba tersebut dapat menambah modal kerja perusahaan.

Biaya operasi perusahaan terdiri dari biaya yang memerlukan pengeluaran uang atau menimbulkan utang yang menggunakan modal kerja. Misalnya, upah, gaji, premi asuransi dan sebagainya. Ada biaya yang tidak memerlukan pengeluaran uang pada saat itu dalam bentuk utang yang akhirnya harus dibayar dengan menggunakan modal kerja. Misalnya cadangan depresiasi, amortisasi dari diskonto obligasi dan sebagainya.

(Suyadi Prawirosentono, 2002 : 134).

  1. 6. Perputaran Modal Kerja

Modal kerja selalu dalam keadaan operasi atau berputar dalam perusahaan selama perusahaan yang bersangkutan dalam keadaan usaha. Periode perputaran modal kerja (woring capital turnover period) dimulai dari saat di mana kas diinvestasikan dalam komponen-komponen modal kerja sampai saat di mana kembali lagi menjadi kas.

Makin pendek periode tersebut berarti makin cepat perputarannya atau makin tinggi tingkat perputarannya (turnover rate-nya). Berapa lama periode perputaran modal kerja adalah tergantung kepada berapa lama periode perputaran dari masing-masing komponen dari modal kerja tersebut. (Bambang Riyanto 2001 : 62).

  1. 7. Jumlah Kebutuhan Akan Modal Kerja

Besarnya modal kerja baik yang bersifat permanen maupun variabel perlu ditentukan dengan baik agar efektif dan efisien. Penggunaan modal kerja yang tidak direncanakan dengan baik mengakibatkan modal kerja yang ada tidak digunakan sesuai dengan kebijakan yang ada. Pada umumnya modal kerja itu ditentukan oleh beberapa faktor, seperti :

  1. Cara penjualan kredit atau tunai.
  2. b. Kebijakan mengenai persediaan (inventor) termasuk EOQ dan reorder point.
  3. Kebijakan mengenai saldo kas. Atau dengan kata lain jumlah modal kerja itu tergantung dari tingkat operasi perusahaan.

Kebijakan penjualan secara kredit memang mempengaruhi jumlah kebutuhan akan modal kerja, karena apabila perusahaan menjual dengan tunai berarti pada saat transaksi dilakukan, perusahaan langsung menerima uang tunai yang dapat secara langsung pula digunakan untuk membiayai operasi berikutnya.

Jadi bagi perusahaan yang selalu menjual dengan tunai tidak memerlukan modal kerja yang besar dibandingkan dengan perusahaan yang menjual produknya dengan kredit yang berarti pada saat transaksi dilakukan harga barang itu belum diterima, sedangkan proses produksi tetap berjalan.

Demikian pula dengan perusahaan yang EOQ-nya dengan jumlah yang besar, akan memerlukan modal kerja yang besar pula dibandingkan dengan perusahaan yang EOQ-nya kecil. Perusahaan yang memerlukan safety stock yang besar akan memerlukan modal kerja yang besar pula dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki safety stock kecil. Pengaruh saldo kas sama dengan pengaruh EOQ.

Untuk menentukan besarnya jumlah kebutuhan akan modal kerja dapat digunakan beberapa metode, yaitu :

  1. Metode keterikatan dana dan pengeluaran kas

Dengan metode ini harus terlebih dahulu menentukan berapa jumlah pengeluaran kas setiap hari dan berapa lama itu terikat. Pengeluaran kas per hari itu biasanya untuk pembayaran upah tenaga kerja, dan untuk membayar harga bahan baku. Sedangkan lama dana itu terikat adalah jumlah waktu yang diperlukan saat pelepasan dana untuk pembelian bahan baku dan pembayaran upah tenaga kerja sehingga proses produksi, penjualan produk dan penerimaan kembali piutang dalam bentuk kas.

  1. Metode perputaran modal kerja

Dengan metode ini, kebutuhan modal kerja dapat ditentukan dengan cara membagi taksiran penjualan dengan perputaran modal kerja tahun lalu. Perputaran modal kerja tahun lalu itu diperoleh dengan cara membagi penjualan tahun lalu dengan rata-rata modal kerjanya.

Perputaran modal kerja dapat pula dicari dengan cara membagi 360 hari dengan jumlah keterikatan dana. Jumlah keterikatan dana dalam model kerja ini dapat diperoleh dengan cara jumlah keterikatan dana dalam kas, piutang, dan                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              dalam persediaan.

  1. Metode Cash Flow

Metode ini mendasarkan diri pada aliran kas masuk atau cash inflow (CIF) dan aliran kas keluar atau out flow (COF).

Kelebihan CIF di atas COF disebut aliran kas masuk bersih atau net cash inflow (NCIF). Perhitungan NCIF ini dilakukan setiap bulan. Jadi apabila NCIF ternyata negatifnya NCIF itu. Sedangkan apabila NCIF positif maka modal kerja tidak diperlukan. Metode ini tidak lain adalah metode penentuan modal kerja dengan menggunakan budget kas.

(Napa J. Awat, 1999 : 412).

  1. 8. Manajemen Modal Kerja

Manajemen modal kerja (working capital management) merupakan manajemen dari elemen-elemen aktiva lancar dan elemen-elemen hutang lancar (Martono 2005 : 72). Manajemen modal kerja (working capital management) mengacu pada semua aspek penata laksanaan aktiva lancar dan hutang lancar. (J. Fred Weton dan Eugene F. Brighan, 1996 : 157).

Kebijakan modal kerja (working capital policy) menunjukkan keputusan-keputusan mendasar mengenai target masing-masing elemen (unsur) aktiva lancar dan bagaimana aktiva lancar dibelanjai. Tujuan manajemen modal kerja adalah mengelola aktiva lancar dan hutang lancar sehingga diperoleh modal kerja neto yang layak dan menjamin tingkat likuiditas perusahaan.

Manajemen modal kerja yang sehat membutuhkan pengertian tentang interelasi aktiva lancar dengan hutang lancar serta antar modal kerja dan modal/investasi jangka panjang. Walaupun telaah manajemen modal kerja belum sedalam penelitian keputusan di bidang permodalan dan investasi jangka panjang, tetapi manajemen modal kerja yang tepat merupakan syarat keberhasilan suatu perusahaan. Sebagaimana kita lihat kebanyakan kepailitan timbul karena lemahnya kebijakan dan keputusan di bidang modal kerja. Manajemen modal kerja menentukan posisi likuiditas perusahaan. Manajemen modal kerja meliputi :

  1. Manajemen Kas

Setiap perusahaan dalam menjalankan usahanya selalu membutuh kas. Kas diperlukan baik untuk membiayai operasi perusahaan sehari-hari maupun untuk mengadakan investasi baru dalam aktiva tetap. Pengeluaran kas suatu perusahaan dapat bersifat terus menerus atau kontinu, yaitu : pembayaran bunga, dividen, pajak penghasilan, pembayaran angsuran utang, pembelian kembali saham perusahaan, pembelian aktiva tetap, dan lain sebagainya.

Kas adalah salah satu unsur modal kerja yang paling tinggi tingkat likuiditasnya. Makin besar jumlah kas yang ada dalam perusahaan maka tinggi tingkat likuiditasnya. Tapi makin besarnya kas yang ada dalam perusahaan makin banyaknya uang yang menganggur sehingga akan memperkecil profitabilitas perusahaan.

Dengan demikian perlu dilakukan usaha pengelolaan (manajemen) kas yang efektif dan efisien sehingga pemanfaatan kas tersebut dapat optimal. Dengan kata lain tujuan manajemen kas adalah untuk menentukan kas minimum yang selalu harus tersedia agar selalu dapat memenuhi kewajiban pembayaran yang sudah jatuh tempo.

  1. Manajemen piutang

Dalam rangka usaha untuk memperbesar volume penjualannya kebanyakan perusahaan menjual produknya dengan kredit. Penjualan kredit tidak segera menghasilkan penerimaan kas, tetapi menimbulkan piutang langganan dan barulah kemudian pada hari jatuh tempo t5erjadi aliran kas masuk yang berasal dari pengumpulan piutang tersebut.

Dengan demikian maka piutang (receivables) merupakan elemen modal kerja yang juga selalu dalam keadaan berputar secara terus menerus dalam ratai perputaran modal kerja.

Dalam keadaan yang normal dan di mana penjualan pada umumnya dilakukan dengan kredit, piutang mempunyai tingkat likuiditas yang lebih tinggi dari pada inventor, karena perputaran dari piutang ke kas membutuhkan satu langkah saja.

Manajemen piutang merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan yang menjual produknya dengan kredit. Manajemen piutang terutama menyangkut masalah pengendalian jumlah piutang, pengendalian pemberian dan pengumpulan piutang dan evaluasi terhadap politik kredit yang dijalankan perusahaan.

Tujuan pengelolaan piutang ini adalah untuk meningkatkan volume penjualan kredit dan memperkecil kemungkinan timbulnya risiko rugi dari penjualan kredit itu.

  1. Manajemen Persediaan

Inventor atau persediaan barang sebagai elemen utama dari modal kerja merupakan aktiva yang selalu dalam keadaan berputar, di mana secara terus menerus mengalami perubahan.

Dari segi negara persediaan adalah barang-barang atau bahan yang masih tersisa pada tanggal neraca atau barang-barang yang akan segera dijual, dipergunakan atau diproses dalam periode normal perusahaan. Dalam perusahaan manufaktur terdapat jenis-jenis persediaan seperti persediaan barang jadi (inventory of finished good), persediaan barang setengah jadi (inventor of work in procces, dan persediaan bahan baku atau mentah (inventor of row material). Persediaan sangat berkaitan dengan kegiatan penjualan produksi dan likuiditas.

  1. 9. Pentingnya Manajemen Modal Kerja

Ada beberapa alasan yang mendasari pentingnya manajemen modal kerja, yaitu :

  1. Aktiva lancar dari perusahaan baik perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa memiliki jumlah yang cukup besar dibanding dengan jumlah aktiva secara keseluruhan.
  2. Untuk perusahaan kecil, hutang jangka pendek merupakan sumber utama bagi pandangan eksternal. Perusahaan ini tidak memiliki akses pada pasar modal untuk pendanaan jangka panjangnya.
  3. Manajer keuangan dari anggotanya perlu memberikan porsi waktu yang sesuai untuk pengelolaan tentang hal-hal yang berkaitan dengan modal kerja.
  4. Keputusan modal kerja berdampak langsung terhadap tingkat risiko, laba, dan harga saham perusahaan.
  5. Adanya hubungan langsung antara pertumbuhan penjualan dengan kebutuhan dana untuk membelanjai aktiva lancar.

(Martono, 2005 : 74).

 

  1. I. KERANGKA BERPIKIR

Modal kerja merupakan suatu hal yang sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh perusahaan. Di mana modal kerja adalah dana yang dipergunakan untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan sehari-hari. Karena itu, adalah sangat bermanfaat bila modal kerja   PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dikaji demi kepentingan pengambilan keputusan yang tepat. Modal kerja PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk adalah tumpuan terlaksananya kegiatan operasi perusahaan itu sehari-hari dengan melihat lebih jauh mengenai pengalokasiannya pada aktiva lancar dan utang lancarnya maka akan didapatkan gambaran yang lebih jelas perilaku modal kerja di           PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk, sehingga akan terlihat apakah modal kerja di PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk telah tepat digunakan dalam hal pembiayaan kegiatan operasi perusahaan sehari-hari atau pengalokasiannya tidak efektif dan efisien.

Aktiva lancar dan utang lancar yang ada pada  PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk adalah menjadi fokus penelitian ini karena dari pengolahannya yang berorientasi pada waktu yang sehari-hari akan memberikan informasi demi termanfaatkannya modal kerja.

 

  1. J. METODOLOGI PENELITIAN
    1. 1. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan atau hubungan dengan variabel lain. (Sugiyono, 2003). Dan dengan metode ini dapat mengetahui dan memaparkan keadaan nyata pemanfaatan modal kerja pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dan anak perusahaan.

  1. 2. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Variabel penelitian yang digunakan adalah variabel modal kerja. Modal kerja adalah dana yang dipergunakan untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan sehari-hari. (Martono, 2005 : 72).

 

Indikator-indikator dari variabel modal kerja adalah :

  1. Aktiva lancar
  • Kas
  • Investasi jangka pendek
  • Piutang usaha
  • Piutang lain-lain
  • Persediaan
  • Pajak dibayar di muka
  • Pembayaran di muka lainnya
  1. Utang lancar
  • Pinjaman jangka pendek
  • Hutang usaha
  • Hutang lain-lain
  • Uang jaminan pembelian dari pelanggan dan uang muka penjualan
  • Hutang pajak
  • Beban yang masih harus dibayar
  • Pendapatan ditangguhkan
  • Kewajiban destinasi
  • Bagian jangka pendek dan hutang jangka panjang :

-       Pinjaman bank dan pinjaman lain-lain

-       Hutang obligasi

-       Hutang sewa guna usaha

  1. 3. Teknik Pengambilan Sampel

Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari populasi, yaitu data laporan keuangan PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk selama 3 tahun terakhir dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2006.

  1. 4. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang akurat maka peneliti menggunakan teknik dokumenter sebagai teknik pengumpulan data yaitu mengambil data tentang laporan keuangan selama 3 tahun terakhir pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk dan anak perusahaan melalui media internet.

  1. 5. Teknik Analisis Data

 

Untuk menganalisis data menggunakan analisis non statistik dengan menggunakan analisis keuangan yaitu analisis likuiditas. Di mana analisis likuiditas sama dengan analisis modal kerja, dengan rumus yang digunakan :

  1. Current Ratio, untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar.

Current Ratio :

  1. Cash Ratio, untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan.

Cash Ratio :

  1. Quick (acid test) ratio, untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar utang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar yang lebih likuid.

Quick ratio :

  1. Working capital to total assets ratio, untuk mengukur tingkat likuiditas dari total aktiva dan modal kerja (neto).

Working capital to total assets ratio

Aktiva lancar-utang lancar

Jumlah aktiva

(Bambang Riyanto, 2001 : 322)

  1. 6. Tempat dan Waktu Penelitian
    1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk pusat dan media internet.

  1. Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini dilakukan sejak proposal disetujui atau izin survey dikeluarkan, yaitu selama ± 3 bulan.

DAFTAR PUSTAKA

Awat J. Napa, Manajemen Keuangan Pendekatan Matematis, PT. Gramedia Pustaka, Jakarta, 1999.

 

Manaronsong Johny, Metodologi Penelitian Ekonomi, Jurusan Ekonomi Fakultas Ilmu Sosial UNIMA, Tondano, 2005.

 

Martono Harjto Agus, Manajemen Keuangan, Ekonisia Kampus Fakultas Ekonomi UII, Yogyakarta, 2005.

 

Prawirosentono Suyadi, Pengantar Bisnis Modern (Studi Kasus Indonesia dan Analisis Kualitatif), Bumi Aksara, Jakarta, 2002.

 

Riyanto Bambang, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi 5, BPFE, Yogyakarta, 2001.

 

Sutrisno, Manajemen Keuangan (Teori, Konsep dan Aplikasi), Ekonisia, 2005.

 

Weton Fred J. Brigham F. Eugene, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Edisi Ketujuh Jilid 1, Erlangga, Jakarta, 1996.

www.astra.co.id

 

 

 

 

 

Proposal Penelitian

ANALISIS MODAL KERJA

PADA PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

 


 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

FAKULTAS ILMU SOSIAL

JURUSAN EKONOMI

2006

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.